PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau menerima laporan masih ada lima daerah yang terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Jumat (6/2). Lima daerah tersebut yakni Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, Siak, Pelalawan, dan Dumai.
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan Jim Gafur mengatakan, karhutla di lima daerah tersebut hingga saat ini masih dalam tahap pemadaman dan pendinginan. ‘’Dalam melakukan pemadaman, tim di lapangan juga mendapatkan bantuan dari pihak swasta,’’ ujarnya, Jumat (6/2).
Untuk pemadaman karhutla di Pelalawan, tim di lapangan juga mendapatkan bantuan helikopter water bombing dari pihak perusahaan. Pasalnya saat ini Provinsi Riau belum ada bantuan helikopter dari pemerintah pusat. “Karena belum menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla, maka Riau belum memiliki helikopter water bombing. Namun untuk di Pelalawan ada bantuan dari pihak perusahaan,” ujarnya.
Edy kembali mengingatkan pemerintah kabupaten/kota di Riau yang daerahnya sudah terjadi karhutla untuk dapat menetapkan Status Darurat Karhutla. “Kami minta daerah yang sudah terjadi karhutla untuk bisa menetapkan status darurat karena kalau sudah ada yang menetapkan status tersebut, baru bisa dibahas status tingkat provinsi,” paparnya
Berpacu dengan Api dan Angin Kencang
Kondisi angin kencang dan cuaca panas serta membuat pepohonan mengering, memicu kebakaran di Jalan Karang Sari, Dusun Karang Sari RT 003/RW 001 Desa Kelebuk Perbatasan Desa Damai, Kecamatan Bengkalis tetap membara, Jumat (6/2).
Asap pekat yang membubung tinggi, dari lahan gambut di Pulau Bengkalis kembali menjadi alarm serius bagi semua pihak. Karhutla yang meluas dalam beberapa hari terakhir, memaksa petugas dan aparat keamanan bersama masyarakat bergerak cepat, berpacu dengan waktu dan kondisi alam yang tak bersahabat.
Merespons situasi tersebut, Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Bengkalis, mengerahkan personelnya untuk bergabung dalam upaya pemadaman api, meski dengan keterbatasan jumlah kekuatan. Kehadiran TNI AL menjadi bagian penting dari sinergi lintas instansi dalam menghadapi ancaman karhutla yang kian mengkhawatirkan.
Sejumlah titik kebakaran terpantau terjadi di Jalan H Ilyas, Desa Air Putih, serta Desa Kelebuk, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau. Api terus menjalar di lahan kering dan gambut, diperparah oleh cuaca panas ekstrem dan hembusan angin kencang.
Komandan Posal Bengkalis, Lettu Laut (PM) Nirwan Hastya menyampaikan, bahwa personel Bintara Potensi Maritim (Babinpotmar) Posal Bengkalis aktif erlibat dalam membantu sekaligus memantau proses pemadaman kebakaran lahan perkebunan milik masyarakat. “Alhamdulillah, Babinpotmar Posal Bengkalis turut membantu dan memonitor pemadaman kebakaran lahan di Desa Kelebuk yang terjadi hari ini (kemarin, red),” ujar Nirwan Hastya, Jumat (6/2).
Berdasarkan kronologis kejadian, kebakaran mulai terdeteksi Kamis (5/2) sekitar pukul 16.30 WIB. Tim gabungan segera bergerak melakukan pemadaman, namun menghadapi sejumlah kendala serius, terutama keterbatasan pasokan air, kondisi lahan gambut yang kering, serta cuaca ekstrem disertai angin kencang.
Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai lebih kurang 5 hektare. Hingga Jumat (6/2) malam, area yang berhasil dipadamkan baru sekitar lebih kurang 0,5 hektare, sementara api di beberapa titik masih terpantau aktif. Sejumlah peralatan dikerahkan dalam operasi tersebut.
Lahan yang terbakar merupakan kawasan semak belukar di atas tanah gambut yang ditumbuhi pohon akasia. Kondisi lingkungan sekitar semakin menyulitkan upaya pemadaman, karena tidak terdapat sumber air alami, sementara parit-parit di sekitar lokasi juga telah mengering.
“Personel Posal Bengkalis masih berada bersama tim gabungan. Cuaca panas dan angin kencang membuat asap terus mengepul. Hingga pukul 21.00 WIB, satgas pemadam kebakaran masih bertahan di lokasi sambil menunggu kedatangan alat berat jenis beko untuk membuat embung sebagai sumber air,” ujar Nirwan Hastya.
