PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Titik panas (hotspot) wilayah Sumatera belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kamis (27/8), terpantau 1.625 titik panas masih terdeteksi. Dari jumlah tersebut, 171 berada di Riau dan Pelalawan terbanyak dengan 72 titik. Sedangkan Pekanbaru bersama Dumai hanya 1 titik.
‘’Selain itu, titik panas juga terdeteksi 53 di Indragiri Hilir, 18 di Siak, 14 di Indragiri Hulu, dan 12 di Kuantan Singingi,’’ ujar Forecaster on Duty Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Sanya Gautami, Kamis (27/8).
Selain di Riau, titik panas juga terdeteksi di Sumatera Selatan dan menjadi penyumbang terbanyak di Sumatera dengan 1.050. Disusul Bangka Belitung 201, Riau 171, Lampung 115, Jambi 57, Aceh 10, Kepulauan Riau 6, Bengkulu 3, Sumatera Barat 2, dan Sumatera Utara 2.
Baca Juga: Dua Daerah Tanggap Darurat Karhutla
Meski hanya 1 titik panas, kabut asap masih menyelimuti Pekanbaru, Kamis (27/8) sejak sore hingga malam. Kualitas udara di Pekanbaru pun kembali naik ke level Sangat Tidak Sehat. Padahal, Rabu (26/8), sempat turun di kategori Tidak Sehat.
Pantaua Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada pukul 07.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru tercatat 50,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut masuk kategori sedang. Kondisi ini bertahan di pukul 10.00 WB di mana kualitas udara di Pekanbaru tercatat 50,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Kondisi kualitas udara masih terus mengalami perubahan akibat tiupan angin yang masih kencang di wilayah Pekanbaru. Terpantau kualitas udara Pekanbaru pada pukul 12.00 WIB berkisar 75,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan masuk kategori Tidak Sehat.
Baca Juga: Bertambah Jadi 207 Hotspot, Provinsi Riau Kian Membara, Pelalawan Masih Jadi yang Terbanyak
Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Riau, kembali memburuk sejak sore hingga malam ini, tercatat konsentrasi PM2.5 melonjak hingga 172,8 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan berada pada level Sangat Tidak Sehat. Hingga pukul 19.00 WIB, konsentrasi PM2.5 mencapai 231,5 µg/m³ dengan kategori yang sama.
Sanya Gautami mengatakan, saat ini hembusan kabut asap masih terus mengelilingi Kota Pekanbaru lantaran arah angin berhembus dari arah selatan. Diperkirakan, kabut asap ini bukan hanya terjadi akibat karhutla di Pekanbaru, tetapi juga daerah selatan Pekanbaru dan provinsi tetangga.
Pantauan jarak pandang di sejumlah kota di Riau juga masih terbatas lantaran diselimuti kabut asap. Pekanbaru 3 kilometer (km), Rengat 6 km, Pelalawan 5 km, dan Tambang 5 km.
Baca Juga: Akses Masuk Tol Pekanbaru Dialihkan melalui Pintu Tol Bypass Mulai 28 Agustus 2026
“Sampai saat ini jika dilihat dari sebaran asap masih asap dari Selatan Kota Pekanbaru. Kami tetap mengimbau masyarakat, terutama kelompok sensitif, perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi dan penggunaan masker dapat dipertimbangkan jika harus berada di tengah kondisi udara yang berasap,” tuturnya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Diskes) Riau mencatat sebanyak 1.960 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ditemukan di sepuluh kabupaten/kota akibat penurunan kualitas udara pada periode 19–26 Agustus 2026.
Kepala Diskes Riau Zulkifli mengatakan, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan diinstruksikan untuk mengintensifkan promosi kesehatan dan sosialisasi protokol penanganan polusi. Warga diminta aktif memeriksa kualitas udara, membatasi kegiatan di luar ruangan, serta menutup ventilasi bangunan saat tingkat polusi udara tinggi.
“Kemudian kita minta juga tenaga kesehatan agar mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menggunakan penjernih udara dalam ruangan, menghindari sumber polusi dan asap rokok, menggunakan masker saat polusi udara tinggi, melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS); dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika muncul keluhan pernapasan,” kata Zulkifli.
Baca Juga: Kolaborasi Hadapi Karhutla, Personel dan Peralatan di Riau Dimaksimalkan
Pemerintah daerah juga mendorong peningkatan deteksi dini dengan meminta warga yang mengalami gejala pernapasan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penerapan protokol kesehatan diprioritaskan untuk melindungi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, penderita komorbid, dan lanjut usia.
Selain itu, setiap fasilitas kesehatan diminta menjamin ketersediaan masker penyaring polusi udara yang memadai bagi masyarakat. Tenaga kesehatan wajib memantau serta melaporkan perkembangan penyakit terdampak kabut asap, seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit, dan asma ke dinas kesehatan setempat.
Di Indragiri Hilir, Diskes setempat menyebutkan, hingga saat ini belum terjadi kenaikan kasus ISPA. Kadiskes Inhil Udin Syafriudin mengatakan kondisi tersebut menjadi kabar baik di tengah sempat memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Inhil akibat kabut asap.
“Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada kenaikan kasus ISPA yang diakibatkan kabut asap. Sekarang kondisi ISPU juga menurun terus karena hujan sudah turun di berbagai daerah di Inhil,” ujarnya, Kamis (27/8).
