Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mussolini (3)

Hary B Koriun • Minggu, 25 Mei 2025 - 10:55 WIB
Hary B Koriun
Hary B Koriun

BENITO Mussolini sebenarnya seorang intelektual. Itu terlihat dari rekam jejaknya sebelum dia menjadi diktaktor yang mengamalkan secara text book ajaran George Freiderick Hegel dan Freiderick Nietzsche tentang totaliterisme. Pada bulan Februari 1909, Mussolini meninggalkan Italia. Dia menerima pekerjaan sebagai Sekretaris Partai Buruh di kota berbahasa Italia, Trento, yang pada waktu itu masih bagian dari Austria-Hungaria --sekarang sudah menjadi bagian dari wilayah Italia. Ia juga bekerja di kantor Partai Sosialis di sana, dan membantu penyuntingan koran partai, L’Avvenire del Lavatore. Setelah kembali ke Italia, ia sempat menghabiskan waktu di Milano. Pada tahun 1910 ia kembali ke rumahnya di Forli, tempat ia menyunting media mingguan, Lotta di Classe --Perjuangan Kelas.

Jejak intelektualnya bisa dilihat dari kegemaran membacanya.  Pemikir-pemikir favoritnya dalam filsafat Eropa antara lain filsuf Prancis, Georges Sorel;  futuris Italia, Filippo Tommaso Marinetti; sosialis Prancis,  Gustave Hervé; anarko Italia, Errico Malatesta; juga filsuf Jerman Friedrich Engels dan Karl Marx, dua “pendiri” marxisme. Ini sebelum dia beralih menjadi seorang penganut totalitarian. Mussolini belajar bahasa Prancis dan Jerman secara otodidak, dan menerjemahkan potongan-potongan tulisan dari Nietzsche, Arthur Schopenhauer, dan Immanuel Kant.

Mussolini lahir pada 29 Juli 1883 di Dovia di Predappio, sebuah kota kecil di Provinsi Forli di Romagna. Di masa depan, pada era fasis, Predappio disebut sebagai “Kota Kecil Duce”, sementara Forli disebut sebagai “Kota Besar Duce”. Tentu dia ingin memberi kehormatan kepada tempat kelahirannya terkait pencapaiannya sebagai kepala pemerintahan Italia. Hingga kini, orang-orang mengunjungi kedua kota itu untuk melihat tempat lahir Mussolini. Mussolini anak pertama dari tiga bersaudara. Ia memiliki dua orang adik, Arnaldo dan Edvige.

Ayahnya, Alessandro Mussolini, adalah seorang pengrajin besi dan penganut sosialisme; sementara ibunya, Rosa Maltoni, adalah seorang guru sekolah Katolik yang taat. Alessandro menamakan Benito dari nama  presiden Meksiko liberal, Benito Juárez, sementara nama tengahnya, Andrea dan Amilcare, diambil dari dua tokoh sosialis Italia, Andrea Costa dan Amilcare Cipriani. Sebagai ganti atas penamaan ini yang dilakukan oleh ayahnya, sang ibu diperbolehkan membaptisnya ketika ia masih bayi.

Sejak muda, Mussolini sudah membantu ayahnya bekerja sebagai pengrajin besi. Pandangan politik awal Mussolini sangat terpengaruh oleh ayahnya, yang sangat mengagumi tokoh-tokoh nasionalis Italia abad ke-19 dengan kecenderungan humanis seperti Carlo Pisacane, Giuseppe Mazzini, dan Giuseppe Garibaldi. Ayahnya memiliki sudut pandang politik yang menggabungkan pemikiran tokoh anarkis seperti Carlo Cafiero dan Mikhail Bakunin, otoritarianisme militer Garibaldi, dengan nasionalisme Mazzini. Pada tahun 1902, dalam perayaan ulang tahun wafatnya Garibaldi, Mussolini berpidato memuji nasionalis republikan itu.

Mussolini bersekolah di sebuah asrama yang diurus oleh pendeta Salesia. Meskipun ia memiliki sifat malu, ia sering berselisih dengan gurunya dan murid lain karena perilakunya yang sombong, mudah marah, dan kasar. Dalam sebuah perselisihan, ia pernah menyakiti seorang teman kelas dengan pisau kertas dan akhirnya dihukum.  Setelah pindah ke sekolah baru yang tidak beragama resmi di Forlimpopoli, Mussolini mendapatkan nilai bagus dan dipuji oleh guru-gurunya meskipun perilakunya kasar, sampai mendapatkan kualifikasi sebagai guru sekolah dasar pada bulan Juli 1901.

Pada tahun 1902, Mussolini pindah ke Swiss, salah satunya untuk menghindari wajib militer. Ia sempat bekerja sebagai seorang pengrajin batu di Jenewa, Fribourg, dan Bern, tetapi tidak mampu mendapatkan pekerjaan tetap. Pada masa ini, ia banyak mempelajari pemikiran-pemikiran  Nietzsche, ahli sosiologi Vilfredo Pareto, serta sindikalis Georges Sorel. Mussolini juga menyebut seorang sosialis Kristen, Charles Péguy, dan sindikalis Hubert Lagardelle sebagai dua tokoh yang mempengaruhinya. Ia amat terkesan membaca desakan Sorel untuk menyingkirkan demokrasi liberal dan kapitalisme dengan kekerasan, aksi langsung, mogok kerja, dan permainan emosi ala Neo-Machivellianisme.

Mussolini kemudian aktif dalam gerakan sosialis Italia di Swiss. Ia bekerja di koran L’Avvenire del Lavoratore, mengatur rapat, dan berpidato kepada para buruh, sambil juga bekerja sebagai Sekretaris Serikat Buruh di Lausanne. Angelica Balabanoff dikatakan pernah mengenalkan Mussolini kepada Vladimir Lenin, yang kemudian mengkritik kaum sosialis Italia karena kehilangan Mussolini dari gerakan. Pada tahun 1903, ia ditangkap polisi Bern karena mendukung aksi mogok kerja dengan kekerasan. Ia dipenjara selama dua minggu dan dideportasi ke Italia. Setelah dibebaskan, ia kembali ke Swiss. Pada tahun 1904, setelah kembali ditangkap di Jenewa dan diusir karena memalsukan surat, Mussolini kembali ke Lausanne dan kuliah di Departemen Ilmu Sosial Universitas Lausanne, mengikuti kelas dari Vilfredo Pareto.

Pada tahun 1937, ketika ia menjadi Perdana Menteri Italia, Universitas Lausanne menobatkan gelar doktor honoris causa kepadanya dalam perayaan ulang tahun ke-400 universitas tersebut.

Pada bulan Desember 1904, Mussolini kembali ke Italia setelah mendapatkan amnesti untuk kejahatan desersi tentara. Ia memang menghindari wajib militer dan pengadilannya dilakukan tanpa kehadirannya. Sebagai salah satu syarat pembebasannya, ia harus bergabung dengan angkatan bersenjata. Jadi, ia bergabung dengan Korps Bersaglieri di Forli pada 30 Desember 1904. Setelah menghabiskan dua tahun di militer (dari bulan Januari 1905 hingga September 1906), ia kembali mengajar.***

 

 

 

 

 

Editor : Rindra Yasin
#tokoh dunia #hary b koriun #benito mussolini