Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Wan Ghalib, Saksi Sejarah dan Pejuang Provinsi Riau Tutup Usia

Redaksi • Jumat, 7 Oktober 2011 | 10:50 WIB
PEKANBARU (RP) - Wan Ghalib, salah seorang saksi hidup yang juga tokoh pendiri Provinsi Riau tutup usia.

Pria yang lahir pada 5 Oktober 1920 itu meninggal pada usia 91 tahun yang baru saja dia lalui.

Salah seorang putra terbaik Riau ini, hingga akhir hayatnya masih terus memikirkan dan memantau apa yang terjadi di Riau untuk kemajuan Negeri Lancang Kuning. Kepulangannya membuat Riau kehilangan sosok ayah yang mengayomi dan menyayangi.

Wan Ghalib menghembuskan nafas terakhir di kediamannya di Jalan Sakuntala Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru tepat azan Maghrib berkumandang. Kepergian tokoh besar Riau ini tepat sehari setelah keluarga besarnya merayakan ulang tahunnya yang ke-91 pada 5 Oktober lalu.

Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai orang yang keras dan terus berkobar mengusung pembentukan Provinsi Riau. Bahkan di usia senjanya, suami Wan Rahmah (almarhum), ayah 9 anak, kakek 43 cucu dan 46 cicit ini tetap mengawasi perkembangan Riau.

Sebelum berpulang, Wan pagi hari sempat menghubungi Wakil Gubernur Riau, HR Mambang Mit menyatakan keluhannya atas penyakit tulang yang sudah dia derita sejak lama.

Akhirnya, setelah diminta diantar ke RS Awal Bros sekitar pukul 09.00 WIB dan sempat menjalani rekam jantung dan pemeriksaan tulang. Wan ternyata tak perlu dirawat inap dan sekitar pukul 16.00 WIB dipersilakan kembali ke rumah.

‘’Tadi pagi saya dihubunginya dan menjelaskan kondisinya sakit. Saya sarankan ke RSUD, tapi beliau menyatakan tak ada spesialis tulang di sana dan mengatakan Awal Bros ada. Tak sedikitpun terdengar suara berat atau kesakitan darinya. Dengan tenang dan seperti biasa dia menyampaikan itu. Kita semua tak akan menyangka beliau akhirnya tutup usia. Riau kehilangan tokoh besar yang sudah membesarkan Riau,’’ terang Wakil Gubernur Riau, HR Mambang Mit pada Riau Pos.

Sepulang dari Awal Bros, almarhum yang tak pernah ingin ditinggal keluarganya itu, sempat minum obat dan istirahat. Jelang maghrib, Wan menyatakan sakit lagi dan keluarga berencana membawa kembali ke Awal Bros.

Saat melakukan persiapan teryata Wan sudah menghembuskan nafas terakhir.

Sebelum meninggal, keluarga menyatakan almarhum masih sehat ketika 5 oktober lalu merayakan HUT-nya ke-91. Namun, pada ulang tahun yang dilaksanakan sederhana dan dihadiri seluruh anak cucu dan cicitnya tersebut, Wan sempat mengatakan, ‘’ini adalah ulang tahunku yang terakhir’’. Mendengar hal itu, keluarganya minta untuk tak diteruskan lagi pembicaraan tersebut.

Minta Dikubur di Samping Makam Istri
Kepergian Wan Ghalib sangat membuat anak-anaknya terpukul dan dinaungi duka dalam. Mereka terlihat pasrah dengan kepergian sang ayah. Pada Riau Pos, di rumah duka malam tadi, anak ke delapan Wan Ghalib, Nani Sulianti menuturkan, memang sudah ada firasat sebelum ayahnya tutup usia. Tepatnya Rabu (5/10) saat makan malam bersama itu.

‘’Bapak bilang, ini makan malam terakhir dengan kalian,’’ ujar Nani mengulang ucapan ayahnya. Selama ini, lanjutnya, dalam kondisi yang sudah tua, dialah yang merawat ayahnya.

Bahkan terkadang hanya dia berdua dengan ayahnya di rumah yang kini jadi saksi bisu kepergian Wan Ghalib. ‘’Bapak sempat minta dirawat ke Malaka, namun kami usul dibawa ke Awal Bros dulu,’’ ungkap Nani sambil berurai air mata.

Dari pemeriksaan dokter, diketahui, Wan Galib mengalami pecah pembuluh darah di bagian dada tapi tak perlu dirawat.

