Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Korban Banjir dan Tanah Longsor Aceh Digambarkan Mirip Zombie, Menjarah Hanya untuk Bertahan Hidup

Redaksi • Rabu, 3 Desember 2025 | 14:45 WIB
Kondisi banjir di salah satu daerah yang dirilis Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Selasa (2/12/2025) malam.
Kondisi banjir di salah satu daerah yang dirilis Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Selasa (2/12/2025) malam.

BANDA ACEH (RIAUPOS.CO) -- Bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menewaskan ratusan orang. Pasca bencana daerah terdampak hingga kini masih dalam kondisi yang memprihatinkan.

Di Aceh misalnya, wilayah terdampak bencana hingga kini masih menghadapi krisis makanan, air bersih, listrik, serta akses komunikasi yang hampir lumpuh total. Bahkan hidup mereka digambarkan seperti zombie. Mereka terpaksa menjarah untuk bertahan hidup.

"Maaf Pak Presiden, kondisinya sudah tidak bisa ditolerir," kata salah seorang warga Aceh, Erlanda Juliansyah Putra, mengungkapkan dalam media sosial Instagram, Rabu (3/12).

Situasi beberapa hari terakhir membuat masyarakat mulai kehilangan harapan. Mereka mendesak pemerintah membuka akses bantuan internasional. Erlanda menilai, fokus penanganan bantuan yang terpecah di tiga provinsi membuat distribusi logistik semakin terhambat.

Erlanda pun meminta pemerintah pusat memberikan izin agar bantuan internasional dari negara-negara sahabat dapat masuk. "Fokus bantuan terpecah di tiga provinsi. Izinkan Aceh dibuka akses untuk menerima bantuan internasional," ucap Erlanda.

Dikatakannya, pemerintah kerap dianggap salah dalam situasi darurat seperti ini. Namun, di lapangan, masyarakat benar-benar berada dalam kondisi ekstrem. "Apa pun yang negara perbuat akan terlihat salah di mata masyarakat. Ketika negara dinilai tidak mampu menjamin kehidupan warganya, rakyat lapar, haus, gelap dan mencekam," tuturnya.

Saat ini memang banyak masyarakat kelaparan dan kehausan, karena seluruh jalur suplai terputus. Kondisi tersebut membuat bantuan logistik dari pemerintah maupun relawan sulit menjangkau wilayah pedalaman. "Masyarakat lapar, mereka haus, akses terputus!" tegasnya.

Aceh, dikatakan Erlanda memiliki kondisi geografis yang luas dan kompleks, sehingga akses ke wilayah tengah, barat, dan timur berbeda-beda tingkat kesulitannya. "Aceh itu luas dan untuk ke wilayah tengah, barat dan timur aksesnya itu berbeda," urainya.

Saking sulitnya beberapa daerah di Aceh, warga terpaksa menjarah demi bertahan hidup. Menurutnya, keadaan semakin mencekam terutama saat malam hari, karena tidak ada penerangan dan sinyal komunikasi terputus. "Kami sudah seperti zombie, menjarah untuk bertahan hidup," ungkap Erlanda.

Bahkan, pada berbagai titik yang terisolasi, suasana digambarkan benar-benar gelap dan mengkhawatirkan. Ia menyebutkan sejumlah daerah terdampak parah, di antaranya Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Utara, Pidie Jaya, Bireuen, hingga Nagan Raya (Beutong). "Daerah ini terlalu luas dan susah dijangkau," ujarnya.

Erlanda berharap pemerintah membuka kembali ruang bagi dunia internasional untuk membantu warga terdampak bencana di Aceh. Dia pun mengingatkan kembali pengalaman pahit Aceh saat tsunami 2004. Menurutnya, saat itu bantuan internasional menjadi penyelamat utama masyarakat. "Izinkan kami membuka akses untuk negara asing membantu kami," pungkasnya.

Sumber: Jawapos.com

Editor : Rinaldi
#bertahan hidup #tidak ada makanan #banjir bandang aceh #zombie