PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Sempat berobat ke rumah sakit di luar negeri, namun tidak kunjung ada hasil yang memuaskan. Saefur Rohman, warga asal Kabupaten Siak akhirnya membawa sang buah hati untuk berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad.
Adalah Atala Kenzio Rohman, yang telah menderita tumor Hemangioma sejak Desember 2023. Diceritakan Saefur, sebelum memutuskan untuk berobat kerumah sakit yang ada di Malaysia, ia sempat membawa sang buah hati berobat kerumah sakit swasta yang ada di Pekanbaru. Namun kondisinya juga tidak kunjung membaik.
"Alhamdulillah, dengan izin Allah dan penanganan dari tim dokter RSUD Arifin Achmad, kini tumor Atala mulai mengecil dan kondisinya terus membaik," kata Saefur.
Dokter spesialis bedah thorak kardio vaskuler RSUD Arifin Achmad dr Hariadi Hatta Sp B TKV mengatakan, untuk menangani pasien tersebut, ia dan dr Hotber Pasaribu SpA(K), berhasil menemukan metode inovatif dalam penanganan tumor Hemangioma tanpa operasi.
"Metode ini kami lakukan tanpa operasi, melainkan menggunakan teknik sclerosing agent dengan bahan yang terbuat dari ganggang atau gelatin. Fungsinya adalah membekukan darah di dalam sel tumor sehingga merusak pembuluh darah," kata dr Hariadi.
Menurut dr Hariadi, keberhasilan ini bukan tanpa dasar. Metode tersebut telah melalui penelitian panjang dan diterapkan pada empat pasien sebelumnya, semuanya berhasil. "Atala adalah pasien kelima, dan Alhamdulillah, dengan izin Allah, hasilnya sangat baik," ujarnya.
Dijelaskannya, kondisi pasien saat datang ke RSUD cukup mengkhawatirkan. Tumor telah menyebar dari tenggorokan hingga dada, menutupi sebagian paru-paru, sampai ke atas liver dan menyebabkan kesulitan bernapas.
"Saat itu, hanya setengah paru-paru Atala yang berfungsi. Namun, berkat metode ini, kini ia bisa bernapas tanpa alat bantu pernafasan atau ventilator," tambah dr Hotber Pasaribu.
Menurut dr Hariadi, awalnya tim dokter sempat mempertimbangkan tindakan operasi. Namun, rapat tim menyimpulkan bahwa risiko operasi sangat tinggi, bahkan dapat mengancam nyawa pasien.
"Kami juga sempat berkoordinasi dengan RSCM, tetapi biaya transportasi dengan pesawat Charter karena menggunakan ventilator mencapai Rp300 juta," jelasnya.
Dengan dukungan penelitian sebelumnya dan diskusi intensif bersama tim, termasuk dr Hotber Pasaribu, akhirnya diputuskan untuk menggunakan metode injeksi sclerosing agent. "Alhamdulillah, hasilnya sukses. Kondisi Atala membaik meskipun belum 100 persen pulih," imbuhnya.
Keberhasilan metode ini rencananya akan dipublikasikan melalui seminar dan jurnal medis, baik di tingkat nasional maupun internasional. "Kami berharap metode ini dapat membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa depan," pungkasnya.
Editor : RP Rinaldi