PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Titik panas terdeteksi masih tinggi di Riau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mendapatkan laporan, Jumat (3/4) ditemukan 233 hotspot atau titik panas di Riau. Dari jumlah tersebut, paling banyak ditemukan di Kabupaten Bengkalis yakni 213 titik.
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal menjelaskan, sisa titik api lainnya tersebar di Pelalawan 9, Rokan Hilir 5, Dumai 2, Indragiri Hulu 2, Kepulauan Meranti 1, dan Pekanbaru 1.‘’Untuk di Pelalawan, titik api berada di Desa Pulau Muda Kecamatan Teluk Meranti. Namun di lokasi ini sudah memasuki tahap pendinginan dan masih ditemukan asap. Di Bengkalis terdapat di dua lokasi. Yakni di Desa Titi Akar Kecamatan Rupat Utara, kondisinya masih ada titik api dan asap. Kemudian juga di Desa Teluk Lancar Kecamatan Bantan, Desa Sekodi dan Desa Palkun Kecamatan Bengkalis. Kondisinya masih ada titik api dan asap tebal,” tambahnya.
Untuk upaya yang saat ini sedang dilakukan, selain pemadaman dengan tim darat, juga sudah dilakukan water bombing di lokasi. Pengerahan alat berat untuk Pembuatan sekat bakar dan embung juga dilakukan, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Baca Juga: Langit Pulau Bengkalis Mulai Ditutupi Asap, Partikel Debu Karhutla Mulai Bertebaran
OMC pun terus digesa, bahkan dilakukan hingga malam hari. Sejak dilaksanakan OMC tahap 2 pada 28 Maret lalu, sudah sebanyak 14 ton garam di semai di langit Riau. “OMC masih terus dilakukan, bahkan hingga malam hari ketika ada awan potensial. Sudah 14 ton garam yang disemai,” ujarnya.
Kegiatan sebagai upaya untuk menciptakan hujan buatan guna membasahi lahan terutama lahan gambut di Riau ini difokuskan di daerah pesisir timur Riau. Yakni di wilayah Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, Pelalawan, dan Dumai. “Untuk lokasi yang masih ditemukan api sudah dilakukan pengerahan personel pemadaman darat gabungan, termasuk helikopter,” ujarnya.
Baca Juga: Antisipasi Potensi El Nino Super, Kapolda Riau Tingkatkan Pencegahan hingga Penanganan Karhutla
Beri Dukungan Moril
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan memberikan dukungan moril kepada tim gabungan yang tengah berjibaku memadamkan karhutla di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Jumat (4/3). Irjen Herry di dampingi Guru Besar IPB University bidang Perlindungan Hutan Prof Bambang Hero Suharjo, dan Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar.
Kapolda menegaskan, penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui kolaborasi lintas sektor. “Kami hadir di sini untuk memberikan motivasi, dukungan moril, dan memastikan upaya pemadaman dilakukan secara maksimal. Ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, tetapi harus kolaboratif melibatkan semua pihak,” ujarnya.
Ia menyebutkan, langkah strategis yang dilakukan saat ini adalah menemukan dan memutus titik api sedini mungkin agar kebakaran tidak meluas, terutama menjelang puncak musim kemarau. “Lebih baik bekerja keras sekarang sebelum memasuki puncak kemarau, daripada nanti memadamkan dalam kondisi yang jauh lebih besar dan sulit,” tegasnya.
Selain upaya pemadaman, Kapolda juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan. Ia mengungkapkan, sepanjang 2025 telah ditangani 74 kasus karhutla dengan jumlah tersangka yang sama. “Penegakan hukum harus tegas dan berkeadilan. Tidak boleh ada toleransi bagi pelaku pembakaran, baik yang disengaja maupun yang berlindung di balik alasan kelalaian,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Polda Riau bersama stakeholder telah memasang ratusan papan imbauan (plang) di lokasi rawan karhutla. Plang tersebut berisi peringatan ancaman pidana bagi pelaku pembakaran, sekaligus larangan pemanfaatan lahan bekas terbakar untuk kegiatan perkebunan.
“Kami ingin ada efek jera. Lahan yang sudah terbakar tidak boleh dimanfaatkan kembali, termasuk untuk penanaman sawit. Ini bagian dari upaya moratorium agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya.
