"Tidak akan ada perbedaan signifikan antara quick count dan hasil akhir di KPU. Kalau dari pengalaman sebelumnya, biasanya, berbeda satu sampai dua persen," ujar Koordinator Nasional PMIM Riyanda Barmawi kepada wartawan, Selasa (20/2).
"Sementara saat ini suara pasangan Prabowo-Gibran melambung jauh dari kompetitornya. Jadi tidak signifikan jika berharap akan ada dua putaran," sambungnya.
Baca Juga: Hasil Quick Count CSIS Prabowo-Gibran Paling Unggul 58,25 Persen, PDIP Menang Pileg Posisi Teratas
Menurut Riyanda, hasil quick count punya tingkat akurasi yang presisi. Di sisi lain, ia menyebut bahwa positioning keberlanjutan merupakan pilihan yang tepat. Hal ini terlihat dari animo dukungan masyarakat kepada Prabowo-Gibran yang jelas kontras dengan pihak yang mengusung perubahan dan keberlanjutan.
"Artinya apa yang diikhtiarkan Prabowo-Gibran bersama Tim Pemenangan dan organ-organ relawan mendapat atensi luar biasa dari masyarakat," ucapnya.
"Demi menghemat anggaran negara, maka Pemilu satu putaran adalah jawabannya. Ketulusan Prabowo-Gibran untuk melanjutkan keberhasilan Pemerintahan Jokowi mampu ditangkap masyarakat," sambung Riyanda.
Baca Juga: 5 Anggota KPU Provinsi Riau yang Baru Resmi Dilantik
Ia menegaskan bersama TKN Prabowo Gibran akan mengawal kemenangan versi Quick Count sampai dengan keluar rekapitulasi resmi dari KPU
"Program yang dicanangkan, janji-janji politik, kami akan ikut mengawalnya untuk lima tahun mendatang demi menyongsong suksesi Indonesia Maju bersama Prabowo-Gibran," pungkasnya.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Rinaldi