Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dilanda Angin Muson Australia, Suhu di Riau Capai 35°C

Redaksi • Rabu, 29 Oktober 2025 | 11:59 WIB
Seorang warga melindungi wajahnya dengan tangan dari sinar matahari yang cukup terik saat melintas di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Selasa (28/10/2025).
Seorang warga melindungi wajahnya dengan tangan dari sinar matahari yang cukup terik saat melintas di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Selasa (28/10/2025).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Selama beberapa hari terakhir, sebagian besar wilayah Riau dilanda cuaca panas terik dengan suhu udara berkisar 35 derajat Celcius (°C). Penguatan angin Muson Australia menjadi faktor penyebab suhu meningkat. Akibatnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali muncul.

Selasa (28/10), Forecaster On Duty Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Mari Frystine mengatakan, suhu udara maksimum di sejumlah wilayah Riau selama tiga hari terakhir masih berada pada kisaran normal antara 31 °C hingga 35 °C.

‘’Kondisi panas terik ini disebabkan oleh minimnya tutupan awan sehingga sinar matahari langsung menyinari permukaan bumi tanpa banyak hambatan. Apalagi, saat siang hari, posisi matahari juga berada tepat di atas horizon atau hampir tegak lurus di atas kepala yang juga menyebabkan suhu mencapai titik maksimum pada siang hari,’’ ujarnya, kemarin.

Mari menjelaskan, Angin Muson Australia adalah angin musiman yang bertiup dari Australia ke arah utara menuju Asia Tenggara (termasuk Indonesia) pada periode April hingga Oktober. Angin ini dikenal juga sebagai angin muson timur dan menyebabkan musim kemarau di wilayah Indonesia karena membawa udara yang relatif kering. 

“Angin Muson Australia membawa udara kering dan hangat dari wilayah Australia menuju Riau. Udara kering ini menghambat pembentukan awan, sehingga potensi hujan di wilayah Riau menurun untuk beberapa hari ke depan,” tambahnya.

Fenomena alam ini tidak hanya membuat udara di Provinsi Riau terasa panas dan terik, tetapi juga berpotensi menyebabkan permukaan lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar.

Sementara itu, berdasarkan pantauan cuaca BMKG Pekanbaru selama sepekan terakhir di wilayah Riau masih terdapat potensi hujan dengan intensitas 20 hingga 50 mm per hari yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu. Pelalawan, Siak Kepulauan Meranti, Kota Dumai, dan Rokan Hilir.

Sedangkan untuk wilayah yang tercatat mengalami hujan dengan intensitas lebat 50-100 mm/hari terjadi di Kabupaten Pelalawan.

“Sebagian besar wilayah Riau masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang hal ini disebabkan oleh beberapa wilayah Provinsi Riau sudah memasuki musim hujan dan kondisi dinamika atmosfer juga mendukung pertumbuhan awan hujan,” ucapnya.

Perkiraan cuaca, di wilayah Provinsi Riau untuk sepekan akan turun hujan dengan intensitas ringan hingga lebat terjadi di Rokan Hulu, Rokan Hilir, Dumai, Kampar, Pekanbaru, Bengkalis, dan Kuantan Singingi terjadi pada tanggal 2 November 2025.

Sedangkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diperkirakan terjadi di Siak, Kepulauan Meranti, dan Pelalawan pada 31 Oktober, 1 hingga 2 November 2025. Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir juga hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada 30-31 Oktober 2025.

Suhu udara Riau selama sepekan ke depan berkisar antara 23 °C-35 °C dengan kelembaban udara berkisar antara 50 persen hingga 95 persen.

Melihat perubahan cuaca ini, BMKG Pekanbaru mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menjaga kondisi lingkungan sekitar dengan tetap menjaga lahan agar lembab dengan cara menyiraminya sehingga tidak berdebu dan mengurangi risiko kebakaran.

“Gunakan juga payung, jaket, dan tabir surya untuk melindungi diri dari paparan sinar matahari langsung, serta jangan lupa perbanyak minum air agar tubuh tetap terhidrasi,” tegasnya.

