Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Tradisi Bersih-Bersih Sambut Ramadan, Ziarah Kubur, Balimau Kasai, Petang Megang, Makan Bersama hingga Lampu Colok

Redaksi • Jumat, 28 Februari 2025 | 09:51 WIB
Wakil Bupati Pelalawan, H Husni Tamrin SH melakukan penyiraman air kepada Camat Pelalawan Yusman Effendi dalam prosesi adat mandi Balimau Sultan, Selasa (25/2/2025).
Wakil Bupati Pelalawan, H Husni Tamrin SH melakukan penyiraman air kepada Camat Pelalawan Yusman Effendi dalam prosesi adat mandi Balimau Sultan, Selasa (25/2/2025).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Berbagai daerah di Provinsi Riau masyarakat lokal punya bermacam-macam tradisi dalam menyambut bulan suci. Di negeri Melayu, kegiatan ini sudah menjadi tradisi dan budaya turun-temurun yang hingga kini tetap dilakukan dan dipelihara sebagai warisan daerah. Tradisi tersebut diantaranya, Ziarah Kubur, Mandi Balimau, Petang Megang, Kenduri, Pawai Obor, Lampu Colok, Bersih-bersih masjid dan rumah, Pengajian, Makan Bersama dengan makanan khas serta zikir bersama.

Di Kabupaten Bengkalis, utamanya di Pulau Bengkalis, kegiatan menyambut bulan Ramadan sudah dilakukan masyarakat sepekan lalu. Yakni melakukan bersih-bersih masjid dan musala serta pemakaman secara bergotong royong. Bahkan sejumlah pemuda dan remaja, lima hari menjelang Ramadan sudah menyiapkan lampu colok.

“Ya, ini selalu kita lakukan sebelum masuk Ramadan mendirikan menara lampu colok,” ujar Andi, salah seorang pemuda Desa Senggoro yang sedang mendirikan menara lampu colok bersama teman-temannya.

Di tempat terpisah, ratusan peziarah kubur sejak dua hari lalu sudah memadati pemakaman. Bahkan seluruh pemakaman umum di Kota Bengkalis ramai oleh pengunjung. “Ini dah jadi tradisi orang-orang tua kami, sebelum kita menjalani ibadah puasa kita harus bersih-bersih diri. Baik bermaafan bersama keluarga dan juga melakukan kenduri arwah dan kemudian ke kuburan untuk mendoakan orang tua kita yang sudah meninggal dunia,” ujar Budhi, salah seorang warga Rimba Sekampung, usai menziarahi makam orang tuanya.

Selain ziarah kubur, biasanya satu hari menjelang puasa dilakukan mandi belimau. Yakni mandi dengan air yang sudah ada ramuan, berupa daun serai wangi, daun pandan wangi dan akar-akar tumbuhan. Diyakini mandi tersebut dapat membersihkan jiwa dan raga menjelang Ramadan, sehingga pada saat bulan puasa, totalias beribadah menjadi khusuk.

Ketua DPH LAMR Kabupaten Bengkalis Datuk Syaukani Alkarim menyebutkan, beberapa tradisi yang sangat menonjol di Bengkalis adalah Mandi Belimau maupun mandi membersihkan badan.

Biasanya tradisi Mandi Belimau digelar secara simbolis oleh Pemkab Bengkalis. Namun awal Ramadan ini tidak ada tanda-tanda kegiatan tradisional karena saat ini Bupati dan Wabup Bengkalis Kasmarni-Bagus Santoso sejak dilantik langsung mengikuti kegiatan retret di Magelang.

Tradisi Mandi Balimau Sultan

Sementara itu di Pelalawan, kegiatan menyambut Ramadan dilakukan dengan prosesi Mandi Balimau Sultan. Kegiatan ini digelar masyarakat Pelalawan di Kecamatan Pelalawan bersama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten.

