PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Panic buying (pembelian karena panik) kehabisan stok bahan bakar minyak (BBM) mulai terjadi di Riau. Dari beberapa daerah dilaporkan, panic buying tak hanya terjadi pada pembelian BBM jenis solar yang selama beberapa pekan terakhir sudah antre panjang, melainkan juga pada BBM jenis lainnya, seperti pertalite. Isu nasional mengenai ketersediaan BBM yang disebut hanya tersisa sekitar 20 hari menjadi pemicunya. Kendati demikian, masyarakat diminta tak panik karena stok BBM masih aman.
Sejumlah kepanikan memang mulai terjadi. Di Kabupaten Kepulauan Meranti, sejumlah warga terlihat mulai melakukan pembelian BBM dalam jumlah lebih banyak dari biasanya. Pantauan di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Selatpanjang pada Sabtu (7/3) menunjukkan antrean kendaraan yang lebih panjang dibanding hari biasa. Kondisi ini terlihat di antaranya di SPBU Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Tebingtinggi, yang sejak pagi dipadati kendaraan roda dua maupun roda empat.
Di tengah teriknya matahari, mereka mengaku khawatir akan terjadinya kelangkaan bahan bakar setelah beredar berbagai informasi di media sosial yang menyebut stok BBM nasional berada dalam kondisi terbatas.
Salah seorang warga Selatpanjang, Santo (37), mengaku sengaja datang lebih awal ke SPBU untuk mengisi bahan bakar kendaraan miliknya. Ia mengaku terpengaruh oleh berbagai kabar yang beredar di internet mengenai kemungkinan gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
“Di media sosial banyak yang bilang stok BBM nasional tinggal sedikit karena situasi di Timur Tengah. Jadi saya isi penuh saja untuk berjaga-jaga,” ujarnya saat ditemui di antrean pengisian BBM.
Menurutnya, meskipun belum ada informasi resmi mengenai kelangkaan BBM di daerah, kabar yang beredar cukup membuat masyarakat khawatir.
“Kalau nanti benar-benar terjadi kelangkaan tentu akan sulit bagi masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk bekerja,” katanya.
Meski antrean kendaraan terlihat lebih panjang, pihak pengelola SPBU memastikan bahwa distribusi BBM di wilayah Kepulauan Meranti masih berjalan normal dan tidak mengalami gangguan. Salah seorang petugas SPBU di Jalan Imam Bonjol mengatakan pasokan BBM yang diterima dari depot masih sesuai jadwal distribusi seperti biasanya.
“Stok BBM masih aman. Sampai sekarang tidak ada pengurangan pasokan dari pihak Pertamina,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah kendaraan yang mengisi BBM lebih disebabkan oleh kekhawatiran masyarakat terhadap isu yang beredar, bukan karena adanya kelangkaan di tingkat distribusi.
“Kalau dilihat sebenarnya stok masih normal. Tapi mungkin karena masyarakat khawatir sehingga banyak yang mengisi penuh,” katanya.
Sementara itu, pemerintah pusat sebelumnya juga telah memberikan klarifikasi terkait kabar yang menyebutkan stok BBM nasional berada dalam kondisi kritis. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kondisi stok BBM nasional masih berada pada tingkat aman. Menurut Bahlil, kapasitas penyimpanan minyak di Indonesia sejak lama memang hanya berkisar sekitar 25 hari. Saat ini stok nasional berada di kisaran 23 hari, sehingga masih berada di atas batas minimal yang ditetapkan pemerintah.
“Standar minimal ketersediaan kita harus di atas 20 hari. Sekarang sekitar 23 hari, artinya masih aman. Tidak perlu panic buying,” kata Bahlil dalam keterangannya.
