Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Puasa untuk Mencapai Kebahagiaan

Redaksi • Jumat, 5 April 2024 | 09:33 WIB
Detri Karya, Direktur Pascasarjana UIR
Detri Karya, Direktur Pascasarjana UIR

Dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Gazali mengatakan bahwa ekonomi itu berupa tata kelola rumah tangga. Dalam rumah tangga ada anggota keluarga yang berintegrasi dengan lingkungan yang terdiri dari beberapa faktor seperti faktor sosial, budaya, hukum serta aturan-aturan , teknologi, persaingan serta pemimpin yang akhirnya mencakup hubungan dengan pemerintahan.

Agar rumah tangga terkelola dengan baik, Allah telah mengatur bagaimana bersosialisasi antarsesama manusia, bertata krama disesuaikan dengan tatanan masyarakat yang ada serta mencapai kemajuan melalui teknologi terutama untuk kemaslahatan umat, dan bersaing dengan mengedepankan kejujuran serta menjaga silaturahmi sesama manusia.

Sehingga tercipta unsur transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independen, dan kesetaraan dalam kewajaran. Namun, kehidupan manusia terus digoda oleh berbagai kondisi yang menyebabkan banyak yang menyimpang garis besar yang sudah ditetapkan Allah seperti dalam pengelolaan rumah tangga.

Inti dari pengelolaan rumah tangga yang baik adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang didambakan setiap insan sudah diberikan petunjuk oleh Allah cara mencapainya baik melalui Al-Qur’an maupun hadis sehingga manusia mencapai kebahagiaan yang diharapkannya. Tetapi sering manusia mencari kebahagiaan melalui Kekuasaan, Kekayaan, Ketenaran, Kecantikan, dan Kesehatan. (Kebahagian melalui 5 K).

Ternyata kebahagiaan yang dicari melalui 5 K belumlah memecahkan masalah terhadap keperluan manusia terhadap kebahagiaan. Secara hakiki manusia diberikan berbagai anugerah dan kenikmatan dalam kehidupannya.

Tetapi tidak semua manusia benar-benar dapat menikmati atau menghargai kenikmatan dan kepuasan yang lebih besar dalam kehidupan mereka. Beberapa orang lebih sadar dan bersyukur atas nikmat yang mereka terima, sehingga merasakan kebahagiaan.

Pada sisi lain, masih ada orang yang kurang menghargai nikmat yang ada di sekitar mereka. Sehingga tidak merasakan kepuasan yang seimbang meskipun 5 K mereka punyai. Tercapainya kekuasaan, kekayaan, ketenaran, kecantikan, dan kesehatan tubuh menyebabkan manusia lupa pada tujuan hakikinya yaitu kebahagiaan.

Kekuasaan yang terus menerus meningkat, kekayaan yang terus menerus ditumpuk, ketenaran yang terus menerus menjadi target, kecantikan yang terus ditingkatkan, dan kesehatan yang terus jadi fokus hidup, sering membuat manusia frustasi karena setelah tercapainya 5 K. Kebahagiaan itu tidak juga muncul.

Efeknya justru keserakahan, iri dan dengki yang yang sehingga terjadi ketidak seimbangan dalam kehidupan. Ketika acara makan malam dengan kawan-kawan sesama dosen dari Universitas di Seoul Korea Selatan, justru mereka merasakan kegelisahan setelah cita-cita hidup mereka tercapai.

Pulang kerja pukul 17.00 WIB, mereka bukan pulang ke rumah tapi berusaha lembur atau mencari kegiatan lain agar tidak cepat sampai ke rumah. Seorang istri akan menganggap suaminya pemalas bila pulang kerja tepat waktu. Target para suami adalah pukul 22.00 WIB baru sampai ke rumah.

Apabila tidak lembur, maka mereka minum-minum alkohol dalam rangka menghilangkan kejenuhan dan kegelisahan yang mereka rasakan. Sehingga ketika sampai rumah, capek dan langsung tidur. Kebahagiaan yang ingin dicapai belum mereka dapatkan melalui 5K.

Gejala seperti di atas juga terasa di negara kita. Hal ini terbaca dari banyaknya masalah yang terjadi pada masyarakat yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan seperti disebutkan di atas.

Namun umat Islam, walaupun sudah banyak yang berselancar pada dunia tersebut, tetapi masih punya banyak rambu-rambu yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan. Sesuai dengan Surah Al-Baqarah Ayat 183. “Ya aiiyuhallazina aam anu kutiba ‘alaikumus-siyaam. Kama kutiba ‘alallazina ming koblikum la’allakum tattaquuun”.

Artinya, “Hai orang orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seperti sudah diwajibkan kepada orang orang sebelumnya agar kamu bertakwa”

Orang yang bertakwa akan merasakan kenyamanan dalam kehidupannya. Berarti dalam hal ini Allah mengetahui bahwa kita itu selalu terombang-ambing dalam kehidupan sehingga perlu diberikan suatu cara agar terjadi keseimbangan dalam kehidupannya. Dengan kata lain harus diperkuat keimanannya.

Namun manusia banyak yang tergelincir karena hanyut mengejar 5 K, tetapi kebahagiaan yang diinginkan tidak juga tercapai. Efeknya, muncullah sakit seperti obesitas, darah tinggi, kolesterol, paru paru, diabetes, dan penyakit kronis lainnya.

