JERMAN selalu diperhitungkan di perhelatan apa pun, Piala Dunia maupun Piala Eropa. Mereka selalu memiliki skuad yang mumpuni di setiap kejuaraan. Siapa pun tim yang menjadi lawannya, harus menarif nafas panjang sebelum pertandingan. Artinya, tim berjuluk Der Panzer ini memang seperti mesin perang itu: siap menggilas apa pun yang menghalangi di depannya.
Ini sangat masuk akal, mengingat prestasi mentereng yang ditorehkannya selama mengikuti berbagai kejuaraan, termasuk Piala Dunia. Di helat ini, Jerman --termasuk ketika masih bernama Jerman Barat-- menjadi salah satu tim paling sukses bersama beberapa negara lain, termasuk Brazil, Italia, dan Argentina. Jerman telah meraih gelar juara 4 kali, yakni pada 1954 (mengalahkan Hongaria 3-2), 1974 (menyikat Belanda 2-1), 1990 (menundukkan Argentina 1-0), dan 2014 (mengalahkan Argentina 1-0). Jerman
juga sempat maju ke babak final alias runner-up pada 1966 (dikalahkan Inggris 2-4), 1982 (dikalahkan Italia 1-3), 1986 (dikalahkan Argentina 2-3), dan 2002 (ditundukkan Brazil 0-2).
Baca Juga: Ketika Negara Penganut Rasialisme, Menjadi Penyelenggara Piala Dunia
Gelar juara ketiga diraih Jerman pada 1934, 1970, 2006, dan 2010. Pada 1934, gelar itu diperoleh Jerman lewat kemenangan atas Austria dengan skors 3-2 ketika kejuaraan akbar ini diselenggarakan di Italia. Di Meksiko, 1970, Jerman menang tipis 1-0 atas Uruguay. Pada tahun 2006, Jerman meraih juara ketiga setelah mengalahkan Portugal 3-1. Kemudian di 2010, Jerman kembali juara ketiga setelah mengalahkan Uruguay 3-2.
Dengan catatan ini, tim mana yang tak keder saat menghadapi Jerman?
Namun, setelah menjadi juara saat menang 1-0 atas Argentina di final Piala Dunia 2014 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, 2014, setelah itu Jerman babak belur. Dalam dua edisi terakhir, 2018 dan 2022, Jerman merana. Malu besar. Dengan skuad bintang-bintangnya, mereka malah sempat dikalahkan dua tim asal Asia –benua yang dianggap paling terbelakang dalam sepakbola— yakni Korea Selatan (Korsel). Di tahun 2018, Korsel yang diraih Shin Tae Yong, gagal lolos ke babak selanjutnya meski mengalahkan Jerman 2-0. Sedangkan di 2022, Jepang lolos ke babak kedua bersama Spanyol setelah mengalahkan kedua negara itu, termasuk Jerman 2-1
Baca Juga: Cara Membuat Khanom Leum Keum, Jajanan Khas Thailand yang Viral Berbahan Santan Creamy dan Lembut
Di Piala Dunia 2026 ini, di bawah asuhan pelatih muda Julian Negelsmann, pemain-pemain terbaik dibawa, termasuk kiper veteran Bayern Muenchen yang sudah menyatakan pensiun tahun 2024, Manuel Neuer. Secara detil, mantan pelatih RB Leipzig dan Bayern Muenchen ini menilai statistik pemain, bukan hanya kebintangannya. Mereka tidak hanya berasal dari beberapa klub besar seperti Muenchen atau Borussia Dortmund dan beberapa klub Eropa lainnya, tapi menyebar ke klub-klub semenjana seperti Hoffenheim, Newcastle, VfB Stuttgart hingga klub kecil seperti Mainz.
Sejak kalah dari Slovakia di kualifikasi pada 5 September 2025, Jerman memainkan 9 pertandingan, baik kualifikasi lanjutan atau friendly macth, dan semuanya diselesaikan dengan kemenangan. Misalnya menang 2-1 atas AS, 4-0 atas Finlandia, 2-1 atas Ghana, 4-3 atas Swis, 6-0 atas Slovakia, atau 3-1 atas Irlandia Utara. Konsistensi kemenangan inilah yang akan menjadi bekal Negelsmann ke Piala Dunia 2026. Pertandingan pertama melawan Curacao pada Senin (15/6/2026) akan menjadi gambaran apakah Jerman pantas diperhitungkan sebagai unggulan juara atau tidak.
Dibanding tim yang ditangani Hansi Flick empat tahun lalu, ada peremajaan meskipun ada pemain-pemain senior yang bahkan bermain sejak Piala Dunia 2018. Namun, dalam starting line-up, bisa jadi rata-rata pemain baru plus beberapa pemain lama. Neuer (Muenchen) mungkin akan kembali ke posisi kiper. Empat bek belakang akan diisi Joshua Kimmick (Muenchen), Nico Schlotterbeck (Dortmund), Jonathan Tah (Muenchen), dan Nathaniel Brown. Komposisi ini dilapis oleh David Raum (Leipzig), Walderman Anton (Dortmund), Antonio Rudiger (Real Madrid) dan Malick Thiaw (Newcastle). Mungkin ini bukan komposisi pertahanan sempurna, tetapi tetap pilihan terbaik jika dilihat dari bagaimana mereka berperan di klub masing-masing dan beberapa kali bermain di timnas.
Lalu, ada dua gelandang bertahan dan tiga gelandang menyerang yang akan dimainkan dengan espektasi menguasai lini tengah dan depan. Dua gelandang bertahan Felix Nmecha (Dortmund) dan Alexandar Pavlovic (Muenchen) memang terdengar asing di telinga kita, namun mereka sangat konsisten bermain di posisinya bersama klub dan selama ini di timnas saat kualifikasi maupun uji coba. Untuk posisi ini, Negelsmann sampai berani menepikan pemain senior Leon Goretzka (Muenchen) dan gelandang elegan Stuttgart, Angelo Stiller, di bangku cadangan. Tiga pemain di depannya yang dianggap bisa menjadi gelandang sekaligus mencetak gol adalah Florian Wirtz (Liverpool), Jamal Musiala (Muenchen), dan Nadiem Amiri (Mainz) atau Leroy Sane (Galatasaray).
Ini komposisi yang selama ini sudah teruji dengan Sane yang mungkin tak sepenuhnya selalu sebagai pemain utama. Para penggantinya juga lumayan bersinar, yakni Pascal Groeb (Brighton), Lennart Karl (Muenchen), atau Jamie Leweling (Stuttgart). Di lini depan, dalam kualifikasi maupun uji coba, Negelsman bergantian memainkan Deniz Undav (mesin gol Stuttgart), Nick Woltemade (bermain baik di Newcastle), dan Kai Havertz (penyerang kunci Arsenal). Maximilian Beier (Dortmund) belum kelihatan tajam saat berbaju timnas.
Dengan kekuatan seperti itu, di atas kertas, untuk sekadar lolos ke babak kedua (32 besar), rasanya Jerman tidak akan kesulitan. Mengatasi Curacao, Pantai Gading, dan Ekuador di Grup E sangat mungkin. Namun, untuk melangkah lebih jauh, ini juga akan tergantung peforma saat babak penyisihan dan melihat siapa lawan yang akan dihadapi pada babak gugur. Namun, dari sisi kekuatan, seharusnya lebih dari cukup untuk menempatkan Jerman menjadi salah satu kandidad juara pada edisi ini.***
Editor : Bayu Saputra