PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kepolisian Daerah (Polda) Riau melalui tim gabungan Ditreskrimum, Bidlabfor dan Polres Dumai tengah mendalami penyebab kebakaran kilang minyak milik Pertamina di Kota Dumai. Sebelumnya, tim yang dipimpin Kombes Pol Asep Darmawan ini mendatangi langsung tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran.
Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Anom Karibianto mengatakan, tim telah menerima paparan teknis dari pihak Pertamina, yang kemudian dilanjutkan dengan olah TKP.
“Kemarin tim labfor bersama Kapolres dan Kasat Reskrim Polres Dumai menerima paparan teknis dari tim Pertamina, kemudian ke TKP bersama-sama tim Pertamina dan dari tim labfor masih melakukan penyelidikan dan pendalaman,” ujar Anom, Sabtu (4/10).
Anom menambahkan, proses penyelidikan dan pendalaman masih berlangsung. Ia juga mengungkapkan adanya temuan penting di lapangan.
“Ada beberapa sampel yang diambil. Titik api pertama juga sudah diketahui,” ungkapnya.
Namun, Anom belum bisa mengungkap lebih jauh terkait temuan tim tersebut, lantaran harus diperiksa dan dianalisa lebih lanjut.
“Belum bisa (disimpulkan). Harus dilakukan pemeriksaan atau penyelidikan dulu,” tuturnya.
Peristiwa kebakaran terjadi di area Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) II Dumai, Riau. Api yang muncul sekitar pukul 20.00 WIB ini berhasil dipadamkan setelah lebih dari tiga jam berkat kesigapan tim pemadam internal. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Sejak meledak dan terbakar pada Rabu (1/10) malam, hingga Sabtu (4/10) proses investigasi penyebab terjadinya kebakaran Kilang Pertamina Dumai masih terus bergulir.
Area Manager Communication, Relations and CSR Kilang Pertamina Dumai, Agustiawan menyebutkan, tahapan dan proses investigasi sejauh ini berjalan dengan lancar, didukung berbagai pihak yang terlibat.
“Terkait dengan penyebab kejadian saat ini masih dalam peroses investigasi. Ada beberapa proses investigasi yang sedang berjalan baik oleh tim investigasi dari internal Pertamina maupun Ditjen Migas Kementerian ESDM. Pascakejadian, Polri, Disnaker, dan DLH sudah hadir untuk melakukan investigasi,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, total kerugian dan efek kerusakan akibat kebakaran tersebut masih belum diketahui. “Diinformasikan bahwa sampai saat ini masih dilakukan pemeriksaan terkait seberapa parah kerusakan yang terjadi dan langkah-langkah mitigasi dan perbaikan yang diperlukan sehingga unit ini bisa cepat beroperasi kembali,” lanjutnya.
Menurutnya, perlu waktu hingga akhirnya unit yang terbakar tersebut bisa beroperasi kembali. “Menurut estimasi kami, unit ini diperlukan waktu perbaikan kurang lebih 2-3 pekan untuk bisa beroperasi kembali,” tutupnya.(nda/azr)
Editor : Bayu Saputra