PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau terus berusaha menginspirasi anak muda dan keluarga di Provinsi Riau dengan menghadirkan Humanitarian Cultural Exchange Tour 2025.
Event pertukaran kebudayaan Tionghoa yang menunjukkan atraksi seperti kungfu, tarian Afrika, nyanyian Mandarin, serta diinisasi Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau bekerjasama dengan Yayasan Care Centre (ACC) Indonesia serta
Yayasan Amitofo Care Center (ACC) Lesotho mendatangkan anak-anak berbakat dari Afrika yang berlangsung di Ballroom SKA Co Ex Pekanbaru akhir pekan lalu.
Menurut Ketua PSMTI Riau, Stephen Sanjaya, Senin (23/6/2025) PSMTI Riau sengaja menggandeng sejumlah Yayasan nasional dan internasional untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi masyarakat Tionghoa di Provinsi Riau tentang kebudayaan Tionghoa yang tidak hanya lahir di china tetapi juga ada di Afrika.
Dimana, para penari yang berasal dari Afrika ini merupakan anak yatim piatu yang telah menerima pendidikan ekstrakurikuler dalam seni bela diri Kungfu dan bahasa Mandarin.
Kedatangan mereka di Indonesia, khususnya di Pekanbaru ingin berbagi pengalaman dan kebahagiaan dengan para masyarakat di Pekanbaru sebelum nantinya mengunjungi sejumlah provinsi lainnya di Indonesia.
"Pertujukan ini pertama kali kami hadirkan di Pekanbaru. Ini sebagai bentuk pembelajaran kita semua tentang perjalanan hidup dan perjuangan mereka demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik serta berpendidikan tinggi dan bisa bermanfaat bagi negara dan masyarakat sekitarnya. Perjalanan hidup ini yang dirasa cukup mahal yang sayang dilewatkan oleh masyarakat Pekanbaru,"katanya.
Meksipun begitu, Stephen Sanjaya tetap berterimakasih atas kepedulian dan perhatian masyarakat Pekanbaru khususnya warga Tionghoa yang sudah melihat pertunjukkan serta kisah inspiratif yang dijalani oleh para anak-anak dari Afrika ini.
"Pekanbaru cukup beruntung, karena disinggahi rombongan dari Yayasan ACC. Dari pertunjukan tadi, kita bisa mengetahui arti kemanusiaan dan berguna untuk orang lain dan kami berterimakasih karena ballroom ska co ex Pekanbaru dipenuhi penonton yang di dominasi para generasi muda dan keluarga," terangnya.
Sementara itu, Ketua ACC Indonesia, Ely Kasim mengatakan, Humanitarian Cultural Exchange Tour 2025 merupakan pertukaran seni dan budaya Afrika-Riau. Rombongan ini terdiri 18 orang dari Negara Lesotho, Afrika. Mereka anak yatim-piatu dan tinggal di panti asuhan.
Meskipun berasal dari keluarga kurang mampu, lanjutnya, namun mereka mampu menunjukkan kemampuan dalam atraksi kungfu, lagu dan tarian. Mampu memukau penonton.
"Kita bisa lihat mereka berprestasi dan mempunyai bakat meski hidup dalam kekurangan. Mudah-mudahan bisa menginspirasi anak-anak Pekanbaru," ungkapnya.
Ditambahkannya, salah satu tujuan kegiatan untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama dan menggalang dana untuk pembangunan sekolah, tempat ibadah dan panti asuhan di Afrika.
Dalam lawatannya selama enam hari di Pekanbaru dari tanggal 19 hingga 24 Juni 2025 ini, rombongan akan mengunjungi berbagai tempat wisata dan sejarah.
Berikutnya rombongan akan mengunjungi Kota Palembang, Sumatera Selatan dan kota lainnya di Indonesia.
"Kami berharap pertujukan budaya dan perjalanan hidup mereka ini bisa menginspirasi masyarakat di Pekanbaru agar bisa meningkatkan kepedulian terhadap sesama,"ujarnya.
Direktur Amitofo Care Center (ACC) Lesotho, Pearl Wo menambahkan, Amitofo Care Center tidak hanya memberikan bantuan langsung kepada mereka yang berisiko.
ACC berfokus pada strategi jangka panjang yang memastikan anak-anak ini memiliki alat dan mengembangkan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan keluarga mereka di masa depan.
Selain kebutuhan dasar seperti makanan, air, sanitasi, dan tempat tinggal, Amitofo Care Center berfokus pada penyediaan masa kanak-kanak yang dapat membantu anak-anak ini berkembang, meningkatkan keterampilan, dan memelihara bakat serta kemampuan mereka.
ACC terus berinovasi dan meningkatkan mutu sekolah asrama untuk menyediakan pendidikan holistik yang berdampak nyata pada cara anak-anak ini melangkah maju di masa depan.
Program ACC dengan anak-anak ini sejalan langsung dengan enam tujuan pembangunan berkelanjutan pertama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
"Amitofo Care Center mengandalkan pendanaan dari para donatur swasta yang dermawan dari berbagai negara. Kami bekerja sama dengan masyarakat setempat, departemen terkait, dan mengandalkan tanah sumbangan untuk membangun dan mengoperasikan pusat-pusat kami,"tegasnya
Laporan Prapti Dwi Lestari (Pekanbaru)
Editor : M. Erizal