PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Keterbatasan ruang dan mahalnya perangkat drum elektronik menjadi tantangan bagi banyak orang yang ingin belajar maupun berlatih memainkan alat musik drum.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika Politeknik Caltex Riau (PCR), Nur Iman Saputra, menghadirkan inovasi berupa drum virtual berbasis sensor akselerometer, magnetometer, dan protokol ESP-NOW sebagai proyek tugas akhirnya.
Inovasi tersebut dikembangkan sebagai syarat menyelesaikan pendidikan Sarjana Terapan Teknik (STrT). Melalui proyek bertajuk "Rancang Bangun Drum Virtual Berbasis Sensor Akselerometer, Magnetometer dan Protokol ESP-NOW", Nur Iman menghadirkan sebuah instrumen musik digital yang mampu memberikan pengalaman bermain drum layaknya menggunakan perangkat asli, namun dengan ukuran yang jauh lebih ringkas dan mudah dibawa.
Baca Juga: PCR Terapkan Hidroponik Tenaga Surya ke 5 SLB di Pekanbaru
"Latar belakang pengembangan alat ini adalah memberikan solusi atas keterbatasan drum akustik maupun drum elektronik yang umumnya berukuran besar dan kurang praktis. Sementara drum virtual berbasis software memang lebih sederhana, tetapi masih belum mampu menghadirkan sensasi alami saat memukul drum," ujar Nur Iman.
Sistem yang dikembangkan memanfaatkan sensor akselerometer untuk mendeteksi gerakan pukulan stik, sedangkan sensor magnetometer digunakan untuk mengenali posisi atau instrumen drum yang dimainkan. Seluruh data kemudian dikirim secara nirkabel menggunakan protokol ESP-NOW menuju modul receiver yang berfungsi sebagai USB MIDI, sebelum diteruskan ke perangkat lunak Digital Audio Workstation (DAW), seperti FL Studio, untuk menghasilkan suara drum secara real time.
Perangkat tersebut terdiri atas tiga modul utama. Modul stik dilengkapi ESP32, sensor MPU6050, dan HMC5883L untuk mendeteksi pukulan. Modul pedal menggunakan ESP32 dan sensor piezoelektrik sebagai pendeteksi injakan, sedangkan modul receiver menerima seluruh data dari kedua modul sebelum mengirimkannya ke komputer.
Baca Juga: Pacu Jalur Tradisional 2026 Perlu Dana Rp6,6 Miliar, Pemkab pun Buka Peluang Sponsor Jalur
Menurut Nur Iman, salah satu keunggulan alat yang dikembangkannya adalah tingkat portabilitas yang tinggi. Pengguna tidak lagi memerlukan satu set drum elektronik yang besar untuk berlatih.
"Selain lebih ringkas, alat ini juga memiliki fitur pergantian preset suara drum melalui tombol preset sehingga pengguna dapat memilih karakter suara sesuai kebutuhan," jelasnya.
Di balik proses pengembangannya, ia mengaku sempat menghadapi tantangan dalam menghasilkan suara instrumen yang konsisten. Awalnya, sistem hanya mengandalkan sensor akselerometer dan giroskop sehingga suara yang dihasilkan sering berubah meski titik pukulan sama.
Baca Juga: Bupati Asmar Sidak RSUD Meranti Usai Terima Catatan Buruk dari Dewan Pengawas
Permasalahan tersebut akhirnya teratasi setelah menambahkan sensor magnetometer yang mampu mengenali zona instrumen berdasarkan medan magnet bumi, sehingga identifikasi instrumen menjadi lebih stabil dan akurat.
Hasil pengujian menunjukkan performa yang cukup menjanjikan. Drum virtual mampu menghasilkan latensi sekitar 53,3 milidetik, sehingga jeda antara pukulan dan suara yang keluar hampir tidak terasa oleh pengguna.
Melalui inovasi ini, Nur Iman berharap perangkat yang dikembangkannya dapat menjadi alternatif instrumen musik digital yang lebih portabel, ekonomis, serta mendukung proses pembelajaran musik maupun riset di bidang mekatronika. Teknologi tersebut juga dinilai mampu memperkaya pembelajaran mengenai sensor gerak, komunikasi data nirkabel, dan pengolahan audio digital.
Ke depan, ia berencana mengembangkan sistem tersebut agar terintegrasi dengan teknologi Virtual Reality (VR) sehingga pengalaman bermain drum menjadi semakin imersif.
"Saya berharap penelitian ini tidak hanya menjadi syarat memperoleh gelar Sarjana Terapan Teknik, tetapi juga dapat menjadi referensi akademik dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan teknologi mekatronika serta instrumen musik digital di Indonesia," tutupnya.
Editor : Rinaldi