KAMPAR (RIAUPOS.CO) - Tim dosen Poltekkes Kemenkes Riau kembali menunjukkan komitmennya dalam mengabdi kepada negeri melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) di Desa Ranah Singkuang, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar.
Kegiatan ini mengusung tema besar “Optimalisasi Informasi Kesehatan, Keagamaan, dan Peraturan Undang-Undang dalam Pencegahan Stunting Berkelanjutan Melalui Website Desa Terpadu”. Kegiatan ini dilaksanakan Ketua Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Riau Nur Kholis MPd bersama salah satu anggota tim Dewi Septiana SST MH, dan koordinator pelibatan mahasiswa & mitra Muhammad Nufus Rahmatullah ST di Aula Desa Ranah Singkuang, Jumat (12/9).
Menurut Ketua Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Riau Nur Kholis MPd,Desa Ranah Singkuang dipilih karena berada di pedalaman Kampar yang merupakan salah satu desa binaan Poltekkes Kemenkes Riau. Desa ini dikenal memiliki cita-cita besar untuk mewujudkan konsep smart village. Namun, tantangan besar yang dihadapi adalah minimnya akses informasi, belum optimalnya peran karang taruna, dan keterbatasan keterampilan dalam memanfaatkan teknologi digital.
“Melihat kondisi ini, kami berusaha menghadirkan solusi yang terintegrasi, tidak hanya fokus pada pencegahan stunting melalui edukasi gizi dan kesehatan, tetapi juga membangun sistem informasi desa berbasis digital,” ujarnya
Dalam program ini, tim pengabmas melakukan serangkaian kegiatan, mulai dari sosialisasi pengelolaan website desa terpadu, pelatihan pembuatan website, hingga pendampingan penulisan artikel tentang kesehatan, keagamaan, dan peraturan undang-undang.
Hasilnya, berhasil diwujudkan satu Website Desa Terpadu yang kini dikelola langsung oleh Pemerintahan Desa & Karang Taruna Desa Ranah Singkuang yang dapat diakses melalui link: https://ranahsingkuang.id/
Melalui website tersebut, masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi seputar kesehatan ibu dan anak, gizi seimbang, pencegahan pernikahan dini, hingga regulasi hukum yang relevan. Bahkan, Pemerintahan Desa & Karang Taruna Desa Ranah Singkuang telah menghasilkan 15 artikel edukatif yang terdiri dari 5 artikel kesehatan, 5 artikel keagamaan, dan 5 artikel hukum.
Program ini tidak hanya berfokus pada literasi digital, tetapi juga mengedepankan pencegahan stunting. Edukasi diberikan dengan pendekatan lintas disiplin, perspektif agama, hukum, dan kesehatan.
“Harapannya, masyarakat lebih memahami pentingnya gizi seimbang, peran keluarga dalam kesehatan anak, serta aturan hukum yang melindungi generasi muda dari pernikahan dini,” jelasnya.
Salah satu anggota tim Dewi Septiana SST MH menegaskan bahwa pendekatan ini sangat penting, karena pencegahan stunting bukan hanya soal gizi, tetapi juga tentang kesadaran hukum dan nilai keagamaan yang humanis.
“Dengan kolaborasi ilmu ini, masyarakat lebih mudah menerima dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Anggota tim sekaligus koordinator pelibatan mahasiswa & mitra Muhammad Nufus Rahmatullah ST menambahkan, selain meningkatkan kesadaran kesehatan, program ini juga memperkuat kapasitas digital desa. (ayi/c)
Editor : Bayu Saputra