Mandi Balimau Sultan merupakan tradisi turun-temurun dari Kerajaan Pelalawan. Pelaksanaan kegiatan itu, dilaksanakan di Istana Sayap Kerajaan Pelalawan. Dimana masyarakat berkerumun menyaksikan prosesi kegiatan di pinggir Sungai Kampar, Selasa (25/2) sore.

Tradisi ini diiringi dengan Mandi Balimau Kasai bagi masyarakat luas, dikenal Petang Maogang, setelah Sultan Pelalawan ke X, Assyaidis Syarif Kamaruddin Haroen menyiram kepala pada tetua adat ataupun kepala suku. Balimau Sultan dimulai dari menjemput pewaris Kerajaan Pelalawan oleh sejumlah pengawal berbaju adat. Sultan kemudian diarak untuk melaksanakan salat berjemaah.

Sebelum itu, Sultan Pelalawan mengambil wudu di sebuah telaga yang dikhususkan bagi keluarga kerajaan. Tempat air ini dikenal dengan Talago Nago. Usai salat Zuhur, Sultan Pelalawan memimpin rombongan untuk berziarah ke pemakaman pendahulunya, tak jauh dari masjid bersejarah yakni Masjid Hibah. Kemudian dilanjutkan makan bersama dengan tamu undangan dan masyarakat sekitar.

Puncak acara adalah penyiraman air dari akar dan bunga dicampur jeruk nipis kepada kepala suku ataupun tokoh adat. “Selalu beristigfar dan mengaji, perbanyaklah sedekah dan memberi, senantiasalah menghitung diri, dalam puasa jangan menyalah, serahkan diri kepada Allah, mestilah puasa membawa berkah. Saling menghormati janganlah lupa jaga persatuan sesama kita,” ujar Sultan Pelalawan Assyaidis Syarif Kamaruddin Haroen kepada Riau Pos, Selasa (25/2).

Sementara itu, Wakil Bupati Pelalawan H Husni Tamrin SH mengungkapkan apresiasinya terhadap upacara adat yang telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Pelalawan. Usai pelaksanaan mandi balimau Sultan, kegiatan akan dilanjutkan dengan pelaksanaan mandi Balimau Kasai Potang Maogang, Kamis (27/2). Kegiatan ini setiap tahunnya digelar di Balai Anjungan Tepian Ranah Tanjung Bunga, Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam.

Ziarah Kubur dan Mandi Limau

Sama seperti masyarakat yang ada di daerah-daerah lain, warga di wilayah Kota Dumai juga memiliki tradisi dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Salah satu tradisi warga Dumai dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang paling ramai dilakukan yakni melakukan ziarah kubur.

Salah seorang warga Kota Dumai, Khaidir (50) menjelaskan, sebenarnya ziarah ke makam kapan saja bisa dilakukan. Hanya saja, ziarah ke makam lebih ramai dilakukan menjelang datangnya bulan suci Ramadan. ‘’Dengan ziarah ke makam, kita dapat mendoakan arwah orang yang telah meninggal agar mendapatkan ampunan dan ditempatkan di tempat yang terbaik,’’ kata Khaidir.

Kebiasaan warga lainnya dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan, yakni melakukan kegiatan gotong royong untuk melaksanakan bersih-bersih di masjid maupun musala serta surau. Kegiatan aksi bersih-bersih di masjid maupun musholla dan surau, sebagian besar dilakukan di waktu hari libur.

Tradisi lainnya yang dilakukan oleh warga, yakni Mandi Limau. Hanya saja, pelaksanaan Mandi Limau dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan umumnya dilakukan di setiap rumah. Salah seorang warga Rimba Sekampung, Yahya (66) menjelaskan, sebagian besar tradisi menyambut datangnya bulan suci Ramadan sifatnya mandiri.

Wali Kota Dumai H Paisal mengajak masyarakat untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih. ‘’Bulan ini adalah kesempatan bagi kita untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat ukhuwah dan memperbaiki diri,’’ kata Paisal.

