PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Selama lima tahun terakhir, kasus kematian gajah sumatera karena dibunuh tidak pernah terungkap siapa pelakunya. Catatan Balai Besar Konservasi Sumber Daya (BBKSDA) Riau, sejak 2020, ada tiga ekor gajah mati dibunuh.
Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisidin mengatakan, dari tiga kasus kematian gajah itu, ada yang diracun hingga ditembak.
''Ada yang diracun, ada yang ditembak. Modusnya, ada yang mengambil gading,'' ujarnya, baru-baru ini.
BBKSDA mencatat, tiga kasus itu dimulai dari temuan gajah mati di Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu pada April 2020. Pada kasus ini gajah jantan ditemukan dengan kondisi kepala mengalami luka terbuka bekas sayatan benda tajam. Sedangkan gadingnya masih dalam keadaan utuh.
Tidak jauh dari lokasi bangkai, ditemukan bangkai belalai gajah yang sudah terpotong. Gajah itu, merupakan gajah liar atau tunggal yang telah terpisah dari rombongannya pada kantong gajah Tesso Tenggara.
Sebelum kejadian, gajah ini beberapa kali dilaporkan memasuki area permukiman perkebunan masyarakat yang merupakan bagian dari wilayah jelajahnya.
Lalu pada kasus kedua, seekor gajah jantan jinak TNTN kembali jadi korban. Ini terjadi pada Januari 2024 di Kabupaten Pelalawan. Gajah bernama Rahman berusia 46 tahun itu mati diracun. Saat ditemukan, gading Rahman yang sebelah kiri telah dipotong dan hilang.
Kasus terbaru terjadi pada Februari 2026 ini. Seekor gajah liar kembali ditemukan mati dibunuh di kawasan konservasi areal konsesi PT RAPP Distrik Ukui, Kabupaten Pelalawan.
Gajah ini dibunuh dengan cara sadis, ditembak pada bagian dahi. Bahkan petugas tidak menemukan kepala bagian depan gajah tersebut. Tampaknya para pelaku tidak hanya mengambil gadingnya, tapi juga dahi hingga belalainya.
Atas kasus kematian gajah ini, Ujang berharap aparat penegak hukum dapat cepat mengungkap para pelaku. Ia mengingatkan gajah sumatera adalah hewan terancam punah yang dilindungi negara.(end)
Editor : Edwar Yaman