Baca Juga: Kolaborasi Hadapi Karhutla, Personel dan Peralatan di Riau Dimaksimalkan
Udin mengatakan masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap perubahan kualitas udara. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika kabut asap kembali meningkat.
Di Rokan Hulu (Rohul), kasus ISPA justru mengalami peningkatan. Hingga Kamis (27/8) pukul 15.00 WIB, tercatat 132 kasus ISPA, bertambah 21 kasus dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 111 kasus. Kadiskes Rohul Bambang Triono mengatakan, data 132 kasus tersebut merupakan hasil pemantauan dan laporan dari sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di Rohul.
“Data terbaru yang kita terima, kasus ISPA pada hari ini (kemarin, red) sudah mencapai 132 kasus. Sebelumnya pada Rabu (26tercatat 111 kasus, sehingga terjadi penambahan 21 kasus,” ujarnya. Meski kasus ISPA meningkat, Bambang menyebut tidak terdeteksi adanya hotspot di wilayah Rohul. Kabut asap yang sebelumnya cukup terasa di sejumlah daerah juga mulai menipis.
Baca Juga: Unri dan Ruijie Dorong Transformasi Digital Menuju Ekosistem Smart Campus
“Kalau memang kondisi udara berasap, masyarakat kita imbau mengurangi aktivitas di luar rumah. Kalau harus ke luar, gunakan masker. Anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan perlu lebih diperhatikan,” katanya.
Di Kampar, hingga Kamis (27/8), tercatat 89 kasus ISPA dan satu kasus konjungtivitis dilaporkan fasilitas pelayanan kesehatan. Kadiskes Kampar Zulhendra Das’at melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Elfian mengatakan, data tersebut merupakan laporan harian dari fasilitas pelayanan kesehatan yang terus dihimpun dan diperbarui.
“Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan penyakit yang berkaitan dengan dampak kabut asap atau karhutla. Data dari fasilitas pelayanan kesehatan kami himpun setiap hari sebagai dasar untuk melihat perkembangan kondisi kesehatan masyarakat,” ujar Elfian.
Dalam laporan per 27 Agustus 2026, selain 89 kasus ISPA dan satu kasus konjungtivitis, belum tercatat kasus pneumonia, iritasi kulit, maupun asma yang berkaitan dengan kondisi kabut asap. Elfian mengimbau masyarakat di wilayah yang terdampak kabut asap meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan seperti balita, anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.
Baca Juga: Apresiasi Prestasi Paskibraka Nasional Asal Inhil, BRK Syariah Salurkan Bantuan Biaya Pendidikan
“Kalau kondisi udara sudah tidak sehat, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Gunakan masker dan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, mata perih atau iritasi,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan data Air Quality Monitoring System (AQMS) atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kabupaten Kampar, Kamis (27/8) pukul 16.00 WIB, nilai ISPU tercatat 111. Angka tersebut masuk kategori Tidak Sehat, dengan parameter kritis Particulate Matter (PM) 2,5.
Di Kuantan Singingi (Kuansing), udara yang masih tidak sehat juga membuat kasus ISPA bertambah. Diskes) Kuansing mencatat, hingga Rabu (26/8), ada 101 orang yang terserang ISPA. Yakni sebanyak 48 orang laki-laki dan 53 orang perempuan.
“Rabu (26/8) sore tercatat 101 orang terkena ISPA,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kuansing Aswandi melalui Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P), Helma Muliani, Kamis (27/8). “Sampai hari ini (kemarin, red) belum ada yang rawat inap, masih rawat jalan semua,” tambahnya.
Baca Juga: PBAK UIN Suska Riau 2026 Sukses Digelar, Lahirkan Tunas Muda Berkarakter
Di Kepulauan Meranti, Kasus ISPA mencapai 7.075, tapi sepanjang Januari hingga Juli 2026. Diskes Meranti mencatat, kasus tersebut tersebar pada seluruh kelompok usia. Pada balita usia 0-5 tahun sebanyak 1.693 kasus, anak usia 5-9 tahun 1.171 kasus, remaja 10-18 tahun 780 kasus, dewasa 19-59 tahun 2.649 kasus, serta kelompok lanjut usia (60 tahun ke atas) 782 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, mengatakan data tersebut menjadi perhatian karena ISPA menyerang berbagai kelompok umur. “Data ini menunjukkan kasus ISPA masih ditemukan pada semua kelompok usia,” kata Widya, Kamis (27/8).
Dari data tersebut, kelompok balita dan lansia menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena termasuk kelompok rentan. Sementara secara jumlah, kasus terbanyak tercatat pada kelompok usia produktif 19-59 tahun dengan 2.649 kasus.
Dinkes juga mencatat enam kasus pneumonia pada balita dari total 1.693 kunjungan balita dengan batuk atau kesulitan bernapas. Seluruh puskesmas yang tercatat dalam laporan telah melaksanakan pemeriksaan dan tatalaksana standar, dengan persentase 100 persen.
Widya mengimbau masyarakat tidak mengabaikan gejala ISPA dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan, terutama jika terjadi pada balita, lansia maupun kelompok rentan lainnya.(ayi/sol/epp/dac/*2/wir)
Editor : Arif Oktafian