Syukuran dan Doa Bersama

Di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), secara khusus tidak ada tradisi untuk menyambut bulan suci Ramadan. Penyambutan bulan suci Ramadan sifatnya hanya dilakukan secara individu. Begitu juga dengan Mandi Belimau dan Ziarah Kubur. Kegiatan itu tidak terlalu menonjol di kalangan masyarakat Kabupaten Inhu.

Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Inhu, Datuk Seri Encik Al Junaidi ketika dikonfirmasi, juga membenarkan tidak ada kegiatan khusus untuk menyambut bulan suci Ramadan. “Kegiatan penyambutan bulan suci Ramadan sifatnya hanya dilakukan oleh masing-masing individu atau kekeluargaan,” ujar Datuk Seri Encik Al Junaidi, Kamis (27/2).

Menurutnya, kebiasaan masyarakat Kabupaten Inhu dengan datangnya bulan suci Ramadan dilakukan dengan kegiatan syukuran atau doa bersama. Kegiatan dilakukan di rumah dengan mengundang para tetangga sambil silaturahmi dan saling bermaafan.

Kegiatan itu juga dalam rangka mendoakan keluarga yang sudah meninggal dunia. Bahkan, kegiatan itu juga tidak semua warga Kabupaten Inhu yang melaksanakannya. “Biasanya hanya dilakukan oleh orang berada dalam ekonomi,” ungkapnya.

Untuk kegiatan mandi belimau sambungnya, juga hanya dilakukan oleh individu-individu di rumah masing-masing. Selain itu kebiasaan masyarakat Melayu Kabupaten Inhu sebelum masuk puasa Ramadan dengan cara saling mengunjungi antar sanak famili. Dimana, kunjung mengunjungi itu dilakukan oleh anak ke orang tuanya atau adik menjumpai abangnya.

Ziarah Kubur, Bersih Masjid dan Balimau

Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi siap-siap menyambut kedatangan bulan istimewa dalam satu tahun. Negeri ini memiliki beberapa tradisi yang lazim dilakukan masyarakat menyambut Ramadan atau bulan puasa. Beberapa diantaranya, Ziarah Kubur (makam), membersihkan masjid-masjid hingga Mandi Balimau. Tradisi ini bisa dilihat merata disemua kecamatan di Kuansing. Mulai Kecamatan Hulu Kuantan sampai Cerenti dan Singingi Hilir.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Kuansing, Drs Azhar MM pada Riau Pos, Selasa (25/2/2025), ziarah kubur atau ziarah malam, biasanya dilakukan secara bersama-sama dan serentak di dalam satu desa ataupun kaum. Tujuannya disamping membersihkan makam keluarga, juga merupakan ikhtibar bahwa manusia perlu mengingat bahwa suatu saat semuanya juga akan menghadap Sang Maha Pencipta.

Disamping itu, ziarah kubur ini juga dimanfaatkan untuk bersilaturrahmi sesama penziarah, saling maaf-memaafkan mau menghadapi puasa. Dimana, rasanya tidaklah mungkin orang satu persatu datang ke rumah-rumah warga lainnya untuk saling maaf-memaafkan. Tetapi disini, pada saat ziarah kubur, saat senja warga di desa atau kampung, berkumpul dan bertemu. “Inilah momen saling berjumpa dan maaf-memaafkan,”kata Azhar.

Begitu pula dengan kegiatan membersihkan masjid-masjid maupun surau-surau dan musala. Dilakukan satu atau dua hari menjelang bulan Ramadan. Agar saat beribadah orang menjadi nyaman dan khusuk beribadah. Baik salat berjamaah maupun ibadah-ibadah lainnya.

Kemudian, tradisi lainnya, Mandi Balimau. Mandi balimau bermakna memasuki bukan Ramadan mesti harus suci lahir dan batin. Makanya Mandi Balimau selalu diniatkan untuk membersihkan diri lahir dan batin menyambut Ramadan.

