Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Lailatul Qadar Ditunggu Umat Muslim di Bulan Ramadan, Inilah 5 Tradisi Unik di Indonesia

Redaksi • Sabtu, 6 April 2024 | 07:42 WIB
Tradisi selikuran di Surakarta.
Tradisi selikuran di Surakarta.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Malam mulia Lailatul Qadar banyak ditunggu di bulan Ramadan. Pada 10 malam terakhir, umat Muslim pasti berjuang untuk mendapatkan keberkahan ini.

Banyak amalan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan malam ini. Selain memperbanyak salat dan zikir, itikaf di masjid juga menjadi salah satu ibadah khusus.

Akan tetapi, selain ibadah kepada Allah SWT, ada tradisi lain yang dilakukan dalam menyambut Lailatul Qadar. Tradisi ini beragam di berbagai tempat di Indonesia.Baca Juga: Dua Kali Kalahkan Vietnam di Kualifikasi Piala Dunia, Peringkat Indonesia Naik 8 Tingkat

Dilansir dari suaramahasiswa.info, setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas yang unik di bulan Ramadan. Demikian halnya ketika menyambut malam mulia lailatul qadar.

1. Selikuran

Salah satu tradisi yang khas dari Jawa Tengah adalah “selikuran” atau kerap juga disebut malam selikuran. Tradisi ini banyak ditemui di daerah Surakarta. Selikur dalam bahasa Jawa artinya dua puluh satu. Maka, tradisi ini dilakukan mulai malam ke-21 Ramadan.

Melansir situs Pemkot Surakarta, hal ini sesuai dengan keyakinan kebanyakan orang bahwa lailatul qadar akan turun pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan.

Pada malam selikuran, Raja Surakarta biasa mengarak tumpeng diiringi lampu. Selanjutnya beliau akan berdoa di Masjid Agung, dilanjutkan membawa tumpeng ke masjid untuk dinikmati bersama.

Tumpeng tersebut bernama “tumpeng sewu” karena berjumlah seribu. Maknanya adalah malam seribu bulan yang sedang diharapkan pahalanya.

 Baca Juga: Uji Coba Lawan Arab Saudi di Dubai, Timnas U-23 Indonesia Kalah 1-3

2. Nujuh Likur

Lain halnya di daerah Sumatera, malam lailatul qadar disambut dengan tradisi bernama “nujuh likur.” Tradisi ini banyak dijumpai di Provinsi Bengkulu.

Pada tradisi ini, masyarakat akan berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, membawa penerangan dan menyantap makanan yang sudah disediakan.

Tujuan utamanya adalah agar tuan rumah yang membagikan rezekinya mendapat keberkahan. Acara diakhiri dengan doa bersama.

Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu. Pada saat itu, penerangan ditempatkan di sekitar masjid dan sudut-sudut rumah.

3. Dile Jojor

Ada tradisi lain di Nusa Tenggara Barat untuk menyambut malam lailatur qadar yaitu “Dile Jojor.” Pada dasarnya kegiatan ini juga dilakukan dengan menerangi sudut desa menggunakan obor.

Pada tradisi ini, area pemakaman juga menjadi tempat yang diterangi dengan pelita. Dile Jojor dilaksanakan pada setiap malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan.Baca Juga: Baik untuk Kesehatan, Inilah 5 Manfaat Daun Sirih yang Perlu Diketahui

 Tujuan utamanya adalah agar masyarakat terjaga di malam-malam ganjil tersebut sehingga bisa mendapatkan malam lailatul qadar.

4. Malam Ketupat

Cara menyambut malam Lailatul Qadar sedikit berbeda di tengah masyarakat Betawi. Tradisi mereka bernama “Malam Ketupat.” Pada malam-malam ganjil, masyarakat akan mengajak sanak saudara dan tetangga untuk tetap terjaga dengan hidangan makanan.

Makanan khas yang disajikan adalah ketupat dan kue abug, yang terbuat dari tepung beras ketan diisi gula merah dan kelapa.

5. Selo Buto

Tradisi menyambut malam lailatul qadar juga terasa hingga wilayah timur Indonesia. Di Tidore, tradisi bernama “Selo Buto” dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakatnya.

Pada prosesi ini, warga akan menancapkan sejumlah tiang kayu setinggi sekitar 2 meter di pekarangan rumah. Pada batang kayu tersebut kemudian diikat beberapa hasil bumi seperti pisang, jagung, tebu atau enau.

Pisang dan jagung yang diikatkan harus sudah matang. Selain itu, hasil bumi tersebut diikatkan bersama dengan daunnya. Selanjutnya, kaum laki-laki akan menabuh tifa, alat musik khas daerah tersebut sambil menari Cakalele. Setelah menari sekitar 30 menit, mereka akan menebas batang tanaman yang terikat tadi.Baca Juga: Libur Idulfitri, RSUD Arifin Achmad Tetap Beri Pelayanan kepada Masyarakat

Hasil bumi yang jatuh karena tertebas, diperebutkan oleh warga. Hiruk pikuk inilah yang menjadi semangat warga menyambut malam Lailatul Qadar.

 

 

Indonesia kaya akan tradisi, bahkan untuk menyemarakkan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan. Namun, hikmah dari semua tradisi tersebut adalah agar masyarakat berbagi satu sama lain.

 

Editor : RP Edwar Yaman
#lailatul qadar #tradisi unik