Sementara itu, petugas Pemadam Kebakaran Bengkalis, Syahrizam mengungkapkan, minimnya sumber air menjadi tantangan terbesar di lapangan. “Cuaca yang sangat panas dan kering, ditambah angin kencang, membuat proses pemadaman semakin sulit. Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwajib,” jelasnya.
Upaya pemadaman karhutla di Pulau Bengkalis masih terus berlanjut. Sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan meluasnya kebakaran, sekaligus mencegah dampak lingkungan dan kesehatan yang lebih besar bagi warga sekitar.
Sedangkan Manajer Pusdalops BPBD Bengkalis, Erzansyah menyebutkan, kebakaran lahan kembali meluas di Kecamatan Bathin Solapan, tepatnya Jalan Pipa air Bersih, Dususn Simpang Padan RT02/RW05, kecamatan Bathin Solapan seluas 1 hektare, Jumat (6/2) sekitar pukul 10.37 WIB.
Erzan juga menyebutkan, kejadian kebakaran yang terjadi di Jalan Karang Sari, Dusun Karang Sari RT003/RW001Desa Kelebuk Perbatasan Desa Damai, Kecamatan Bengkalis. Api membakar lahan gambut seluas 6 hektare dan petugas berjibaku memadamkan korban api.
Namun karena tiupan angin kencang dan sumber air jauh menjadi kendala pelaksanaan pemadaman dan pendinginan. “Ya, ditambah cuaca panas di sertai angin kencang membuat asap mengepung dan sampai saat ini Tim Satgas Bencana Karhutla masih menunggu datangnya alat berat untuk mengali embung,” jelasnya.
Ia mengatakan, luas lahan terbakar mencapai 6 hektare dan perkiraan luas lahan yang berhasil dipadamkanseluas 2 hektare dan perkiraan luas lahan masih pendinginan sekitar 4 hektare, dengan status lahan milik masyarakat.
Ia menyebutkan, lahan yang terbakar ada milik, Junaidi (50), warga Jalan Awang Mahmuda Desa Sungai Alam dan Narto (64), warga Jalan Pertanian Desa Senggoro, serta Efendi Ali (40) warga Jalan Antara Desa Wonosari Kecamayan Bengkalis.
“Sedangkan lahan yang terbakar adalah perkebunan kelapa sawit dan semak belukar dengan vegetasi semak pakis dan pepohonan mahang serta jenis tanah gambut. Sumber air hanya terdapat parit dan embung namun dalam kondisi minim air,” ujarnya.
Fokuskan Pendinginan di Kuala Kampar
Polsek Kuala Kampar terus berkomitmen untuk melakukan penanganan kebakaran hutan dan laham (karhutla) di wilayah hukumnya. Ini dibuktikan dengan intensifkannya pemadaman titik api yang difokuskan di Desa Sungai Upih sebagai lokasi karhutla terbesar di kecamatan tersebut.
Puluhan titik panas yang telah berubah menjadi fire spot (titik api) dengan koordinat 0°18’34.2”N 103°08’42.3”E ini, sebelumnya termonitor melalui Dashboard Lancang Kuning. Berkat kerja keras tim gabungan, seluruh titik api telah berhasil dipadamkan dan masuk dalam proses pendinginan.
“Ya, setelah lima hari berjibaku melakukan pemadaman, seluruh titik api telah berhasil dipadamkan. Saat ini, kita bersama tim gabungan tengah fokus melakukan upaya pendinginan agar api tidak kembali muncul dan menyebabkan karhutla kembali meluas,” terang Kapolsek Kuala Kampar, AKP Rian Onel, Jumat (6/2).
Kondisi cuaca di lokasi yang panas ekstrem disertai angin kencang, sehingga membuat penanganan karhutla menjadi lebih sulit untuk dipadamkan total. “Jadi, jarak yang ditempuh dari Polsek Kuala Kampar ke lokasi cukup jauh. Yakni dengan estimasi waktu kurang lebih 2,5 jam menggunakan sepeda motor,” ujar AKP Rian Onel.
Namun, sambung Kapolsek Kuala Kampar, pihaknya bersama tim gabungan tetap berkomitmen untuk melakukan upaya pendinginan dengan maksimal. Selanjutnya, tim gabungan akan melakukan penghitungan luasan lahan yang telah terbakar. Serta melakukan penyelidikan penyebab terjadinya karhutla di Kuala Kampar ini.