Tahun ini, Dinas Budpar Kuansing menetapkan lokasi Mandi Balimau di Kecamatan Singingi. Wakil Bupati Kuansing H Muklisin mengapresiasi dengan keterlibatan semua komponen masyarakat Kuansing dalam menjaga tradisi dan budaya menyambut Ramadhan. Baik bersih-bersih masjid, Ziarah Kubur hingga Mandi Balimau.

Ketua LAMR Kabupaten Kuansing, Pebri Mahmud berpandangan soal tradisi Ziarah Kubur, membersihkan masjid dan Mandi Balimau. Petuah adat mengatakan “Tadogak ke urang nan hiduik, dijalang rumah tanggonyo, Tadogak ke urang nan mati, ditengok pondam pakuburannyo”.

Ziarah Makam Sultan

Menjelang bulan suci Ramadan 1446 Hijriah, Bupati Siak Alfedri, dan Wakil Bupati Siak Husni Merza, para Kepala OPD dan forkopimda melakukan ziarah ke makam para sultan sebagai bentuk penghormatan dan doa untuk para pendahulu yang berjasa dalam sejarah Kabupaten Siak.

Ziarah diawali di Makam Raja Kecik, dilanjutkan ke Makam Tengku Buwang Asmara, kemudian menuju Kompleks Makam Koto Tinggi, dan ditutup di Makam Sultan Syarif Kasim II, Kamis (27/2) siang. Disebutkan Bupati Alfedri, selain sebagai wujud penghormatan kepada pendahulu, kegiatan ini juga dimaknai sebagai sarana introspeksi diri dan penyucian hati sebelum memasuki bulan yang penuh keberkahan.

“Jasa para Sultan patut dihormati dan tak hanya menjelang Ramadan saja kami berziarah, juga setiap ada momen seperti Hari Pahlawan dan Hari Kemerdekaan,” kata Bupati Alfedri.

Ziarah Kubur dan Mandi Belimau

Masyarakat Rokan Hilir (Rohil), memiliki tradisi yang selalu dalam dilakukan dalam menyongsong kedatangan bulan suci Ramadan. Tradisi yang biasa digelar adalah adalah melakukan mandi belimau dan ziarah kubur. Kegiatan tradisi tersebut biasanya dilakukan dalam sepekan sudah mulai dilakukan oleh masyarakat menjelang dilaksanakannya ibadah puasa.

“Kalau untuk berziarah biasanya sepekan sebelum puasa itu sudah dilaksanakan, namun kalau untuk mandi belimau biasanya baru dilaksanakan sehari sebelum ibadah puasa,” kata salah seorang tokoh masyarakat Sofyan Rambah di Bagansiapiapi, Kamis (27/2).

Ia menerangkan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Rohil tersebut sudah berjalan lama. Dimana dengan momen itu dimanfaatkan untuk berziarah yang terkesan lebih dari sekedar menjalankan rutinitas seperti biasanya. Kegiatan berziarah tidak hanya mendoakan almarhum/almarhumah saja tapi juga menjadi kesempatan untuk membersihkan makam dan sebagian pula menanam bunga atau tanaman untuk peneduh permukaan makam.

Dengan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat, biasanya Pemerintah Kabupaten Rohil tidak ada menggelar kegiatan tertentu berkaitan dengan menyonsong Ramadan. Berbeda dengan daerah lain yang memiliki tradisi Mandi Belimau ke sungai atau di ruang publik. Tradisi yang digelar oleh masyarakat Rohil lebih tertutup dan bersifat pribadi.

Ketum DPH Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Rohil Datuk Jufrizan melalui Sekum LAMR Rohil, Datuk H Bakhtiar SH menyebutkan tradisi Mandi Belimau sudah berlangsung lama dan masih dipertahankan di tengah masyarakat. “Dengan Mandi Belimau itu berarti mandi dengan daun-daun yang wangi untuk membersihkan badan,” kata Datuk Bakhtiar, Kamis (27/2).

