PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Berbagai problematika sosial, ekonomi, hingga politik secara nasional maupun internasional yang dialami umat Islam dibahas bernas dalam Dialog Syawal dan Temu Tokoh yang bertajuk Bahagia di Tengah Derita, Saatnya Berubah di Pondok Professor, Sabtu (26/4/2025).
Pada sambutan awal dari sohibul hajat, Ustaz Yadi menyampaikan bahwa dialog ini ditaja untuk menyikapi kondisi saudara muslim kita di Palestina yang mengalami genosida oleh penjajahan Israel. Sementara kita dalam momentum bahagia di bulan Syawal.
Sementara Prof Alaidin Koto selaku tuan rumah mengatakan bahwa tempatnya sangat terbuka untuk aktivitas yang mengusung intelektualitas dalam menyikapi berbagai persoalan umat.
Prof Alaidin menyempatkan membaca puisi karyanya berjudul "Kapal Oleng", sebuah pembacaannya terhadap kondisi Indonesia sekarang.
Berbeda dengan diskusi sebagaimana biasanya dimulai dari pemantik diskusi, acara yang ditaja oleh Forum Intelektual Muslim Riau (FIMR) dan dimoderatori Abu Atthariq ini dimulai dari tanggapan para peserta yang hadir.
Sebutlah keresahan yang disampaikan Ustaz Muhaimin. Pendakwah dan juga pengajar ini menyoroti kondisi generasi muda yang terjerumus ke narkoba dan aborsi dari hasil penelitian lembaga terkait.
Atau keresahan Kyai Zamroni, seorang pemimpin pondok pesantren yang mengeluhkan tekanan di dunia pendidikan yang dialaminya pribadi maupun secara kelembagaan.
Peserta lain seperti Rahmat Zaini menyoroti kondisi kemiskinan hingga kebodohan struktural yang dialami umat. Diperlukan perubahan yang holistik dan konfrehensif.
Sementara Bambang Rumnan mempertanyakan dari mana memulai perubahan. Karena secara faktual umat lemah secara politik, ekonomi bahkan kekuatan militernya.
Advokat Firdaus Basir malah mengusulkan perubahan bentuk negara adalah solusi untuk problematika umat.
Problematika umat pada gen Z disorot oleh Dian Saputra, seorang dosen di UIR. Ia mengatakan saat ini umat kehilangan sosok pemimpin panutan. Sedangkan genosida yang terjadi di Palestina saat ini adalah bentuk teguran Allah kepada Ketidakpedulian umat terhadap saudara seimannya.
Baca Juga: BRK Syariah Bengkalis Donasikan 1 Ekor Sapi untuk Program Kurban Baznas
Selanjutnya Marizal, seorang dosen UIN menyatakan bahwa sistem ekonomi selalu terikat dengan politik. Ekonomi Islam hanya bisa tumbuh dalam sistem politik Islam pula.
Terus perubahan seperti apa yang diperlukan? Menurut dosen statistik ini, mencari agent of change sebanyak 2,5% dari sebuah komunitas, efektif untuk menularkan semangat perubahan.
Menanggapi "curhatan" peserta diskusi, dua pemantik diskusi yaitu Kyai UES Al Jadid Abu Najmi, pendiri komunitas Yuk Segera Hijrah dan Prof Dr Anas Puri dari ketua FIMR bergantian mencoba menyampaikan solusi problematika umat tersebut.
Kyai UES mengurai problematika umat dimulai dari pertanyaan mengapa umat terkesan apatis? Bahkan hingga ke level tokoh dan pemimpinnya?
Menurutnya fenomena tersebut akibat agama tidak diberi ruang oleh sistem utk menyelesaikan semua problem umat. Dakwah banyak membahas ritual semata.
Padahal Allah menjamin Islam 100% menyelesaikan problematika umat tersebut. Sementara sistem yang ada paling menampung 5 persen saja. Untuk itu perlu membangun persepsi (pemikiran/perasaan/peraturan) yang sama secara berjamaah sehingga timbul kebangkitan umat.
Sementara Prof Anas menyikapi kondisi umat sekarang, menyampaikan empat poin yang menjadi bahan diskusi bersama.
Pertama, perlu membangun persepsi yang sama tentang standar kondisi buruk atau baik itu seperti apa.
Kedua, adanya diskusi ini fakta bahwa kita menyadari perlu ada perubahan dari kondisi yang sekarang.
Ketiga, kondisi ideal menurut Islam seperti apa yang kita inginkan? Keempat, apa metode yang ideal untuk melakukan perubahan tersebut?
Di ujung diskusi, peserta sepakat bahwa solusi problematika umat faktor utamanya adalah pemimpin yang mempunyai kapasitas mendekati empat sifat nabi: siddiq, fathonah, amanah dan tabligh. Pemimpin seperti ini muncul bila mayoritas umat telah mempunyai kesadaran kolektif terhadap sistem yang bisa menjalankan syariat secara kaffah.***
Editor : Edwar Yaman