PEKANBARU (RIAUPOS.CO)- Provinsi Riau menjadi salah satu lumbung ikan laut berorientasi ekspor terpenting di Indonesia bagian barat. Dengan produksi sekitar 114 ribu ton per tahun dan nilai ekonomi mencapai Rp3,1 triliun, sektor perikanan tangkap menjadi penopang utama perekonomian pesisir dan sumber penghidupan ribuan nelayan.
Guru Besar Ilmu Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau (Unri), Prof. Ir. Eni Yulinda, M.P., Ph.D, mengatakan keunggulan Riau tidak terlepas dari posisi geografisnya yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, dua wilayah perairan dengan sumber daya ikan yang melimpah.
"Sekitar 92 persen produksi ikan laut Riau berasal dari empat kabupaten utama, yaitu Rokan Hilir, Bengkalis, Kepulauan Meranti, dan Indragiri Hilir. Dari wilayah inilah sekitar 30 persen hasil tangkapan diekspor, terutama ke Malaysia dan Singapura," ujarnya, Ahad (18/1/2026).
Menurut Eni Yulinda, ekspor ikan bukan sekadar angka perdagangan, melainkan sumber penghidupan bagi ribuan nelayan sekaligus penyumbang signifikan bagi pendapatan daerah. Namun, keberlanjutan ekspor ikan laut Riau tidak hanya ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam.
"Faktor penentu utamanya justru stabilitas pasokan, yang sangat bergantung pada nelayan sebagai produsen utama,"katanya.
Ia menjelaskan, mayoritas nelayan di Riau masih berskala tradisional dengan armada sederhana, modal terbatas, dan tingkat pendidikan yang relatif rendah.
Kondisi tersebut membuat nelayan sangat bergantung pada tauke, baik pedagang pengumpul, agen, maupun eksportir, yang berperan sebagai penyedia modal sekaligus pembeli hasil tangkapan.
Dalam masyarakat pesisir Riau, lanjut Eni, tauke bukan sekadar aktor ekonomi, melainkan institusi sosial-ekonomi.
"Tauke membeli seluruh hasil tangkapan nelayan, menyediakan kebutuhan hidup secara kredit, meminjamkan modal, bahkan menjadi penyangga ekonomi rumah tangga nelayan saat musim paceklik,"jelasnya.
Hubungan tersebut membentuk rantai pasok ekspor ikan yang khas, di mana aliran ikan, uang, dan informasi saling terhubung erat. Dalam sistem ini, trust atau kepercayaan memegang peran sentral.
Berdasarkan riset selama satu dekade terakhir, Eni Yulinda menyebut struktur pelaku rantai pasok ekspor ikan di Riau relatif sama, mulai dari nelayan, pedagang pengumpul, agen, eksportir, hingga importir luar negeri. Namun, pola hubungan antar pelaku sangat beragam, bahkan dalam satu kabupaten.
"Di Rokan Hilir, misalnya, nelayan ada yang menjual langsung ke eksportir, ada pula yang melalui pedagang pengumpul sebelum diteruskan ke Dumai atau Sumatra Utara. Sementara di Indragiri Hilir, rantai pasok lebih sederhana karena nelayan menjual langsung ke eksportir yang mengirim ikan ke Singapura melalui Batam,"paparnya.
Fenomena unik ditemukan di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis. Di wilayah ini tidak terdapat pedagang pengumpul. Nelayan yang mayoritas berasal dari komunitas adat Suku Akit menjual ikan langsung ke eksportir, bahkan sebagian hasil tangkapan dijemput langsung di tengah laut.
"Meski jumlah penduduk Suku Akit hanya sekitar 5.000 jiwa atau sepertiga dari total penduduk Pulau Rupat, kontribusi mereka mencapai 58 persen produksi ikan laut Bengkalis, dan sebagian besar diekspor ke Malaysia," ungkapnya.
Menurut Eni, kelancaran sistem tersebut tidak mungkin terjadi tanpa kepercayaan yang kuat. Nelayan percaya tauke akan membeli seluruh hasil tangkapan dan membayar tepat waktu. Sebaliknya, tauke percaya nelayan tidak akan menjual ikan ke pihak lain meskipun harga pasar berfluktuasi.
"Bahkan, kepercayaan antartauke lintas daerah dan lintas provinsi sering dibangun atas dasar hubungan kekerabatan dan etnis yang telah terjalin turun-temurun sejak abad ke-19," katanya.
Hasil penelitian empiris menunjukkan bahwa trust bukan sekadar nilai sosial, melainkan faktor strategis penentu kinerja rantai pasok ekspor ikan. Di Rokan Hilir, trust terbukti berpengaruh signifikan terhadap kinerja rantai pasok dan memediasi produktivitas serta integritas nelayan, dengan kontribusi lebih dari 55 persen. Temuan serupa juga terlihat di Pulau Rupat.
"Di komunitas nelayan Suku Akit, trust memediasi pengaruh modernisasi perikanan, pendidikan, dan dukungan pemerintah hingga mencapai 81,5 persen terhadap kinerja rantai pasok,"jelas Eni.
Ia menegaskan, modernisasi alat tangkap dan kebijakan pemerintah tidak akan efektif tanpa fondasi kepercayaan yang kuat antara nelayan dan tauke. Justru, modernisasi seperti penggunaan perahu motor, alat navigasi, dan komunikasi digital dapat memperkuat trust karena meningkatkan produktivitas dan akurasi nelayan.
"Sebaliknya, dukungan modal dan teknologi dari tauke juga meningkatkan kepercayaan nelayan bahwa usaha mereka berkelanjutan," tambahnya.
Menurut Eni Yulinda, menjadi pelajaran penting bagi pembangunan perikanan nasional. Penguatan ekspor tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, modal, dan infrastruktur, tetapi juga harus memasukkan dimensi kepercayaan dalam desain kebijakan, regulasi, dan kelembagaan.
"Transparansi harga, kepastian pembayaran, komunikasi terbuka, serta penguatan kelembagaan lokal berbasis kepercayaan adalah kunci keberlanjutan ekspor ikan laut,"pungkasnya.
Editor : Eka G Putra