‘’Sampai di rumah Bapak istirahat, dan setelah itu minta diurut oleh saya. Di sela-sela saya urut bapak, dia bilang untuk tak menertawakan kondisi badannya yang kurus,’’ sebut Nani sambil mengusap air matanya. Saat maghrib, Wan mengeluh sakit lagi, dan Nani pun memanggil semua kakaknya.

‘’Kami sempat menawarkan ke bapak untuk dibawa lagi ke rumah sakit, bapak bilang terserahlah. Dalam proses untuk ke rumah sakit itulah kami ditinggalnya,’’ katanya lirih.

Tak ada pesan yang ditinggalkan bapaknya, kecuali minta dikuburkan di samping makam istrinya di Pemakaman Senapelan.

‘’Dia pun sempat bilang tak ada harta yang ditinggalkan. Hanya rumah yang sekarang ditempati,’’ tuturnya. Rencananya, jenazah akan dimakamkan usai Salat Jumat.

Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP mengaku merasa kehilangan tokoh yang telah banyak berjasa untuk pengembangan Riau. Dia menilai pribadi Wan Ghalib dapat jadi suri tauladan bagi para generasi muda.

Sebab semangat juang dan pantang menyerah dapat jadi cambuk untuk memberi kontribusi positif ke daerah, bangsa dan negara. Untuk itu dia mengajak seluruh masyarakat Riau berdoa agar almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT.

Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit mengucapkan bela sungkawa atas kepergian pejuang Riau tersebut.

‘’Kita tentu kehilangan tokoh yang telah banyak berjasa untuk Riau. Semangat juangnya telah jadi bagian dari masyarakat Riau,’’ ujarnya. Budayawan Riau, Tenas Effendy menilai Wan Ghalib merupakan figur yang memiliki andil besar dalam memperjuangkan Riau di zaman penjajahan.

‘’Pribadinya santun dan banyak berjasa bagi Riau. Selain itu beliau juga aktif dalam beberapa kegiatan kebudayaan dan kemasyarakatan. Sehingga kepergian beliau merupakan kehilangan yang sangat besar bagi Bumi Lancang Kuning,’’ tutur Tenas yang mengaku sempat berjumpa almarhum belum lama ini.

Mantan Gubernur Riau H Saleh Djasit menilai, figur Wan Ghalib merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Riau. Karena jasa-jasanya telah memberi kontribusi positif dalam mendukung perkembangan daerah.

‘’Beliau tokoh yang gigih dalam berjuang. Kita sangat kehilangan dengan kepergian tokoh fenomenal ini,’’ ungkapnya.

Mantan Wakil Gubernur Riau yang kini duduk di DPR RI, Wan Abu Bakar menyebutkan, Wan Ghalib adalah putra daerah yang tak diragukan lagi kecintaannya terhadap Riau. Bahkan hingga akhir hayatnya, ia tak pernah berhenti pengabdi menyuarakan apsirasi dan memperjuangkan hak-hak masyarakat Riau.

‘’Banyak jasa-jasa yang tentu saja tak terlupakan masyarakat Riau, terutama keberhasilannya memperjuangkan terbentuknya Provinis Riau yang sebelumnya tergabung dalam Provinsi Sumatera Tengah,’’ ujar Wan.

Dia menilai Wan Ghalib adalah sosok yang layak ditiru dan patut dicontoh generasi muda. Dia selalu berprinsip bagaimana mendahulukan kepentingan orang banyak dari kepentingan pribadinya.

‘’Dia orangnya bersahaja, santun, tegas sangat tangguh, pantang menyerah dan mudah bergaul. Semuanya ada pada dirinya,’’ ujar Wan yang mengaku akan terbang ke Pekanbaru dari Jakarta, besok (hari ini, red) untuk ikut melayat.

Anggota DPD RI, Abdul Ghafar Usman mengaku tahu betul bagaimana perjuangan Wan Ghalib untuk Riau. Semangatnya tak pernah pudar membela kepentingan masyarakat.

‘’Saya ingat ketika sama-sama jadi anggota DPRD Riau periode 1987-1992. Semangatnya memperjuangkan daerah dan hak-hak masyarakat Riau tak ada tandingnya. Walau sudah tua, semangatnya melebihi kaum muda,’’ kenang Ghafar.

Bupati Siak Drs H Syamsuar MSi mengatakan, Pemkab Siak dan seluruh lapisan masyarakat Siak merasa kehilangan atas kepergian Wan Ghalib. Sosok almarhum, dikenal sebagai orang tua yang selalu memberi nasehat dan masukan untuk kemajuan Siak.

‘’Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas jasanya, seraya mendoakan semoga Allah SWT mengampuni dosanya dan menempatkannya ke dalam surga Jannatun Naim,’’ doa Syamsuar.