Kondisi zahir seperti itu menyebabkan tersiksanya batin sehingga memunculkan stres dan putus asa. Sibuk mengejar dunia, makanan batin terabaikan. Muncul pula stres dan keputusasaan. Batas antara hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang oleh Allah makin semu yang kecenderungannya orang hidup terombang-ambing tak jelas arahnya. Hal tersebut menyebabkan ke arah banyaknya terjadi penyimpangan dalam keseimbangan hidup, yang menumbuhsuburkan pelaksanaan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Puasa yang dilaksanakan sebulan penuh setiap tahun bertujuan agar manusia bisa kembali ke arah yang benar. Sehingga hal-hal yang sudah mulai rusak dalam diri seseorang dapat diperbaiki kembali. Pelaksanaan puasa yang sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan Allah menyebabkan kehidupan manusia menjadi lebih tertib dan nyaman.

Pada Bulan Ramadan, kita merasakan ketenangan dalam rukuk dan sujud kita yang mengalir dan merasakan kehangatan dari kebersamaan kita dalam melaksanakan ibadah. Terasa sekali bahwa puasa menyebabkan hidup lebih teratur, lebih disiplin, dan mau berubah.

Bagi orang yang melaksanakan puasa akan merasakan bahwa 5 P merupakan kelengkapan dari kebahagiaan. Jasmani akan merasa lebih segar, apabila kita meresepi bahwa batin kita menemukan suatu makanan rohani yang luar biasa, yang selama ini terabaikan seperti membaca Al-Qur’an dalam tadarus, zikir, melaksanakan banyak salat-salat sunah, sedekah yang pahalanya berlipat ganda dibandingkan dengan bulan biasa.

Bila itu diresapi dan dilaksanakan dengan baik, hasil-hasil dari berpuasa akan meningkatkan kualitas keikhlasan dan kesabaran sehingga menyebabkan jasmani kuat, nyaman, tenang dan bahagia. Di sana baru kita mendapat nikmat puasa yang secara otomatis akan meningkatkan kualitas iman kita.

Kuncinya dengan memelihara hati dengan memelihara cara makan, zat yang dimakan secara lahir dan melaksanakan perintah Allah secara batin. Hati menjadi kata “kunci” untuk mencapai iman dan takwa.

Untuk apa wirid tapi hatinya busuk. Untuk apa puasa kalau hatinya jelek. Untuk apa salat kalau perbuatannya jelek. Untuk itu, jangan jelek-jelekkan orang. Jangan senang menjelek-jelekkan orang.

Semakin banyak jelek-jelekkan orang maka ternyata hati semakin stres. Maka berusahalah mempunyai hati yang baik. Dengan hati yang terpelihara hidup akan dipermudah Allah. Semoga kita mampu meningkatkan perilaku yang sesuai dengan perintah Allah dengan memelihara hati sehingga rasa tenang, rasa nyaman, dan rasa bahagia betul-betul kita rasakan.

Suatu kisah viral yang saya dapatkan dari YouTube mungkin bisa menjadi dasar pikir kita untuk kehidupan yang lebih baik ke depan. Kisah seorang mahasiswa yang Salat Tarawih di Mesir. Mahasiswa tersebut biasa keliling masjid mencari Salat Tarawih yang suasana imamnya enak.

Biasanya dia setiap malam satu juz setiap Salat Tarawih. Tetapi malam itu dia diajak oleh dosennya ke suatu masjid yang lebih bagus. Dan dia merasakan ada perbedaan dengan masjid tempat dia biasa salat. Di masjid tempat dia salat tersebut satu rakaat Al-Baqarah sampai 2 juz. Pada rakaat yang kedua dilanjutkan dengan Surah Ali Imran sehingga 2 rakaat menjadi 4 juz. Akhirnya salat selesai hampir waktu Salat Subuh. Ternyata keistimewaan masjid tersebut adalah bacaan ayat dalam Salat Tarawihnya 15 juz setiap malam. Berarti 15 kali khatam Al-Qur’an dalam sebulan.

Sebagai sesorang mahasiswa yang masih muda dia merasa heran Ketika memperhatikan seorang kakek-kakek di sebelahnya. Kakek tersebut khusuk dengan salatnya dan sepertinya tidak merasa capek melaksanakan Salat Tarawih yang dia anggap pengalaman yang sangat luar biasa sehingga dia sampai gemetaran dan kurang khusuk dalam salatnya.

Selesai salat mahasiswa tersebut bertanya kepada kakek tersebut. Apakah kakek baru kali ini salat di masjid ini. Kakek tersebut menjawab, iya dan telah 10 tahun ikut Salat Tarawih di masjid tersebut. (Masya Allah!!!). “Kok kakek bisa tahan dan jauh lebih kuat dari saya”, timpalnya lagi. Padahal mahasiswa tersebut merasa bahwa dia lebih kuat dari kakek itu.

Kakek tersebut menjawab dengan santai sambal menatapnya, “Anakku, kamu salat dengan tenaga sehingga wajar kalau kehabisan tenaga. Sedangkan saya salat dengan iman sehingga ketika saya sedang menghadap kepada-Nya, justru hati saya sangat merasa tenteram sehingga rasa capek terabaikan’’.

Kuncinya, bagaimana hati merasakan rindu dan cinta ketika menghadap kepada-Nya. Berarti puas dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan iman, dan iman akan menyebabkan ketenteraman menuju ketakwaan untuk tercapainya kebahagiaan yang hakiki.***

Oleh: Detri Karya, Direktur Pascasarjana UIR

Editor : RP Arif Oktafian
#petuah ramadan #Ramadan 1445 H #puasa