Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ternyata Bayi Gajah Terpisah dari Induknya dan Terlantar di Gunung Sahilan Telah Mati April Lalu di PLG Minas, Ini Kata BBKSDA Riau Usai Terungkap

Hendrawan Kariman • Selasa, 12 Agustus 2025 | 17:57 WIB
Bayi gajah berusia sekitar tiga bulan yang dilentarkan induknya, sempat diinfus sebelum dinyatakan mati pada 11 April 2025 lalu.
Bayi gajah berusia sekitar tiga bulan yang dilentarkan induknya, sempat diinfus sebelum dinyatakan mati pada 11 April 2025 lalu.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dunia konservasi kembali berduka. Seekor anak gajah yang ditelantarkan iduknya dan sempat terkatung-katung di Gunung Sahilan, Kampar, mati. Anak gajah berjenis kelamin betina yang diberi nama Yuni itu mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, tempat ia dititipkan.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengeluarkan pernyataan resmi pada Selasa (12/8/2025) bahwa anak gajah itu sudah lama mati.

Informasi ini baru diungkap setelah warganet ramai-ramai mempertanyakan keberadaan anak gajah itu di akun media sosial resmi BBKSDA Riau beberapa hari terakhir.

''Tim medis menyatakan bahwa anak gajah tersebut tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan mati pada tanggal 11 April 2025 sekitar pukul 5.00 WIB pagi,'' demikian disampaikan Kepala BBKSDA Riau Supartono.

Ketika disinggung kematian gajah itu tidak dipublikasikan, bahkan setelah beberapa bulan terlewati, Supartono meminta maaf kepada masyarakat. Ia menolak disebut kematian anak gajah baru berusia sekitar tiga bulan itu ditutup-tutupi.

''Kita mohon maaf sebelumnya. Tidak ditutupi, kita menunggu hasil dari tes laboratorium. Memang rentangnya waktunya panjang, karena tes labnya dilakukan dua kali,'' sebut Supartono.

Sekedar informasi Anak Gajah Sumatera itu awalnya dievakuasi dari Desa Gunung Mulya, Kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar pada 10 Maret 2025. Ia diduga ditelantarkan induknya dan ditinggal kawanan.

Video anak gajah ini yang mencoba mengikuti setiap pengendara melintas, yang terlihat menggemaskan, dengan cepat menyebar. Video amatir itupun viral di jagad maya.

Karena masih menyusui, BBKSDA Riau awalnya berupaya menggabungkan kembali dengan induk dan kelompoknya, tapi tidak berhasil, sehingga anak gajah segera dievakuasi ke PLG Minas di Kabupaten Siak.

Hal ini juga untuk memastikan agar anak gajah memperoleh asupan nutrisi dan perawatan yang intensif.

''Selama tiga hari berada di PLG Minas, anak gajah tidak mau menyusu dari susu formula. Selanjutnya tim medis berupaya untuk mendekatkan anak gajah tersebut ke indukan gajah lain di PLG Minas, namun indukan gajah lain tersebut menolak,'' sebut Supartono.

Upaya selanjutnya, anak gajah tersebut dipindahkan ke PLG Sebanga Kabupaten Bengkalis dengan harapan memperoleh indukan asuh dari induk gajah yang baru melahirkan. Namun lagi-lagi nduk gajah menolak. Akhirnya ia diberi makan buah-buahan.

Sejak saat itu disebutkan anak gajah ini cenderung berperilaku hiperaktif, sehingga dibuatkan kandang sementara untuk membatasi pergerakannya. Satu dokter hewa dan 3 mahout atau pelatih gajah ditunjuk untuk mengawasinya.

Lalu pada tanggal 8 April 2025, kondisi anak gajah menunjukkan penurunan kesehatan. Ia tidak mau makan hingga tim medis BBKSDA Riau selanjutnya melakukan upaya penanganan dengan memberikan nutrisi berupa air gula dan elektrolit.

Namun dua hari setelahnya, anak gajah tersebut kembali mengalami penurunan kondisi kesehatan hingga harus dilakukan perawatan intensif. Ia kemudian diberiman cairan infus dan elektrolit.

''Namun dia tidak mampu bertahan hidup setelah melalui berbagai upaya. Kita sudah coba dua kali mencarikan indukan dari induk gajah yang baru melahirkan, memberikan asupan nutrisi buah-buahan bahkan memberikan cairan inpus, tetap tak terselamatkan,'' sebut Supartono.

Setelah ditemukan mati pada 11 April 2025 sekitar pukul 5.00 WIB pagi, Tim medis BBKSDA Riau menurut Supartono langsung melakukan nekropsi atau bedah bangkai terhadap anak gajah.

Hasil nekropsi menunjukkan bahwa penyebab kematian diduga karena adanya peradangan lambung dan usus.

Selanjutnya sampel bagian organ penting dikirimkan ke laboratorium untuk
mengetahui diagnosa lebih lanjut penyebab kematian. Termasuk kemungkinan dugaan adanya serangan dari virus Elephant Endothelial Herves Virus (EEHV).

Namun hasil uji laboratorium di Medica Satwa Laboratories-Bogor, gajah negatif EEHV. Tidak puas, BBKSDA mencari second opinion dengan kembali melakukan uji Histopatologi di Institut Pertanian Bogor.

Hasilnya uji lab kedua ini Histopatologi ini gajah diketahui mengalami Pneumonia, hemoragia pada paru-paru yang menyebabkan kegagalan pernapasan hingga kematian individu.

Anak gajah juga mengalami Gastroenteritis atau radang pada lambung dan usus hingga dihidrasi. Hasil uji yang sama juga menerangkan bahwa anak gajah mengalami stress berat hingga sistem kekebalan tubuhnya menurun.

''Atas kejadian ini, kita ambil evaluasi dan melakukan pencegahan. Seluruh anak gajah diperiksa kesehatannya,'' tutup Supartono.

 

Editor : Eka G Putra
#pusat latihan gajah #bbksda riau #bayi gajah #gajah sumatera #gajah yuni mati #Ternyata anak gajah di gunung sahilan mati #plg minas #Anak gajah di gunung sahilan #anak gajah mati #Gajah sumatera di riau #anak gajah lucu