PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran numerasi di sekolah dasar tidak selalu memerlukan teknologi canggih atau metode yang rumit. Melalui kolaborasi antara Tanoto Scholars Association (TSA) Universitas Riau (Unri) dan Tanoto Fellow Riau, pembelajaran numerasi justru dihadirkan dalam suasana yang menyenangkan melalui pendekatan bermain (play-based learning).
Melalui rilis yang diterima Riau Pos dari Media and Commnunication Coordinator Tanoto Foundation Dede Suhendra dijelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari implementasi Signature Project TSA Universitas Riau yang mengusung semangat pay it forward, yaitu mendorong para penerima manfaat Program Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation untuk berbagi pengetahuan dan bagi masyarakat. Berkolaborasi dengan Tanoto Fellow Riau, Ghefira Anedin dan Eka Hermansyah, program ini menyasar peserta didik dan guru di SDN 57 Pekanbaru, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Besok, SPMB Tingkat SDN dan SMPN di Inhu Dimulai, Segini Kuota Penerimaan Murid Baru TP 2026/2027
”Kolaborasi ini berangkat dari masih adanya tantangan dalam capaian numerasi peserta didik di Provinsi Riau. Berbagai indikator pada Rapor Pendidikan menunjukkan bahwa penguatan kompetensi numerasi masih menjadi salah satu prioritas peningkatan mutu pembelajaran. Menjawab tantangan tersebut, tim menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aktif melalui pendekatan play-based learning,” terang Dede Suhendra, Senin (29/6).
Salah satu kegiatan utama adalah permainan numerasi menggunakan Face Changing Cube (FCC), yaitu media berbentuk kubus yang dapat disusun menjadi berbagai pola sesuai tantangan yang diberikan. Permainan ini memadukan kemampuan berhitung, penalaran logis, strategi, serta pemecahan masalah dalam suasana belajar yang kolaboratif.
Baca Juga: 314 Mahasiswa Baru Unri Tak Daftar Ulang, Kuota Dialihkan ke Jalur Mandiri
Dalam pelaksanaannya, peserta didik dibagi ke dalam kelompok kecil berdasarkan hasil pre-test. Setiap kelompok menjawab soal-soal numerasi yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan mereka. Jawaban yang benar memberikan kesempatan memperoleh satu kubus FCC yang digunakan untuk menyusun pola tertentu. Kelompok yang paling cepat dan tepat menyelesaikan tantangan berhak menekan bel sebagai penanda kemenangan.
Melalui mekanisme tersebut, siswa tidak hanya berlatih kemampuan numerasi, tetapi juga mengembangkan keterampilan bekerja sama, berkomunikasi, berpikir kritis, dan menyusun strategi bersama teman sekelompok. Suasana kelas pun menjadi lebih hidup karena proses belajar berlangsung melalui permainan yang kompetitif sekaligus menyenangkan.(ali)
Editor : Arif Oktafian