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah bersama PT Pertamina telah melakukan sejumlah langkah untuk memastikan pasokan energi nasional tetap stabil. Salah satunya dengan mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Nigeria, dan Brazil.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya antisipasi terhadap dinamika geopolitik global yang dapat memengaruhi rantai pasokan energi dunia. Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti juga memastikan bahwa ketersediaan BBM di wilayah tersebut masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, yang sebelumnya telah melakukan pengecekan langsung ke sejumlah titik distribusi energi, termasuk SPBU di Jalan Imam Bonjol Selatpanjang.
Dari hasil pemantauan tersebut, pemerintah daerah memastikan bahwa stok BBM masih dalam kondisi aman.
“Stok BBM saat ini masih aman bahkan lebih. Dalam waktu dekat juga akan datang tambahan sekitar 300 kiloliter untuk menambah persediaan,” ujar Muzamil.
Menurutnya, distribusi BBM ke wilayah Kepulauan Meranti hingga saat ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. Karena itu, pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tidak terpancing oleh informasi yang belum tentu benar dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan.
“Kami minta masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan saja. Pasokan masih tersedia dan distribusi tetap berjalan normal,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pembelian BBM dalam jumlah berlebih justru dapat memicu kepanikan di tengah masyarakat dan mengganggu stabilitas distribusi energi. Dengan kondisi distribusi yang masih stabil, masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan bakar, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diiringi peningkatan mobilitas masyarakat.
Antre Solar di Pekanbaru
Antrean kendaraan juga terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Pekanbaru pada Sabtu (7/3) malam. Antrean tersebut didominasi kendaraan yang hendak mengisi bahan bakar jenis solar. Pantauan Riau Pos di lapangan menunjukkan antrean terjadi di beberapa SPBU, di antaranya SPBU di Jalan Kaharuddin Nasution ujung di Pekanbaru, serta di SPBU Pandau Jaya-Pasir Putih, Kabupaten Kampar. Kendaraan, terutama truk dan kendaraan angkutan barang, tampak berbaris menunggu giliran untuk mendapatkan solar.
Antrean kendaraan bahkan terlihat memanjang hingga keluar area SPBU. Kondisi ini sempat menyebabkan arus lalu lintas di sekitar lokasi menjadi lebih padat dibandingkan biasanya. Ucok, salah seorang pengendara truk yang ikut mengantre mengatakan dirinya sudah menunggu cukup lama untuk bisa mengisi bahan bakar. Ia mengaku memilih tetap menunggu karena solar sangat dibutuhkan untuk operasional kendaraan truknya.
“Kami sudah menunggu hampir satu jam lebihlah. Mau tidak mau harus antre karena besok kendaraan harus jalan lagi,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan di lokasi yang sama, antrean hanya terjadi pada pengisian bahan bakar jenis solar. Untuk pengisian bahan bakar jenis pertalite, tidak terlihat antrean panjang seperti halnya solar.
Kendaraan roda dua maupun roda empat yang mengisi pertalite dapat langsung dilayani tanpa harus menunggu lama. Belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya antrean panjang tersebut. Namun sejumlah pengendara menduga tingginya permintaan solar dan isu ketegangan peperangan yang terjadi di Timur Tengah mungkin menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya antrean di sejumlah SPBU.
Dirinya berharap distribusi bahan bakar, khususnya solar, dapat berjalan lancar sehingga antrean panjang tidak terus terjadi dan tidak mengganggu aktivitas para pengendara, terutama kendaraan angkutan barang yang bergantung pada ketersediaan bahan bakar tersebut.
Antrean solar juga terjadi di wilayah perbatasan Pekanbaru. Terpantau pada Sabtu (7/3), setidaknya tiga SPBU di perbatasan Pekanbaru dengan Kampar pada bagian selatan kota, antrean kendaraan solar jenis truk masih memanjang.
Seperti di SPBU Jalan Kaharuddin Nasution, Kecamatan Marpoyan, antrean masih mengular hingga di depan SMK Pertanian Terpadu Riau.(wir/dof/end/kas/dac/mng/*2/muh)
Editor : Bayu Saputra