Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Elite Golkar Yakin Ekonomi Indonesia Tidak Ulang Krisis 1998

Redaksi • Senin, 25 Mei 2026 | 12:33 WIB
IDRUS MARHAM. (JPG)
IDRUS MARHAM. (JPG)

 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Partai Golkar membela Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi ekonomi Indonesia saat ini yang diyakini tidak mengulang krisis 1998.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham sangat meyakini ekonomi Indonesia tidak seperti krisis 1998. Menurut dia, pesimisme yang berkembang belakangan ini terlalu dipengaruhi pola pikir neoliberalisme yang menempatkan pasar bebas sebagai penentu utama arah ekonomi nasional.

“Ideologi Pancasila itu bukan liberalisme dan bukan sosialisme. Pancasila adalah ideologi Wasathiyah-jalan tengah. Di satu sisi mengakui hak-hak individual, tetapi di sisi lain juga mengakui hak komunitas dan kepentingan sosial masyarakat,” kata Idrus kepada wartawan, Ahad (24/5).

Baca Juga: Mobil Rombongan Anggota DPR RI Kecelakaan 

Idrus menilai kritik yang menyebut proyek strategis nasional sebagai proyek “prestise” lahir dari cara pandang ekonomi yang terlalu berorientasi pada keuntungan pasar jangka pendek. 

Dia berpandangan banyak proyek strategis tidak akan disentuh pihak swasta karena membutuhkan investasi besar dengan masa pengembalian yang panjang. Oleh karena itu, negara harus hadir secara aktif melalui BUMN sebagai instrumen intervensi ekonomi untuk menjaga keseimbangan sosial.

“BUMN jangan dipandang sekadar entitas bisnis. BUMN adalah alat negara untuk menjaga stabilitas harga, mendistribusikan energi, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan rakyat mendapat akses pembangunan secara merata,” ujarnya.

Baca Juga: Pembentukan BUMN Ekspor Bisa Selamatkan Kebocoran Negara  

Dia mengingatkan bahwa negara tidak boleh sepenuhnya menyerahkan nasib rakyat kepada mekanisme pasar bebas. Tanpa kontrol negara, ketimpangan ekonomi berpotensi semakin melebar.

“Kalau semuanya dilepas ke pasar, maka yang kuat akan semakin menguasai. Negara harus hadir menjadi penyeimbang agar kesejahteraan tidak hanya dinikmati kelompok tertentu,” tutur mantan Sekjen Golkar era Setya Noanto itu. 

Indonesia saat ini tidak sedang menuju jurang krisis, melainkan tengah membangun model ekonomi nasional yang lebih mandiri, berdaulat, dan berkeadilan sosial sesuai semangat Pancasila.

Idrus mengajak seluruh masyarakat untuk melihat pemikiran Prabowo Subianto secara utuh dan komprehensif, baik dari perspektif ideologis, filosofis, konsepsi Astacita, maupun implementasinya.

“Mari kita semua berpikir positif. Indonesia rumah besar kita yang harus dirawat bersama. Bangsa ini jangan terus-menerus disuguhi narasi kegelapan. Kritik boleh, bahkan penting dalam demokrasi. Prabowo sama sekali tidak anti kritik. Tapi kritik harus menghadirkan sikap optimisme, solusi, dan semangat persatuan,” pungkasnya.(jpg)

Editor : Arif Oktafian
#golkar #krisis 1998 #ekonomi indonesia