Sementara itu, kehadiran Prof. Bambang Hero Suharjo turut memperkuat aspek ilmiah dalam penanganan karhutla, termasuk mendukung proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan aparat penegak hukum.
Dirinya menjelaskan kebakaran lahan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menimbulkan kabut asap yang berdampak luas terhadap kesehatan, transportasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat. “Oleh karena itu, kami menekankan pentingnya upaya pencegahan yang berkelanjutan serta kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan,” jelasnya.
Sementara itu, Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar juga menyampaikan, pihaknya bersama jajaran terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi karhutla. Polres Bengkalis secara rutin melaksanakan patroli di wilayah rawan, berkoordinasi dengan instansi terkait, serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya dan dampak kebakaran hutan dan lahan.
Dirpolair Polda Riau Kombes Pol Apri Adi menambahkan, pihaknya terus melakukan patroli di wilayah perairan dan pesisir sebagai bagian dari upaya pengawasan dan pencegahan terhadap aktivitas ilegal yang dapat memicu kerusakan lingkungan, termasuk kebakaran lahan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah terpadu dalam mengantisipasi meningkatnya potensi karhutla di Riau, seiring prediksi menguatnya fenomena El Nino pada 2026 yang berpotensi memperparah kondisi kekeringan.
Minta Alat Kesehatan Didistribusikan ke Puskesmas
Menghadapi ancaman dampak karhutla tidak hanya bertumpu pada pemadaman atau pendinginan lahan, tapi aspek penting lain yang perlu diperhatikan ketika terjadi dampak berupa kabut asap bagi kesehatan manusia.
Hal itu perlu disikapi oleh pihak-pihak terkait dalam hal ini mulai dari Dinas kesehatan (Diskes) sampai ke tingkat puskesmas dan pustu yang ada. Penegasan itu diungkapkan Wabup Rohil Jhony Charles di sela melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kantor Diskes Rohil, Kamis (2/4) siang.
“Ancaman dampak kabut asap karena karhutla sudah nampak, dan Rohil cukup rawan sebagai daerah rawan karhutla,” kata Jhony Charles. Ia menerangkan pihak terkait yang berhubungan dengan bidang kesehatan masyarakat harus merespons cepat kondisi yang ada. Bahkan jika ada karhutla di daerah kabupaten/kota lain di Riau pun bisa saja dampak kabut asap sampai ke Rohil.
Ia mengharapkan agar untuk ketersediaan pasokan alat kesehatan terkait karhutla seperti masker, segera disalurkan. Menurutnya jangan sampai peralatan medis tertahan di gudang, melainkan segera disalurkan hingga ke puskesmas-puskesmas.
“Rohil juga merupakan daerah karhutla. Saat kabut asap pekat terjadi, ketersediaan oksigen dan untuk kesehatan menjadi kebutuhan vital. Alat-alat ini harus segera sampai ke garda terdepan agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” kata Jhony.
Selain menyikapi soal ancaman dampak kabut asap karena karhutla tersebut, wabup juga memeriksa terkait dengan bantuan alat kesehatan yang sudah diterima Rohil saat ini. Berdasarkan dokumen Berita Acara Serah Terima (BAST) per-22 Desember 2025, total bantuan alat kesehatan yang diterima Pemkab Rohil bernilai Rp483.707.400.
Adapun rincian bantuan tersebut meliputi 60 unit Oxygen Concentrator (OC Jay 10W) kapasitas 10 liter per menit dan 1.080 pieces Gown (alat pelinding diri) untuk perlindungan tenaga medis.
Menyikapi hal itu wabup menginstruksikan agar Diskes Rohil segera melakukan pemetaan kebutuhan di setiap kecamatan, dengan prioritas utama pada wilayah yang memiliki titik api tertinggi. Ia juga mengingatkan agar pengelolaan barang milik negara ini dilakukan secara transparan dan akuntabel.
“Puskesmas harus siap memberikan penanganan maksimal. Jangan ada kendala administratif yang menghambat pelayanan warga di tengah situasi darurat,” katanya. Lebih lanjut Jhony Charles berharap dengan terdistribusinya alat kesehatan tersebut maka angka gangguan pernapasan (ISPA) akibat asap dapat ditekan seminimal mungkin.(sol/ksm/fad)
Editor : Bayu Saputra