PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau (Gubri) SF Hariyanto, memimpin apel perdana pasca libur Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Apel tersebut diikuti seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Aparatur Sipil Negara (ASN), di lingkungan Pemprov Riau, di halaman Kantor Gubernur Riau, Senin (30/3/2026).
Dalam arahannya, Plt Gubri mengingatkan kepada seluruh ASN tetap bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, agar bisa menyelesaikan pekerjaan dengan maksimal. Apalagi dalam suasana saat ini dimana Provinsi Riau masih dalam kondisi defisit anggaran, terutama dalam pembayaran tunda bayar dan tunda salur yang harus diselesaikan pada tahun ini.
"Alhamdulilah kita semua sudah menjalankan ibadah puasa bulan Ramadan dan Idulfitri 1447 H, saya mengucapkan selamat hari Raya Idulfitri mohon maaf lahir batin. Mari bekerja sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," ujar Plt Gubri, SF Hariyanto.
Pada kesempatan tersebut, Plt Gubri juga mengingatkan bahwa APBD Riau sampai saat ini belum stabil sehingga perlu dilakukan rasionalisasi. Selain itu seluruh OPD juga diharapkan mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam waktu dekat Pemprov akan mengkaji untuk kembali melakukan pemotongan terhadap TPP pegawai.
"TPP kita ini kemungkinan besar kalau tidak ada pendapatan atau kenaikan, akan dipotong, cukup berat tapi kita cari solusi dan peluang-peluang. Pendapatan ini bisa disegerakan agar APBD kita kembali normal," ujarnya.
Sementara itu, untuk mendukung program pemerintah dalam penghematan energi, Plt Gubri meminta kepada seluruh OPD agar melakukan penghematan, penggunaan listrik dikurangi selama masa penghematan energi. Tidak itu saja, perjalanan dinas dan penggunaan mobil dinas juga diminta untuk digunakan sesuai dengan kegiatan yang penting.
Pemprov Riau saat ini sedang menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat mengenai pemberlakuan sistem kerja Work From Home (WFH).
"Tekanan global saat ini berdampak pada harga minyak. Yang patokan sebelumnya 70 dollar per barel, sekarang sudah di atas 100. Jadi kita harus waspada dan melakukan antisipasi, mengencangkan ikat pinggang," sebutnya.
Editor : Rinaldi