“Kita pastikan saat ini seluruh titik panas maupun titik api sudah padam, namun masih meninggalkan asap. Saat ini masih terus difokuskan pada upaya pendinginan agar titik api padam total. Sedangkan dari Polsek Kuala Kampar akan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi dan juga penanganan karhutla di wilayah hukum kami,” tutur AKP Rian Onel.
Di tempat terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pelalawan Zulfan menjelaskan, pihaknya telah mengirimkan surat untuk meminta bantuan helikopter water bombing guna memadamkan api di Kecamatan Kuala Kampar, khususnya di Desa Sungai Upih, Kamis (5/2) lalu.
Pasalnya, api di Desa Sungai Upih Kuala Kampar telah meluas sejak dua hari terakhir. Di mana semak belukar dan areal hutan hangus dilalap api, meski sebagian besar telah dapat dikendalikan oleh tim gabungan dari berbagai instansi. “Kami sudah menyurati Sinar Mas untuk meminta bantuan helikopter agar bisa dikirim ke Sungai Upih membantu pemadaman darat sehingga api dapat padam total,” sebutnya.
Dikatakan Zulfan, sebelumnya helikopter milik Sinar Mas sempat menaikkan water bombing di lokasi karhtula Desa Serapung sejak Rabu (4/2). Pasalnya, titik api di tempat itu telah mendekati areal Hutan Tanaman Industri (HTI). Sehingga diperlukan bantuan pemadaman dari udara.
Pihaknya berharap perusahaan itu bisa membantu pemadaman di Desa Sungai Upih, setelah Karhutla di Desa Serapung tuntas. Agar seratusan personel gabungan yang saat ini berjibaku dengan api Karhutla terbantu dengan pemadaman dari udara. “Kalau dari BNPB belum ada heli water bombing karena masih proses lelang. Jadi belum ada yang siaga di Pekanbaru,” bebernya.
Hanya saja, akses cukup sulit ke lokasi yang hanya ada kendaraan roda dua menjadi kendala. Sementara itu, jarak ke titik karhutla sekitar 9 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam. Alhasil, personel gabungan hanya dapat mengandalkan air di kanal dan embung untuk proses pemadaman.
“Sedangkan sebagian besar lahan yang hangus dilalap api merupakan semak belukar dan areal hutan dengan jenis tanah gambut. Untuk luas yang terbakar belum dihitung karena masih fokus pemadaman dan pendinginan di lahan gambut cukup dalam, sekitar 3 meter lebih,’’ tuturnya.
14 Kecamatan di Siak Rawan Karhutla
Kabupaten Siak memiliki lahan gambut yang cukup luas dan itu menjadi potensi terjadinya karhutla jika tidak dilakukan pencegahan secara terpadu. Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau yang dilaksanakan di Ruang Rapat BPBDPK Provinsi Riau, Jumat (6/2), mengungkap prediksi prakiraan cuaca di Provinsi Riau dari BMKG Pekanbaru, Februari, Maret dan April.
Demikian dikatakan Kalaksa BPBD Kabupaten Siak Novendra Kasmara. Ada empat poin dalam rakor itu yang diharapkan dapat direalisasikan sampai ke kabupaten kota. “Jika sudah ada potensi, jangan menunggu kejadian, persiapkan Status Siaga,” jelas Novendra.
Meningkatkan deteksi dini melalui patroli dan upaya-upaya pencegahan dilakukan. Sekaligus sosialisasi menggunakan surat edaran ke kecamatan, kampung atau melalui kegiatan keagamaan, khutbah di masjid, dan lainnya. “Kami juga melakukan pengecekan kembali sarana prasarana (sarpras) penanganan karhutla, berupa mesin, nozzle, selang dan lainnya,” terangnya.
Terkait sarpras, sebut Novendra, pihaknya berkoordinasi dengan TNI, Polri melakukan koordinasi dengan perusahaan untuk memastikan sarpras yang dimiliki lengkap dan terawat sehingga ketika diperlukan dapat diturunkan dengan kondisi baik.
‘’Sejumlah wilayah di 14 kecamatan di Kabupaten Siak berpotensi karhutla,’’ ujarnya. Pencegahan secara terpadu dengan patroli rutin merupakan salah satu solusi yang terus dilaksanakan. Novendra mengajak semua pihak membangun kesadaran mencegah terjadinya karhutla jauh lebih baik dari pada mengatasi, yang berdampak negatif bagi flora dan fauna, serta tak sedikit waktu, tenaga dan biaya yang ditimbulkan.(sol/ksm/amn/mng/das)
Editor : Bayu Saputra