Datuk Bakhtiar menerangkan untuk jenis limau yang biasa digunakan adalah jenis jeruk purut atau jeruk pagar. Biasanya yang paling sering digunakan adalah jeruk purut karena memiliki aroma yang khas, lebih kuat dan lebih wangi. Selain itu dicampur dengan mayang, pandan wangi dan beberapa daun lain yang berbau wangi juga dan setelah itu direbus. Rebusan air itulah selanjutnya didiamkan selama beberapa saat sampai dingin dan bisa dipergunakan untuk mandi dengan dicampur air bersih.

Ziarah Kubur dan Yasinan

Secara umum di Kepulauan Meranti memiliki kebiasaan dan rutinitas yang dilakukan dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tapi hampir sama seperti di daerah-daerah yang mayoritas bersuku Melayu, di Riau. Dominan warga menggelar yasinan di kediaman yang memiliki hajat diteruskan dengan mengunjungi kuburan keluarga yang telah meninggal dunia.

Yasinan bertujuan untuk mendoakan diri agar dapat menjalani sebulan penuh pelaksanaan Ramadan dan mendoakan keluarga yang telah mendahului mereka. Setiap dua pekan malam jelang Ramadan, ada saja masyarakat yang melaksanakan Yasinan. Pelaksanaan Yasinan akan diakhiri dengan doa dan makan-makan yang telah disiapkan oleh keluarga yang mengundang.

Iwan salah satu warga setempat menyebutkan jelang bulan suci Ramadan dirinya bersama keluarga selalu melaksanakan kegiatan yasinan di rumahnya. Dengan mengundang tetangga sekitar. “Kita manfaatkan kegiatan yasinan itu, dengan saling bermaafan jelang memasuki bulan suci Ramadan,” bebernya.

Masyarakat setelah menggelar yasinan, esok harinya, akan langsung melakukan ziarah kekuburan salah satu anggota keluarga yang telah meninggal dan telah mendahului. Karena serentak dilaksanakan oleh masyarakat, ribuan orang akan memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Tidak hanya masyarakat, pejabat juga ikut melakukan rutinitas ziarah kubur bersama keluarga. Seperti yang di sampaikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti Bambang Suprianto.

Baca Juga: 692 Peserta Ikut Kompetisi Olimpiade BK

Tradisi Petang Megang

Di Ibu Kota Provinsi Riau, Pemko Pekanbaru tetap menggelar tradisi Petang Megang menjelang Ramadan ini. Tradisi balimau digelar Jumat (28/2). Ada yang berbeda dengan tahun sebelumnya, tanpa prosesi arak-arakan serta balimau di tepian Sungai Siak. Semua rangkaian dipusat di areal Masjid Raya Pekanbaru.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pekanbaru, Masriya mengatakan, rangkaian tradisi Petang Megang kali ini lebih sederhana dibanding tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena keterbatasan anggaran karena dampak efisiensi. Jika tahun sebelumnya dianggarkan sebesar Rp300 juta, tahun ini hanya Rp100 juta.

Adapun rangkaian prosesi Petang Megang nantinya berlokasi di sekitaran komplek Masjid Raya Pekanbaru, Senapelan. Prosesi tradisi menyambut Ramadan ini hanya berlangsung di halaman masjid dan Komplek Makam Marhum Pekan. “Pada tahun ini Petang Megang bakal berlangsung lebih sederhana, memang berbeda dibanding tahun sebelumnya,” tambah Masriya.

Rangkaian tradisi Petang Megang bakal diawali dengan ziarah ke makam pendiri Pekanbaru, Marhum Pekan. Setelah ziarah, berlanjut ke prosesi acara di halaman Masjid Raya Pekanbaru. Prosesi balimau secara simbolis dilakukan ke sejumlah anak yatim. “Hanya kita usapkan air limau saja ke anak-anak yatim yang mendapat santunan. Tanpa diguyur, prosesinya sederhana saja,” terangnya.

Masriya menyampaikan bahwa rangkaian tradisi Petang Megang tahun ini tidak digelar di tepi Sungai Siak. Hal ini sesuai arahan Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar.

