PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Untuk pertama kalinya Yayasan Prajna Harmonis menggelar Chinese Culture Camp 2024, Ahad (15/12/2024).
Kegiatan yang diikuti ratusan siswa SMK Maitreya dari Pekanbaru, Dumai dan Bengkalis berlangsung di Fortunate Convention Hall Maha Vihara dan Pusdiklat Bumi Suci Maitreya.
Pembukaan Chinese Culture Camp ini dihadiri langsung oleh Wakil Konjen RRT di Medan, Xu Chunjuan, Ketua Yayasan Prajna Harmonis Indonesia Kasino, Ketua Yayasan Prajnamitra Maitreya Suanto.
Ketua delegasi Provinsi Hubei Tiongkok Mr. Xu Yueqian, Ketua Maha Vihara dan Pusdiklat Bumi Suci Maitreya Wijanto, Ketua PSMTI Riau Stephen Sanjaya, beberapa ketua dan perwakilan Ormas Tionghoa, Tokoh Masyarakat Tionghoa dan lainnya.
Wakil Konjen RRT di Medan, Xu Chunjuan sangat mengapresiasi terlaksananya Chinese Culture Camp.
Dengan adanya kegiatan ini, membuktikan jalinan silaturahmi antar masyarakat dan negara semakin harmonis, terutama bidang budaya dan kesenian tradisional.
Apalagi, budaya Indonesia sangat beragam, termasuk kesenian Tionghoa. Siswa bisa saling belajar dan memahami kesenian dari dua negara. Mudah-mudah saling meningkatkan kerja sama dan silaturahmi.
"Saya berharap Chinese Culture Camp bisa terlaksana di provinsi-provinsi lain di Indonesia. Karena Chinese Culture Camp sebenarnya sudah lama diagendakan, namun terhalang pandemi Covid-19 sehingga baru terlaksana hari ini,"ucapnya
Disisi lain, Ketua Yayasan Prajna Harmonis Indonesia, Kasino menambahkan kegiatan Chinese Culture Camp diikuti lebih 400 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maitreya Pekanbaru, Dumai dan Bengkalis dengan mendatangkan Tim Dosen Profesional dari Central China Normal University, Provinsi Hubei, Tiongkok.
Chinese Culture Camp bertujuan mempererat tali persahabatan antar negara melalui budaya dan kesenian yang di jembatani Yayasan Yayasan Prajna Harmonis Indonesia.
Dalam kegiatan ini, para siswa berkesempatan belajar seni dan budaya Tionghoa, seperti wushu, tarian tradisional Tiongkok, seni menggunting kertas, hiasan dan huruf, bahasa, kaligrafi Mandarin, serta budaya Tionghoa lainnya.
"Ada 400 siswa yang ikut dalam kegiatan ini, mereka bisa saling belajar banyak kebudayaan baik itu wushu, tarian tradisional Tiongkok, seni menggunting kertas, hiasan dan huruf, bahasa, kaligrafi Mandarin. Semoga kegiatan ini bisa terlaksana kembali ke depannya," tuturnya.
Laporan Prapti Dwi Lestari (Pekanbaru)