Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pemadaman Karhutla Terkendala Sumber Air

Redaksi • Minggu, 29 Maret 2026 | 14:40 WIB

Petugas gabungan masih berjibaku melakukan pendinginan api karhutla di Desa Sukarjo Mesim, Kecamatan Rupat, Bengkalis, Jumat (27/3/2026)
Petugas gabungan masih berjibaku melakukan pendinginan api karhutla di Desa Sukarjo Mesim, Kecamatan Rupat, Bengkalis, Jumat (27/3/2026)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan terus mengintensifkan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (dalkarhutla) di Provinsi Riau. Langkah ini diambil menyusul peningkatan luas area terbakar serta kondisi cuaca kering ekstrem yang menempatkan seluruh wilayah Riau dalam status “sangat mudah” mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dirjen Gakkum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menyatakan bahwa pihaknya dalam semangat kerja kolaboratif bersama-sama dengan BNPB, BMKG, POLRI, TNI, Pemerintah Provinsi Riau dan masyarakat serta pihak swasta terus berupaya melakukan langkah pengendalian karhutla demi menjaga langit Riau tetap biru. Giat operasi darat maupun udara juga terus diintensifkan guna menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Untuk deteksi dini, Kementerian Kehutanan melakukan pemantauan titik panas melalui berbagai jenis satelit (Terra, Aqua, SNPP, dan NOAA20). Berdasarkan pantauan Satelit Terra/Aqua (NASA) dengan confident level high periode 1 Januari hingga 26 Maret 2026, tercatat sebanyak 625 titik panas di seluruh Indonesia dan 42,56 persen (266 titik) berada di Provinsi Riau.

“Hingga saat ini, regu gabungan telah berhasil melakukan pemadaman darat sebanyak 265 operasi di beberapa titik,” ujar Dwi Januanto Nugroho.

Untuk mengatasi tantangan di lapangan, Kemenhut telah memobilisasi sebanyak 387 personel gabungan. Kekuatan utama berasal dari Manggala Agni Balai Dalkarhutla Sumatera yang tersebar di Daops Pekanbaru, Dumai, Siak, dan Rengat. Untuk memperkuat lini depan, Kemenhut mengirimkan pula regu Bantuan Kendali Operasi (BKO) Manggala Agni dari luar Riau, yaitu dari Daops Bukit Tempurung (Jambi), Daops Kota Jambi, dan Daops Labuhan Batu (Sumatera Utara).

Sementara itu, Ferdian Krisnanto, selaku Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera menyampaikan bahwa saat ini, Manggala Agni tengah berjibaku melakukan pemadaman di beberapa lokasi kritis bersama satgas kabupaten dan provinsi, di antaranya di Kelurahan Mundam (Dumai), SM Giam Siak Kecil, Desa Merbau dan Pulau Muda (Pelalawan), Desa Talang Jerinjing (Indragiri Hulu) serta wilayah Pulau Rupat (Bengkalis).

“Strategi awal saat ini adalah melakukan penyekatan api agar kebakaran tidak meluas, kemudian memukul dan mematikan kepala api serta mematikan sumber potensi asap utama,” ujar Ferdi.

Kendala saat ini yang dihadapi di lapangan adalah faktor keterbatasan air untuk pemadaman, seiring dengan menurunnya curah hujan yang mengakibatkan turunnya tinggi muka air tanah terutama pada wilayah gambut.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Manggala Agni dibantu oleh masyarakat dan pemerintah daerah setempat dengan alat berat untuk menggali embung air, membersihkan kanal dan memperlebar sekat.

Selain melakukan pemadaman darat, operasi ini diperkuat oleh 1 unit Helikopter Bell 412-SP PK/DAS Kemenhut dan 2 Helikopter BNPB untuk misi patroli, waterbombing, dan evakuasi yang telah mencapai 20 jam 39 menit waktu terbang.

Lebih lanjut, sebagai tindak lanjut atas SK Gubernur Riau Nomor Kpts.102/II/2026, Kemenhut telah berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mempercepat penanganan karhutla melalui hujan buatan.

“Menyikapi tren peningkatan luas karhutla dibandingkan tahun 2025, maka sinergitas dan kolaborasi kerja seluruh elemen sosial, baik Kementerian/Lembaga Pusat maupun Pemerintah Daerah, Swasta dan juga NGO, serta masyarakat setempat menjadi kunci utama dalam upaya penanggulangan karhutla,” pungkasnya.

Petugas Intensifkan Pemadaman dan Pendinginan Lanjutan

Sulitnya sumber air akibat kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Bengkalis, membuat petugas gabungan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masing-masing intensif melakukan pemadaman dan juga pendinginan lanjutan di sejumlah titik kebakaran di lima kecamatan.

Di mana lima kecamatan merupakan lokasi karhutla sebelumnya, saat ini kondisi kebakarannya makin meluas. Bahkan lokasi yang terdampak sangat parah dan makin luas adalah di Kecamatan Rupat, yang sudah tiga bulan terjadi kebakaran belum mampu dipadamkan secara menyeluruh.

Lokasi kebakaran yang terparah ada di Desa Sukarjo Mesim, Kelurahan Teluk Lecah, Kelurahan Pergam dan Desa Kebumen dengan luas lahan yang terbakar mencapai 50 hektare.

“Sampai saat ini petugas masih siaga di lapangan untuk mengawal api agar tidak melebar di lahan lain. Kondisi ini diperparah oleh tiupan angin kencang serta sumber air yang sulit didapat untuk memadamkan api,” ujar Kapolsek Rupat, AKP Faisal, Sabtu (28/3) malam.

Ia menyebutkan, lokasi pemadaman dan pendinginan karhutla di Jalan Meranti Kelurahan Pergam, Jalan Parit Jawa Dusun Sungai Mesim 2 RT 004 RW 002 dan di Jalan Sukajadi Desa Sukarjo Mesim sudah masuk ke Jalan Perjuangan Desa Kebumen Kecamatan Rupat.

“Kalau di Pergam ini lokasi baru. Meski tahun lalu juga sudah terbakar hampir 200 hektare. Tapi saat ini ada 10 hektare lahan yang terbakar sejak hari raya. Makanya kami tetap siaga dan mengintensifkan pemantauan di lapangan, karena panas terik membuat api sulit dipadamkan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, kondisi kebakaran di Jalan Parit Jawa Dusun Sungai Mesim 2 RT 004 RW 002 dan di Jalan Sukajadi Desa Sukarjo Mesim tembus hingga Jalan Perjuangan Desa Kebumen seluas 40 Ha. Lokasi ini juga sangat sulit dipadamkan, karena kondisi gambut yang tebal sehingga api yang membakar lahan itu dari atas dan bawah.(sol/ksm)

Editor : Bayu Saputra