Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Karhutla Mulai Muncul di Daerah Pesisir Riau

Tim Redaksi • Selasa, 11 Februari 2025 | 10:09 WIB
Petugas gabungan berupaya memadamkan api yang membakar lahan gambut di Jalan Lintas Sungai Alam, Selat Baru, Desa Sungai Alam, Kecamatan Bengkalis.
Petugas gabungan berupaya memadamkan api yang membakar lahan gambut di Jalan Lintas Sungai Alam, Selat Baru, Desa Sungai Alam, Kecamatan Bengkalis.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Intensitas hujan di Riau mulai menurun dan banjir juga sudah tidak terjadi. Kini, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai muncul di daerah pesisir Riau, seperti Dumai, Bengkalis, dan Kepulauan Meranti.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima, saat ini di daerah pesisir Riau sudah memasuki musim kemarau sehingga potensi akan terjadinya karhutla sangat mungkin terjadi.

“Di daerah pesisir Riau seperti Dumai dan Bengkalis laporannya sudah sempat ada karhutla. Namun masih skala kecil dan bisa langsung diatasi. Ini juga menjadi kewaspadaan bagi kami,” sebutnya kepada Riau Pos, Senin (10/2).

Lebih lanjut dikatakannya, jika intensitas curah hujan terus menurun dan karhutla yang terjadi meluas, maka pihaknya juga akan segera melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk membahas penetapan Status Siaga Karhutla. “Biasanya penetapan Siaga Karhutla dilakukan pada Februari atau Maret,” ujarnya. 

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar karena hal tersebut dapat memicu terjadinya karhutla. ‘’Jangan membuka lahan dengan cara membakar yang dapat menyebabkan karhutla,” sebutnya.

Kebakaran Lahan Gambut di  Sungai Alam Meluas

Meski sempat dipadamkan, kebakaran lahan gambut di Jalan Lintas Sungai alam-Selat Baru, Desa Sungai Alam, Kecamatan Bengkalis makin meluas. Bahkan, Senin (10/2) api terus membesar. Tiupan angin kencang membuat api dalam sekejap melahap lahan gambut seluas belasan hektare tersebut.

Petugas pun tak mampu memadamkan api dan membiarkan api terus membakar semak belukar di lahan gambut tak bertuan tersebut. Dari pantauan di lapangan, upaya pemadaman api sudah dilakukan sejak Senin (3/2) pekan lalu. Hingga hari kedua, api masih menyala di kawasan perkebunan masyarakat dan semak belukar seluas sekitar tiga hektare.

Tim Satgas Gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan Damkar Kabupaten Bengkalis telah berada di lokasi sejak menerima laporan dari warga. Upaya pemadaman masih berlanjut dengan dukungan peralatan pemadam kebakaran yang mencakup mesin Vanguard 23 HP dan dua unit mobil Damkar.

Lokasi bekas kebakaran pekan lalu, terlihat sudah mengering, namun petugas gabungan, yang dipimpin Kapolsek Bengkalis AKP Faisal sudah sepekan berada di lokasi kebakaran sebelumnya. Yakni melakukan pendinginan dengan cara menggali lahan gambut yang terdapat api yang masih berada di dasar gambut.

Namun pada saat melakukan pendinginan lahan yang sudah terbakar, sekitar 1 km dari jalan lintas api kembali muncul. Perlahan mengeluarkan asap tipis dan tak lama berselang, gumpalan asap tebal langsung membubung ke udara dan dengan cepat membakar semak belukar di lahan gambut tersebut.

“Ya, padahal kami sedang melakukan pendinginan api di lokasi yang terbakar sebelumnya. Eh malah apinya menyala lagi. Ditambah angin kencang sehingga api tak terbendung lagi membakar semak belukar yang ada di lahan gambut tersebut,” ujar Kapolsek Bengkalis AKP Faisal saat berada di lokasi kebakaran, Senin (10/2) sekitar pukul 11.30 WIB.

Ia menyebutkan, saat api kembali muncul, memang kondisi angin cukup kencang. Makanya petugas hanya menunggu api padam dengan sendirinya dan setelah itu barudilakukan penyemprotan air di bekas kebakaran. “Ini wajib kami lakukan. Kalau tidak, api akan timbul lagi. Kebakaran di lahan gambut ini sepertinya sudah padam, ternyata di bagian dalam tanah, apinya masih membara. Seperti api dalam sekam,” ucapnya.

Sampai sore kemarin, petugas gabungan masih berjibaku memadamkan api. Bahkan petugas secara bergantian melakukan pemantauan dalam mengantisipasi api kembali muncul. Saat ini cakupan kebakaran lahan gambut sudah hampir menuju ke arah kebun milik Polres Bengkalis dan Kampus Institut Syariah Negeri Junjungan (ISNJ) Bengkalis.

Terkait sumber api, Kapolsek Bengkalis AKP Faisal menyebutkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Satrekrim Polres Bengkalis untuk menyelidiki penyebeb kebakaran. Namun sejauh ini pihaknya masih fokus untuk memadamkan apinya.

Sedangkan Koordinator Pusdatin Kecamatan Bengkalis, Muhammad Hidayat juga menyampaikan, kondisi cuaca yang panas dengan angin yang kencang menjadi tantangan dalam pemadaman.  “Kami terus berusaha maksimal untuk memadamkan api, dengan bantuan tim gabungan agar kebakaran dapat dikendalikan secepat mungkin,” ujarnya.

Sebanyak 34 personel gabungan dari BPBD, Damkar, Polsek, TNI, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terjun langsung ke lokasi untuk memadamkan api. Pendataan serta pelaporan rutin dilakukan untuk memantau perkembangan situasi. “Kondisi lahan yang kering dan mudah terbakar memperparah situasi. Kami juga mengantisipasi adanya perubahan arah angin yang bisa menyulitkan proses pemadaman,” jelas Hidayat.