Ziarah Kubur

Masyarakat muslim di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir berbondong-bondong melaksanakan ziarah kubur dalam menyambut bulan suci Ramadan 1446 Hijriah. Terlihat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanjung Harapan ratusan peziarah silih berganti datang dan mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia.

Bagi masyarakat Tembilahan berziarah menjelang Ramadan bukan suatu tradisi melainkan kebiasaan sejak zaman dahulu. Ziarah kubur ini selain mendoakan keluarga yang telah tiada juga momen untuk mengingat kematian.

Tokoh Masyarakat Inhil, Ibnu Kemas Senjaya mengatakan, di Kabupaten berjuluk Hamparan Kelapa Dunia ini tidak memiliki tradisi seperti di daerah lain seperti Mandi Belimau. “Tapi kita tetap mandi bersih dan mensucikan diri sebelum masuk bulan Ramadan. Kita disini hanya saja berziarah kubur,” jelasnya.

Mandi Balimau Kasai

Mandi Balimau Kasai, merupakan tradisi budaya Kabupaten Kampar yang dilaksanakan sehari menjelang pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadan. Balimau Kasai dilaksanakan hampir di setiap daerah Kabupaten Kampar yang sudah turun temurun. Tahun ini, acara Balimau Kasai akan berlangsung di Batu Belah Kecamatan Kampar dan Pulau Kosiok Desa Muara Jalai, Kecamatan Kampar Utara yang sudah masuk dalam kalender iven wisata Riau yang akan dilaksanakan, Jumat (28/2).

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar Zamhur mengatakan, acara ini dilaksanakan sekali dalam setahun yaitu sehari menjelang masuknya bulan Ramadan. Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan Ramadan atau bulan puasa juga merupakan simbol penyucian diri.

Baca Juga: Ziarah Kubur, Bersihkan Masjid hingga Balimau, Tradisi Kuansing Menyambut Ramadan

“Dengan menggunakan jeruk yang diyakini dapat membersihkan kotoran dan untuk menghilangkan bau yang tidak sedap. Sedangkan kasai berati lulur, lulur tersebut terbuat dari air beras, kunyit, daun serai dan daun jeruk,” jelas Zamhur.

Tradisi Potang Bulimau

Masyarakat adat terutama di 5 Luhak yang berada di Kabupaten Rokan Hulu setiap tahunnya melaksanakan tradisi bulimau yang sudah menjadi turun temurun yang hingga kini masih dilestarikan. Kegiatan Potang Bulimau merupakan suatu upacara dan tradisi bagi masyarakat melayu yang dilaksanakan sehari atau dua hari menjelang masuknya bulan Ramadan.

Pelaksanaan Potang Bulimau tingkat kabupaten yang dilaksanakan di pelataran Masjid Agung Islamic Center (MAIC) Pasirpengaraian oleh Pemkab bersama LAMR Rokan Hulu, Kamis (27/2). Kegiatan Potang Bulimau di Kabupaten Rohul dilaksanakannya sehari sebelum masuknya bulan Ramadan, usai Salat Zuhur atau Ashar hingga menjelang masuknya waktu Salat Magrib.

Bupati Rohul Anton ST MM saat dikonfirmasi Riau Pos, Kamis (27/2) menyebutkan, tradisi Potang Bulimau yang dilaksanakan menjelang masuknya bulan Ramadan setiap tahunnya terus dilestarikan oleh Pemkab Rohul.

Anton mengatakan, Potang Bolimau merupakan ritual mandi atau mengusap kepala dengan air bermacam-macam jeruk (limau kapas, limau purut, limau manis, limau kesturi dan lain lain) sesuai kemauan dan kehendak yang membuat. (ksm/amn/sah/kas/mng/dac/fad/wir/ilo/*2/kom/epp/ose)

Editor : Arif Oktafian
#ziarah kubur #Lampu Colok #petang megang #Menyambut Ramadan 2025 #tradisi balimau kasai #potang balimau #mandi balimau