Budayawan Riau, Yusmar Yusuf berpandangan, almarhum adalah tokoh yang bijak, keras hati namun begitu akomodatif ketika berdepan dengan anak-anak muda Riau baru ‘belajar berkuasa’.

Dia tak sampai hati mencederai anak-anak buah perjuangannya sendiri. Seorang yang tunak dengan dunia teks dan catatan. Berkat pendidikan dan endapan pengalaman yang melintasi empat zaman.

Di ujung usia senja, dia seakan dikepung sepi oleh gemuruh dan euforia pembangunan Riau yang tak menentu arah.

Dia seakan digiring masuk ke sebuah ‘gua yang gagu’ dan bersebahat dengan air mata. Air matanya adalah bancuhan getar suka cita, geram dan sesuatu yang belum selesai.

‘’Secara berdepan-depan, dia berkata pada saya pada sebuah malam, ‘Saya sayang dengan awak. Apapun tentang awak, akan saya bela’,’’ ujarnya menirukan.

Budayawan Riau Al Azhar menilai, almarhum adalah tokoh yang menyatu dengan kelahiran Provinsi Riau dan terus mengawal perkembangan provinsi ini sampai akhir usia. Belia-belia Riau sangat perlu bercermin padanya untuk belajar bagaimana menyayangi negeri ini melalui sikap yang tak pernah surut. ‘’Selamat jalan Pak Wan,’’ ujarnya.

Mengabdi untuk Riau
Semasa hidupnya, Wan sempat jadi Komisaris PT RAL yang memberi banyak masukan untuk perkembangan Riau. Banyak tokoh Riau yang dapat masukan dan teguran, termasuk Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP dan Wakil Gubernur Riau HR Mambang Mit yang bisa jadi orang terakhir mendengar suaranya dari telepon.

Di ulang tahunnya ke-90 pada 2010 lalu, almarhum sempat memaparkan ke Riau Pos apa yang terjadi di Riau saat ini sudah sangat jauh beda dibanding sebelumnya.

Dikatakannya, pembangunan Riau sudah jauh berkembang sebelum Provinsi Riau dibentuk dari keterjepitan kekuasaan. Sebelumnya, arah pembangunan masih belum banyak.

Cukup untuk menyejahterakan rakyat dan pembangunan sudah baik untuk Riau. Selain menyejahterakan masyarakat, Riau juga mulai tumbuh dengan kekuatan ekonomi yang baru dan harus dikembangkan untuk mencapai pengakuan nasional maupun internasional.

Perjuang Pembentukan Provinsi Riau
Wan Ghalib berpikir positif dan jauh ke depan, saat provinsi ini masih berbentuk Keresidenan Riau di bawah Provinsi Sumatera Tengah. Ketika itu, Riau justru tak dikenal sama sekali, termasuk oleh Mendagri Soenarjo, September 1955.  

Sebagai pelaku dan saksi sejarah, Wan Ghalib mengaku tak pernah putus asa menjelaskan dan memperjuangkan amanat yang dipercayakan Kongres Rakyat Riau (KRR) di Jakarta pada pusat.

Badan Penghubung yang dipimpinnya berjumlah sembilan orang dan dikenal dengan Tim Sembilan merupakan kekuatan inti perjuangan itu. Panitia Persiapan Provinsi Riau (P3R), badan penghubung serta masyarakat Riau mampu meyakinkan pemerintahan Soekarno dan berhasil membentuk provinsi sendiri.

Anggota Badan Penghubung awal antara lain Ketua Wan Ghalib, Sekretaris A Djalil M, dan anggota masing-masing M Sabir, Ali Rasahan, Azhar Husni, Hasan Ahmad, Umar Amir Husin, T Arief, Dt Bandaro Sati, Nahar Effendi dan Kamaruddin.

Tak lama terjadi perombakan pada anggota seperti T Arief, DM Yanur, Kamaruddin AH, Hasan Ahmad, A Manaf Hadi, Azhar Husni dan Hasan Basri. Ketika itu masih berbentuk Keresidenan Riau di bawah Sumatera Tengah yang merupakan gabungan tiga provinsi sekarang seperti Sumbar, Jambi dan Riau, negeri ini sangat tertinggal sekali.

Pembangunan lebih banyak ke Sumbar sebagai daerah induk sedang potensi besar justru ada di Riau dan Jambi.

‘’Atas dasar itulah, kami bergerak cepat untuk memisahkan diri dari provinsi induk agar bisa mengurus diri sendiri,’’ ujarnya ketika itu.(eko/gus/fed/yud/rio/aal/fia) Editor : RP Redaksi