PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pengamat politik Rocky Gerung menyinggung soal pilkada Riau yang tengah berlangsung. Cendekiawan flamboyan ini membeberkan tiga parameter yang harus dilewati untuk menjadi seorang pemimpin.
Hal ini sampaikan Rocky Gerung pada seminar Nasional “79 Tahun Indonesia Merdeka, Riau Dapat Apa?” yang diselenggarakan Persebatinan Pemuka Masyarakat Riau (PPMR) di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Selasa (29/10).
Rocky Gerung tiba di Pekanbaru sekitar pukul 14.00 WIB di ballroom hotel bintang empat itu. Dirinya disambut dengan penuh antusias para tamu undangan dan juga peserta seminar. Sorak-sorai memeriahkan kedatangannya di Kota Bertuah.
Di tengah pilkada yang tengah berlangsung, Rocky juga menyoroti tentang tipikal pemimpin Riau yang pantas menduduki kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Riau periode 2024-2029 nanti.
Mantan dosen Universitas Indonesia itu menyebutkan, untuk menjadi seorang pemimpin mesti melewati tiga indikator. Yaitu etikabilitas, intelektualitas dan yang terakhir elektabilitas.
“Pemimpinnya mesti lolos dulu etikabilitas, bersih, misalnya bagus moralnya. Kalau sudah lolos dia harus lolos intelektualitas. Kalau dia lulus intelektualitas, baru kita izinkan dia periksa elektabilitas,” tegasnya.
Menurut Rocky, Provinsi Riau merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam (SDA). Mulai dari minyak sawit (CPO), minyak bumi, kayu, hingga batubara. Namun kekayaan itu hanya dinikmati oleh segelintir oligarki.
“Riau dapat apa? Kenapa mesti bertanya? Kenapa kita tidak menuntut?” ucapnya tajam.
Selain permasalahan di Riau, Rocky Gerung juga membicarakan beberapa masalah yang tengah terjadi di Indonesia. Tentang deforestasi yang terjadi di Papua dan Kalimantan, teori Mulyono dan Mulyani yang kini sedang ramai diperbincangkan, hingga isu pembekuan BEM Unair yang sempat viral.
Menurutnya, perlu adanya gerakan kampanye yang kolektif di setiap provinsi yang ada di Indonesia untuk menjawab persoalan-persoalan yang tengah terjadi.
Kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat, menurut Rocky tidak sebanding dengan kontribusi daerah terhadap perekonomian Nasional.
Hal ini menurutnya karena perjanjian kerja sama dengan korporasi tidak didasarkan pada kepentingan masyarakat Riau.
‘’Perjanjian-perjanjian tidak didasarkan pada kepentingan rakyat,” tegas Rocky.
Dia menambahkan, ketika berbicara tentang dampak kebijakan negara, pertanyaannya selalu kembali pada satu hal.
‘’Riau dapat apa?” ucapnya bertanya dengan nada provokatif.
Selepas memberikan materi selama kurang lebih 30 menit, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi bersama peserta seminar. Tampak antusiasme dari para peserta memeriahkan acara itu.
Setelah acara selesai sekitar pukul 17.00 WIB, Rocky Gerung langsung menuju Bandara Sultan Syarif Kasim dan langsung pulang ke Jakarta.(muh)
Editor : RP Arif Oktafian