PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pemerintah kabupaten/kota di Riau yang menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi terus bertambah. Hingga Kamis (11/12), sudah 10 daerah yang menetapkan status tersebut. Status tersebut sebagai bentuk kesiapsiagaan dini karena saat ini Riau sudah memasuki musim hujan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal mengatakan, dari 10 kabupaten/kota tersebut pihaknya baru menerima surat keputusan (SK) penetapan status tersebut dari sembilan daerah. Yakni Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Siak, Rokan Hilir (Rohil), Indragiri Hilir (Inhil), Bengkalis, Kuantan Singingi (Kuansing), Kampar, Pekanbaru, dan Dumai.
“Saat ini sudah sembilan daerah di Riau yang sudah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi dan SK-nya sudah kami terima. Infonya Indragiri Hulu (Inhu) juga sudah menetapkan, tapi SK -nya belum kami terima. Kalau termasuk Inhu, berarti sudah 10 kabupaten/kota yang menetapkan status,” ujarnya, Kamis (11/12).
Dengan demikian, tinggal dua daerah lagi yang belum menetapkan status serupa yakni Kabupaten Pelalawan dan Kepulauan Meranti. “Kami mendorong agar daerah yang belum menetapkan, segera menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi agar ketika terjadi bencana dapat segera dilakukan tindakan,” sebutnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indragiri Hulu (Inhu) resmi menetapkan status ini melalui rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Inhu Zulfahmi Adrian AP MSI, Kamis (11/12). Sebelum penetapan status ini, dilakukan diskusi dan tanya jawab yang dipandu oleh Sekdakab Inhu.
Bahkan, pihak Polres Inhu menyarankan perlunya simulasi penanganan bencana. “Penetapan Status Keadaan Darurat Bencana Hidrometeorologi sebagai upaya untuk memudahkan penanganan dan pengendalian hingga evakuasi,” ujar Sekdakab Inhu Zulfahmi Adrian.
Dikatakannya, Kabupaten Inhu terdiri dari 14 kecamatan. Dari jumlah ini, 13 kecamatan di antaranya berpotensi terjadi bencana khusus banjir. “Wilayah Kabupaten Inhu lebih dominan terjadi banjir ketika musim hujan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala KPBD Inhu Mulyadi SSos dalam pemaparannya menyampaikan, potensi bencana di Inhu diantaranya, gempa bumi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan serta cuaca ekstrem. “Bencana Hidrometeorologi biasanya terjadi akibat peristiwa cuaca ekstrem atau perubahan iklim yang menyebabkan dampak besar terhadap kehidupan manusia, lingkungan, dan infrastruktur,” ucap Mulyadi.
Untuk penempatan Status Keadaan Darurat Bencana Hidrometeorologi berlaku hingga 31 Februari 2026. “Penetapan status keadaan darurat bencana tersebut bisa diperpanjang atau tergantung perkiraan penyelesaian penanganan dampak ancaman,” terangnya.
Waspada Hujan Petir dan Angin Kencang
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG Pekanbaru mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi di Provinsi Riau. Kamis (11/12), Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Anggun R menjelaskan, berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru, sejak pagi hari terpantau udara kabur berawan mendominasi.
Hujan dengan intensitas ringan diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Indragiri Hilir. Siang hingga sore hari cuaca diperkirakan cerah berawan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, Siak, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Pelalawan, Bengkalis, Pekanbaru, dan Dumai.
Malam hari cuaca masih cerah berawan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Rokan Hulu, Rokan Hilir, Indragiri Hilir, dan Kampar. Dini hari cuaca cenderung udara kabur berawan tanpa adanya potensi hujan.
“Waspada hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Kampar, Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Indragiri Hilir pada siang/sore, dan malam hari,” imbaunya.
Suhardiman Amby Pilih Tidak Keluar Daerah
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengeluarkan intruksi larangan Kepala Daerah meninggalkan tempat atau ke luar kota hingga 15 Desember 2025. Bupati Kuantan Singingi Dr H Suhardiman Amby MM, pun siap melaksanakan intruksi Mendagri Tito Karnavian itu. “Kita siap jalankan instruksi Mendagri,” ujar Suhardiman Amby, Kamis (11/12).
Menurut Suhardiman Amby, ada 11 kecamatan di Kuansing yang berpotensi terkena bencana banjir luapan Sungai Kuantan, jika curah hujan tinggi. 11 kecamatan itu yakni Kecamatan Hulu Kuantan, Kuantan Mudik, Gunung Toar, Kuantan Tengah, Sentajo Raya, Benai, Pangeran, Kuantan Hilir, Kuantan Hilir Seberang, Inuman, dan Cerenti.
Lalu ada juga tiga kecamatan yang dilalui anak sungai, yakni Kecamatan Singingi, Singingi Hilir dan Logas Tanah Darat. “Karena itu, surat Mendagri akan kita ikuti sesuai arahan, kecuali ada Rakor khusus atas perintah Presiden Prabowo,” tegasnya.(sol/kas/ayi/dac)