Setinggi puji, sedalam syukur, dan sekuat ketaatan marilah selalu kita persembahkan kehadirat Allah SWT. Salawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah SAW. Para pembaca Riau Pos yang Budiman. Saat ini kita hidup pada era digitalisasi dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
Kita hidup 1445 tahun setelah Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Yatsrib/Madinah. Kita hidup 1445 tahun setelah Rasulullah SAW hijrah dari sistem kehidupan jahiliah kepada sistem kehidupan Islam. Kita hidup 1445 tahun setelah Rasulullah SAW hijrah dari penerapan syariat Islam hanya di dalam kutlah/kelompok dakwah Rasul kepada penerapan syariat Islam melalui kekuasaan di dalam sebuah negara/ daulah.
Ada dua pertanyaan sederhana yang penting untuk kita dalami makna jawabannya. Pertama, apa yang berubah sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini? Kedua, apa yang tidak berubah sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini?
Jawaban atas pertanyaan pertama sangat mudah kita berikan. Apa-apa yang berubah sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini adalah sarana-prasarana. Misalnya, dulu di masa Rasulullah tak ada mobil, sekarang ada mobil. Dulu di masa Rasulullah tak ada jalan raya beraspal, sekarang ada. Dulu di masa Rasulullah tak ada komputer dan robot, sekarang ada komputer dan robot. Sangat banyak contoh yang bisa kita sampaikan. Betapa banyak sarana-prasarana yang sekarang ditemukan, dikembangkan dan dibuat manusia, di mana pada masa Rasulullah belum ada.
Baca Juga: Cermin Ramadan
Adapun atas pertanyaan kedua, apa yang tidak berubah sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini dapat kita kelompokkan ke dalam dua kelompok jawaban.
Pertama: hal yang tidak berubah sejak zaman Rasulullah hingga saat ini adalah aktivitas/perbuatan manusia. Aktivitas manusia saat ini sama dengan aktivitas manusia di zaman Rasulullah, tak ada yang berubah, hanya pengulangan-pengulangan saja, namun dengan para pelaku yang berbeda. Misalnya: Rasulullah menyembah Allah, kita saat ini juga menyembah Allah. Rasulullah dulu melakukan perjalanan, kita sekarang juga melakukan perjalanan. Rasulullah bekerja mencari nafkah, kita juga bekerja mencari nafkah.
Rasulullah berkeluarga dan membina rumah tangga, saat ini kita banyak yang berkeluarga dan membina rumah tangga. Rasulullah memimpin umat sebagai kepala negara, kita sekarang juga ada yang memimpin sebagai kepala negara, dll. Pendek kata, tak ada yang berubah antara aktifitas manusia di zaman Rasulullah dengan aktifitas manusia saat ini.
Kedua, hal yang tidak berubah sejak zaman Rasulullah hingga saat ini adalah aturan Allah SWT. Aturan Allah diturunkan melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah untuk mengatur perbuatan manusia. Sebagaimana pada poin pertama di atas, bahwa aktivitas manusia dari zaman Rasulullah hingga saat ini tak ada yang berubah, maka suatu hal yang masuk akal bahwa aturan Allah tidak berubah hingga saat ini, bahkan hingga hari kiamat.
Baca Juga: Puasa untuk Mencapai Kebahagiaan
Jika perbuatan manusia tidak berubah, mengapa aturannya harus berubah? Inilah alasan logis mengapa aturan atau syariat Allah tidak berubah dari waktu ke waktu. Kalaulah ada kaum muslimin yang mengubah aturan Allah atau bahkan mengambil aturan buatan manusia, tak lain itu karena mengikuti hawa nafsu semata.
Sering diinformasikan kepada kita bahwa Rasulullah telah mewariskan dua hal yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasul. Beliau bersabda: Saya meninggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat apabila berpegang pada keduanya yaitu kitab Allah dan Sunnah Nabi (HR Muslim (2137)).
Kitabullah dan sunah rasul berisikan pedeoman kita dalam menjalankan aktivitas kehidupan. Sesungguhnya Rasulullah juga mewariskan metode bagaimana kedua perkara tersebut bisa diamalkan dalam kehidupan, mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat.
Dulu Al-Qur’an dan Sunnah bukan hanya sekedar melekat di hafalan/ ingatan Rasulullah dan para sahabat atau tertulis di pelepah kurma, kulit binatang, kayu dll atau dalam mushab, tapi juga terimplementasi dalam bentuk aktivitas dalam kehidupan keluarga hingga masyarakat dan negara.
Oleh karena itu, Rasulullah juga mewariskan sebuah institusi sebagai metode untuk mengejawantahkan Al-Qur’an dan sunah tersebut. Dengan bahasa sederhana bahwa Kitabullah dan sunah Rasul diadopsi sebagai aturan berkehidupan mulai dari keluarga hingga negara. Apakah kita sudah mengambil semua warisan itu? Mengapa tidak mengambil semuanya? Apa karena merasa sebagai manusia modern..? Wallahu a’lamu bisshowab.***
Oleh: Anas Puri, Dosen Pascasarjana Universitas Islam Riau