PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Penyakit jantung dan kardiovaskular adalah penyebab kematian nomor satu di dunia. Namun banyak masyarakat yang tidak sadar jika penyakit jantung tersebut dapat ditangani lebih maksimal ketika waktu pengobatan yang tepat dilakukan di saat jantung sudah memasuki fase aman atau golden time.
Tapi yang terjadi saat ini, banyak masyarakat yang mengabaikan timing tersebut sehingga membuat penyakit jantung baru bisa ditangani disaat kondisinya sudah semakin panas atau malah membahayakan nyawa.
Gun memberikan edukasi yang tepat terhadap penanganan penyakit jantung, Eka Hospital Pekanbaru mengadakan edukasi kesehatan dengan menghadirkan Dokter Spesialis Toraks, Kardiak dan Vaskular Eka Hospital Pekanbaru, dr Brilliant SpBTKV di salah satu hotel di Pekanbaru, Jumat (6/3).
Menurut Dokter Spesialis Toraks, Kardiak dan Vaskular Eka Hospital Pekanbaru, dr Brilliant SpBTKV, waktu atau timing operasi jantung menjadi faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan penanganan pasien dengan penyakit jantung.
Jika dilakukan terlalu cepat ataupun terlambat, tindakan operasi justru dapat meningkatkan risiko komplikasi. Apalagi, operasi jantung secara medis memiliki klasifikasi waktu tindakan yang berbeda sesuai kondisi pasien.
‘’Secara umum tindakan bedah jantung dibagi menjadi tiga kategori, yakni elektif, urgensi, dan emergensi. Itu sebabnya waktu operasi sangat tergantung pada stabilitas kondisi pasien, termasuk kondisi hemodinamik dan tingkat risiko klinis,’’ jelasnya.
Lanjut dr Brilliant, bedah elektif merupakan operasi yang dilakukan secara terencana pada pasien dengan kondisi stabil.
Pada kategori ini, dokter masih memiliki waktu untuk melakukan persiapan medis secara optimal guna menekan risiko komplikasi saat operasi.
‘’Pasien dalam kondisi stabil sehingga operasi bisa direncanakan dengan matang, termasuk persiapan pra-operasi untuk meminimalkan risiko,’’ ujarnya.
Sementara itu, bedah urgensi merupakan operasi yang harus dilakukan dalam waktu relatif cepat, biasanya dalam rentang 24 hingga 72 jam.
Tindakan ini dilakukan karena kondisi pasien berisiko mengalami penurunan fungsi organ atau gagal jantung jika tidak segera ditangani.
Adapun kategori paling kritis adalah operasi emergensi, yaitu tindakan yang harus dilakukan segera untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Operasi emergensi dilakukan pada kondisi yang mengancam nyawa, misalnya pada kasus syok kardiogenik, ruptur jantung, atau gangguan aliran darah yang sangat berat.
Selain klasifikasi waktu operasi, dr Brilliant juga menekankan pentingnya menentukan window of opportunity atau jendela waktu terbaik untuk melakukan tindakan bedah.
Dimana, operasi yang dilakukan terlalu cepat (prematur) bisa meningkatkan risiko peradangan, perdarahan, serta ketidakstabilan kondisi jantung.
Sebaliknya, jika operasi dilakukan terlalu lama setelah diagnosis, pasien berisiko mengalami kerusakan jantung permanen.
Itu sebabnya, para dokter menilai waktu operasi yang optimal adalah ketika indikasi tindakan sudah jelas, namun kondisi jantung pasien belum mengalami kerusakan permanen.(ayi)
Editor : Arif Oktafian