Tim Damkar telah mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakatan untuk mempercepat respons. Sementara itu, pihak Polsek Bengkalis bersama TNI dan MPA terus berkoordinasi guna memastikan keselamatan warga sekitar. Warga Desa Sungai Alam diminta untuk tetap waspada dan tidak mendekati lokasi kebakaran. Pemadaman akan dilanjutkan pada hari berikutnya hingga api benar-benar dapat dikendalikan.

Tiga Titik Lokasi Berbeda di Meranti

Masuk dalam kategori rawan bencana karhutla, Kepulauan Meranti mulai dihantui munculnua sejumlah titik api dalam beberapa hari terakhir.  Seperti kemarin, tak jauh dari Kantor Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti muncul kebakaran. Lokasi kejadian persis di Kelurahan Selatpanjang Timur, Kecamatan Tebingtinggi. 

Pada saat bersamaan titik api juga diketahui menyala di Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat yang saat ini masih ditanggulangi oleh tim satgas. Situasi tersebut juga diakui Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kepulauan Meranti Muhlisin melalui Sekretaris Eko Setawan kepada Riau Pos, Senin (10/2).

“Satu dari dua titik lokasi bencana dapat ditanggulangi. Yang berhasil padam itu titik api di Kelurahan Selatpanjang Timur. Sementara di Tanjung Peranap Satgas masih berjibaku melakukan pemadaman,” bebernya.

Menurut Eko kondisi tersebut sudah mereka prediksi sejak beberapa tahun sebelum ini. Hal itu dapat dilihat dari hasil kajian risiko bencana (KRB) yang telah mereka kaji dari 2022 silam dengan melibatkan paraktisi dari UGM.

Selain peta KRB kondisi tersebut diperkuat dengan peta tematik Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang dikeluarkan oleh Public Weather Service yang dirilis oleh BMKG. “Artinya dari sumber data itu prakiraan kami, 2025 ini Kepulauan Meranti masuk dalam kategori rawan bencana. Termasuk rawan karhutla dengan tingkat kekeringan yang cukup tinggi,” bebernya. 

Menghadapi ancaman ini, BPBD Kepulauan Meranti telah mengintensifkan patroli bersama pihak terkait. Termasuk sejumlah perusahaan hutan taman industri dan perusahaan perkebunan setempat.

“Kami terus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, terutama saat kondisi cuaca panas seperti sekarang. Selain itu, personel BPBD bersama lintas sektor lainnya juga selalu siaga untuk melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan jika terjadi kebakaran,” tegas Muhlisin.

Selain pengawasan dengan langkah-langkah preventif terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar, BPBD juga mengoptimalkan sumber daya untuk melakukan pembersihan di daerah-daerah rawan serta menyiapkan tim pemadam yang selalu siaga 24 jam.

Dengan cuaca ekstrem yang meningkatkan risiko kebakaran, BPBD berharap masyarakat ikut berperan aktif dalam mencegah karhutla dengan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta segera melaporkan jika terjadi titik api di wilayahnya.

Hingga Februari ini, sudah terjadi tiga kebakaran di beberapa wilayah Meranti dengan total luas lahan terbakar mencapai 5,5 hektare. Tiga titik kebakaran tersebut terjadi di Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Pesisir dengan luas 2 hektare, Kelurahan Selatpanjang Timur seluas 0,5 hektare dan Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat seluas 3 hektare.

“Data yang masuk ke Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalop) baru dua lokasi, yaitu di Selatpanjang Timur seluas 0,5 hektare dan di Tanjung Peranap sekitar 2 hektare karena masih tahap pendinginan dan luas terakhirnya belum masuk. Untuk Desa Kedabu Rapat, kami belum menerima laporan dari Kepala Desa setempat,” ujar Muhlisin, Senin (10/2).

Muhlisin menjelaskan bahwa tim pemadam masih melakukan pendinginan di titik karhutla saat ini, sehingga data luas lahan terbakar masih bisa bertambah. Pihaknya juga terus melakukan pemantauan dan menunggu laporan resmi dari aparat desa terkait lokasi kebakaran lainnya.

Sebagai langkah pencegahan, BPBD Kepulauan Meranti telah mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti pembukaan lahan dengan cara dibakar.

“Kami terus berkoordinasi dengan aparat desa, kepolisian, dan TNI untuk mengantisipasi kejadian serupa agar tidak meluas. Kami juga meminta agar setiap kejadian karhutla segera dilaporkan, sehingga dapat segera ditangani sebelum semakin besar,” tegas Muhlisin.

Tim Gabungan Kesulitan Air

Hingga hari ketiga, tim gabungan masih berjibaku melakukan pendinginan titik api di Dusun Parit Senin, Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat, sejak terpantau Sabtu (8/2) lalu.

Kapolsek Tebingtinggi Barat, Iptu Iskandar Novianto yang memimpin langsung operasi di lapangan mengatakan, kondisi lahan gambut menyebabkan bara api tetap bertahan di bawah permukaan tanah, meskipun api di permukaan telah padam.

“Pendinginan masih berlangsung hingga saat ini. Api sudah padam, tetapi masih ada titik asap karena lahan gambut menyimpan bara di dalamnya. Kendala utama kami adalah sulitnya mendapatkan sumber air untuk pemadaman,” ujar Iptu Iskandar, Senin (10/2).

Selain minimnya air untuk pemadaman, tim di lapangan juga mengalami kesulitan air untuk minum sehingga harus menahan haus saat bertugas.(sol/ksm/wir)

Editor : Rindra Yasin
#Ancaman Karhutla #kebakaran hutan #daerah pesisir #riau #kebakaran lahan gambut