Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bahas Hutan Riau di APHI Editor Circle 2025

Redaksi • Selasa, 9 September 2025 | 15:12 WIB

Tiga narasumber memberi pemaparan mengenai kondisi hutan Riau dan permasalahannya di acara APHI Editor Circle yang ditaja Bisnis Indonesia di Hotel Aryaduta Pekanbaru, Senin (8/9/2025).
Tiga narasumber memberi pemaparan mengenai kondisi hutan Riau dan permasalahannya di acara APHI Editor Circle yang ditaja Bisnis Indonesia di Hotel Aryaduta Pekanbaru, Senin (8/9/2025).


PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Puluhan editor media massa di Riau duduk bersama dengan pihak Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan manajemen perusahaan kayu APP Sinar Mas dan APRIL di Hotel Aryaduta, Senin (8/9). Mereka duduk membahas masalah hutan serta keberlanjutan ekonominya.

Seminar APHI Editor Circle 2025 yang digelar Bisnis Indonesia ini mengambil tema “Menguatkan Ekonomi, Menjaga Keberlanjutan” dengan menghadirkan narasumber dari Ketua APHI Riau Muller Tampubolon, Adrianus Tantra dari RAPP dan Deni Widjaya dari APP Sinar Mas. Turut hadir sebagai keynote speaker Kasi Penegakan Hukum Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK Riau) Agus Suryoko dan Kepala Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah III Pekanbaru Fifin Arfiana Jogasara.

Ketua APHI Riau Muller Tampubolon mengatakan, sektor kehutanan memiliki peran yang strategis dan tak hanya berperan dalam bidang ekonomi.

Ia mengakui bahwa kontributor sektor kehutanan masih sering tak seimbang. “Saya berharap forum ini bisa menghadirkan perspektif dan menyatukan langkah untuk ekonomi dan kelestarian lingkungan. Bagaimana hutan bisa menciptakan ekonomi dan lapangan kerja,” ujarnya.

Dilanjutkannya, hutan Riau merupakan penghasil kayu terbesar dari Hutan Tanaman Industri (HTI). Luas Provinsi Riau adalah seluas 8.9 juta Ha, dengan kawasan hutannya seluas 5.3 juta Ha. Dari jumlah tersebut sebanyak total 1.763.745 Ha diberikan kepada 50 Perizinan Berusaha pemanfaatan Hutan (PBPH).

Perusahan HTI, dijelaskan Muller, bekerja dengan menerapkan tata cara kelola tanpa membakar lahan. Perusahaan HTI mulai dari pembibitan hingga pemanenan mempekerjakan sebanyak 45 ribu tenaga kerja. Jika digabung dengan anak dan istri maka ada sebanyak 120 jiwa yang dihidupi sebuah perusahaan HTI.

Sementara itu Deni Widjaya dari APP dalam pemaparannya membahas mengenai peluang kerja warga lokal, pembukaan lahan HTI tanpa bakar dan pembuatan program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA). APP Sinar Mas meluncurkan program Desa Makmur Peduli Alam pada tahun 2015, sebagai salah satu perwujudan kebijakan Konservasi Hutan dalam upaya mencegah kebakaran dan perambahan lahan serta memberdayakan masyarakat sekitar hutan secara sosial ekonomi.

Di pihak lain, Adrianus Tantra dari RAPP dalam pemaparannya mengatakan, perusahaan mereka dalam pengelolaan hutan berkelanjutan tidak membuka kawasan hutan sejak tahun 2015. Mereka pun berkomitmen untuk bebas deforestasi, konservasi dan restorasi, pengelolaan lahan gambut secara bertanggung jawab, menghormati dan mendukung masyarakat lokal, pengendalian kebakaran hutan dan lahan dan verifikasi dan transparansi.

Dalam acara tersebut sempat terjadi diskusi dan tanya jawab antara editor dan para narasumber. Persoalan hewan liar, tenaga kerja, konflik lahan, karhutla serta dampak kehutanan dibahas secara hangat

Kepala perwakilan Bisnis Indonesia Aang Ananda sebagai pihak penyelenggara mengucapkan terima kasih kepada peserta yang hadir sehingga acara berjalan dengan lancar dan bisa menghasilkan informasi baru yang komprehensif di industri kehutanan Riau.(ose/hbk)

Editor : Arif Oktafian
#sinar mas #april #aphi #hutan riau #2025