PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Perjuangan Suku Asli Anak Rawa Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, agar diakui sebagai suku yang berbeda dengan Suku Akit, sangatlah panjang. Sejak dulu mereka dianggap sebagai Suku Akit, padahal mereka berbeda, punya identitas tersendiri yang tidak sama dengan Suku Akit. Mereka ingin diakui keberadaannya sebagai suku tersendiri, baik oleh administrasi negara maupun masyarakat.
Hal ini dijelaskan oleh Alit SPd MM, penduduk Suku Asli Nak Rawa yang menulis buku Suku Asli Anak Rawa, yang dibedah dan didiskusikan di Pekanbaru, Kamis (6/8/2026). Menurut Alit, penulisan buku ini didasari pada kenyataan bahwa Suku Asli Anak Rawa yang masih terpinggirkan di segala sektor, baik budaya, pendidikan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Dia berharap, apa yang disampaikan dalam buku tersebut membuka mata semua orang, termasuk pemerintah, bahwa ada dan eksistensi sebagai entitas suku tersendiri.
“Saya ingin keberadaan Suku Asli Anak Rawa di Kampung Penyengat mendapatkan pengakuan negara. Hingga saat ini, selain banyak yang masih menganggap kami sebagai bagian dari Suku Akit, keberadaan kami juga belum sepenuhnya diakui. Banyak penghayat kepercayaan adat kami yang tidak diakui secara administrasi. Misalnya, untuk mendapatkan KTP, banyak yang harus menuliskan agama seperti Islam, Kristen, dll, padahal kami bukan penganut salah satu agama tersebut,” kata Alit.
Baca Juga: Remaja Tenggelam di Sungai Jantan Siak Ditemukan Meninggal Dunia
Selain Alit, ada empat narasumber lainnya, yakni Rektor Universitas Lancang Kuning (Unilak) Prof Dr Junaidi, akademisi UIN Suska Riau Prof Dr Muhammad Anshor, Dr Griven H Putra, dan Sekretaris Kampung Penyengat Anton SAP, yang dipandu moderator Fakhrunas MA Jabbar.
Hadir dalam diskusi ini Dekan FIB Unilak Dr Mohammad Fauzi, Ketua LAM Riau Datuk Taufik Ikram Jamil yang memberikan memberikan sambutan penutup, GM Stakeholder Relation PT RAPP Wan Mohammad Jakh Anza, Kadispersip Siak Setyo Hendro Wardanha, Camat Sungai Apit Tengku Muhtasar, dan salah seorang eksekutif RAPP Dian Novarina. Hadir juga beberapa pegiat budaya seperti Kunni Masrohanti, Hang Kafrawi, Monda Gianes, dan lainnya.
GM Stakeholder Relation PT RAPP, Wan Mohammad Jakh Anza, menjelaskan, buku ini penting dalam kondisi perubahan sosial dan budaya yang begitu cepat dalam arus modernisasi. Apa yang dilakukan oleh Alit dalam menjaga warisan salah satu budaya lokal dan suku asli di Riau, harus diapresiasi dan didukung.
Baca Juga: Sidang TPP Lapas Kelas IIA Bengkalis Bahas Usulan Hak Integrasi 36 Warga Binaan Secara Objektif dan
“Sebuah kehormatan bagi PT RAPP yang selama ini sangat berkomitmen membangun hubungan baik dengan masyarakat adat, termasuk Suku Asli Anak Rawa ini. Kami sangat mendukung terbitnya buku ini sebagai sebuah warisan budaya agar generasi di masa datang memahami eksistensi Suku Anak Rawa ini,” ujar Wan Mohammad Jakh Anza.
Dalam diskusi, semua panelis sangat mengapresiasi upaya Alit dalam menulis dan menerbitkan bukunya. Menurut Prof Dr Junaidi, Suku Anak Rawa selama ini bukan terbelakang, tapi dibelakangkan oleh kita yang selama ini merasa menjadi orang modern. Sebagai Rektor Unilak, dia berjanji akan membuat kelas jauh di Kampung Penyengat agar para pemuda di sana bisa kuliah dan tak harus keluar kampungnya.
“Itu salah satu komitmen saya sebagai Rektor Unilak,” ujar Junaidi.
Prof Dr Muhammad Anshor yang sejak awal tahun 2000-an sudah melakukan advokasi bersama beberapa LSM, menjelaskan, selama ini keberadaan Suku Asli Anak Rawa memang dianggap tidak ada. Dalam catatan Prof Tabrani Rab tentang suku asli Riau, tidak ada nama suku tersebut di dalamnya. Begitu juga dalam beberapa kajian banyak antropolog, termasuk Parsudi Suparlan.
Baca Juga: PUPR Rohul Manfaatkan Sisa Material Aspal untuk Tambal Jalan Berlubang di Komplek Bina Praja
“Jadi, apa yang dilakukan Alit ini adalah sebuah ikhtiar agar sukunya diakui keberadaan dan eksistensinya, bukan hanya di Riau, tetapi juga di Indonesia. Ini dilakukan untuk menghindari kepunahan,” ujar Anshor.(hbk)
Editor : Edwar Yaman