Karhutla di Tiga Daerah
Cuaca panas yang melanda Provinsi Riau beberapa waktu belakangan kembali berdampak terhadap munculnya kembali kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tiga daerah yakni Kabupaten Kampar, Indragiri Hilir (Inhil), dan Siak.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal mengatakan, karhutla di Kampar terjadi di daerah tanah mineral perbukitan. Sementara, di Inhil terjadi di lahan gambut. “Karhutla dilaporkan muncul lagi di Riau, yakni di Kampar dan Inhil. Namun skalanya masih kecil dan langsung dipadamkan,” katanya, kemarin.

Lebih lanjut dikatakannya, untuk pemadaman di Kampar pihaknya sudah mengarahkan helikopter water bombing. Pasalnya lokasi karhutla berada di daerah perbukitan dan sulit dijangkau oleh tim darat. “Untuk karhutla di Kampar sudah dikirim helikopter. Saat ini sudah dapat dikendalikan. Termasuk di Inhil juga,” ujarnya.

Saat ini masih ada helikopter water bombing yang stand by di Riau. Hal ini karena Status Siaga Darurat Karhutla di Riau masih ditetapkan hingga akhir November mendatang. “Rencananya (Status Siaga Darurat Karhutla) akan dicabut karena sudah masuk musim hujan, tapi melihat kondisi seperti ini kita pending dulu pencabutan statusnya,” sebutnya.

Dua Helikopter Dikerahkan di Bukit Melintang Kuok
Dua helikopter water bombing dikerahkan untuk memadamkan karhutla yang meluas di Desa Bukit Melintang, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar, Selasa (28/10). “Kami berada di titik api di Desa Salo. Untuk kebakaran di Kuok karena medan sangat sulit dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat, maka diturunkan heli water bombing,” ujar Plh Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kampar Edison.

Ia menjelaskan, kebakaran mulai muncul sejak siang hari dan masih berlangsung hingga sore. Akses menuju lokasi yang sulit dilalui membuat tim darat kesulitan menjangkau area terdampak, sehingga bantuan udara menjadi langkah yang paling efektif. “Kemudian pihak provinsi mengirim dua unit heli water bombing. Untuk luas area yang terbakar belum bisa kami inventarisasi, namun diduga cukup luas,” tambahnya.

Dua helikopter tersebut hilir mudik di langit Desa Kuok, mengambil air dari Sungai Kampar untuk kemudian disiramkan ke titik-titik api. “Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Apalagi kondisi cuaca panas serta angin kencang dapat mempercepat perluasan area kebakaran,” imbau Edison.

Titik Api di Kecamatan Kandis dan Tualang Padam
Dua titik api muncir di Siak. Ahad (26/10) terdeteksi di Kandis dan Senin (27/10) di Tualang. Demikian dikatakan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Siak Novendra Kasmara. ‘’Titik api di Kandis dan Tualang. Alhamdulillah bisa dipadamkan melalui klaster Kandis dan Klaster Tualang,’’ ujarnya.

Titik api di Kandis, lokasinya ada Kampung Bekalar, Dusun Sungai Leko RT 1 RW 1. Luas semak belukar yang terbakar 30 x 60 meter persegi. Sedangkan di Tualang, yang terbakar lahan kosong, lokasinya di Jalan Petaling Jaya Kampung Perawang Barat.“Yang terbakar 30x30 meter persegi,” jelasnya.

Novendra pun mengajak masyarakat tetap menjaga lahannya dan tidak melakukan pembakaran dalam mengolah lahannya. Demikian juga dengan perusahaan agar melakukan pemantauan di areanya, serta membekali dengan peralatan pompa, dan lain sebagainya sebagai langkah mencegah api membesar.

“Kami juga tetap memantau melalui setiap cluster dan jika terjadi kebakaran cepat melakukan penanganannya,” katanya. ‘’Dalam hal ini, diperlukan kesadaran dalam mencegah terjadinya karhutla yang dilakukan secara terpadu oleh semua elemen. Karena mencegah lebih baik dari pada mengatasi,’’ tambahnya.(ayi/sol/kom/mng/das)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
#angin muson #australia #riau #suhu