Karhutla Mulai Terkendali,Titik Panas Tersisa 8

Tim Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:48 WIB
Personel Manggala Agni Rengat terus berupaya memadamkan api yang membakar lahan di Desa Kuantan Babu, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Senin (31/8/2026). (Manggala Agni Rengat untuk Riau Pos)
Personel Manggala Agni Rengat terus berupaya memadamkan api yang membakar lahan di Desa Kuantan Babu, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Senin (31/8/2026). (Manggala Agni Rengat untuk Riau Pos)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO)- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau mulai terkendali seiring membaiknya kondisi cuaca dan semakin intensifnya pena­nganan di lapangan. Hotspot atau titik panas pun menurun drastis dari yang puluhan, bahkan ratusan, kini hanya terdeteksi 8, Senin (31/8).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru mendeteksi, pukul 16.00 WIB kemain, titik panas tersebut hanya tersebar di tiga kabupaten/kota, yakni di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) 5, Pelalawan 2, dan Indragiri Hilir (Inhil) 1.

Prakirawan BMKG Pekanbaru Anggun R mengatakan, titik panas di wilayah Sumatera juga menurun dan hanya terdeteksi 779. Dari jumlah tersebut, selain di Riau, titik panas terdeteksi di Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 532, terbanyak di Sumatera. Disusul Bangka Belitung 125, Lampung 61, Aceh 22, Kepulauan Riau 13, Sumatera Utara 7, Bengkulu 4, Jambi 6, dan Sumatera Barat 1.

Baca Juga: Mantan Ajudan Gubri Didakwa Terima Rp950 Juta

“Saat ini jarak pandang di Kota Pekanbaru sudah mulai normal berkisar 6 kilometer, Rengat Inhu) 8 kilometer, Pelalawan 8 kilometer, dan Tambang (Kampar) 8 kilometer. Seluruh wilayah Riau awal pekan ini sudah tidak lagi diselimuti kabut asap lantaran masih tingginya curah hujan,” ujarnya kepada Riau Pos, Senin (31/8).

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto juga mengatakan, kabut asap di sejumlah wilayah Riau saat ini sudah berkurang. “Kita semua mengetahui kondisi cuaca saat ini sudah membaik, khususnya di Kota Pekanbaru dan beberapa kabupaten/kota di Riau. Inilah wujud nyata dari sinergi, koordinasi, dan gotong royong sebagaimana yang disampaikan Bapak Presiden,” ujarnya, Senin (31/8).

Dijelaskannya, keberhasilan dalam mengendalikan karhutla tidak terlepas dari kerja bersama seluruh pihak. Ia menilai penanganan bencana lingkungan tersebut membutuhkan kolaborasi tanpa mengedepankan kepentingan atau keunggulan satu pihak. 

Baca Juga: Turun, Harga Kelapa Sawit Mitra Pekan Ini Jadi Rp3.931 per Kg

“Kata kuncinya adalah gotong royong. Di sini tidak ada yang merasa paling hebat, paling kuat atau paling mampu. Yang ada hanyalah satu hal, kita bekerja secara kolaboratif untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.

Diungkapkannya, sejumlah lahan yang sebelumnya sempat terbakar kini telah berhasil ditangani. Proses pemadaman di beberapa titik memang menghadapi tantangan karena kondisi medan yang berat, namun kerja sama antara satgas darat dan udara mampu membantu mempercepat pengendalian api.

“Alhamdulillah, lahan yang kemarin sempat terbakar saat ini sudah berhasil kita atasi. Memang kemarin kita sempat kesulitan memadamkan api di area yang sangat berat, berkat gotong royong satgas darat dan udara kondisi sudah terkendali aman,” ungkapnya.

Baca Juga: Hotspot Sisa 10, Kabut Asap Tipis Kembali Selimuti Pekanbaru 

Salah satu titik lokasi karhutla yang cukup besar, yakni di wilayah Kerumutan, Kabupaten Pelalawan dan saat ini dilaporkan sudah padam. “Saat ini kondisi udara di Riau sudah membaik. Titik Karhutla yang cukup besar di Kerumutan juga sudah padam. Namun kami tetap minta tim gabungan siaga dan waspada. Jika ada titik karhutla agar bisa dapat langsung dipadamkan,” pintanya.

Selain pemadaman langsung di lapangan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung upaya pengendalian karhutla terus dioptimalkan. Penambahan waktu untuk penaburan garam pada awan potensial dilakukan hingga pukul 23.00 WIB.

“OMC yang dilakukan juga luar biasa. Satgas udara terus menabur garam setiap hari tanpa mengenal malam jika awan potensial terlihat. Bahkan kalau sebelumnya hanya sampai pukul 21.00 WIB, saat ini pukul 23.00 WIB juga dilakukan penaburan garamnya,” terangnya.

Baca Juga: Brigjen Pol Hengki Haryadi Dapat Promosi, Jabat Kapolda Papua Barat Daya

Ia menegaskan bahwa upaya penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Dari sisi pencegahan dan penegakan hukum juga terus diperkuat untuk memberikan efek jera sekaligus mencegah terjadinya pembakaran maupun pembukaan lahan secara ilegal.

“Penegakan hukum juga berjalan tegas dari Polda Riau, Kejaksaan, hingga TNI. Di lahan-lahan bekas terbakar tersebut kini dipasang palang yang tertulis aturan-aturan. Ini terus kita tambah dan sempurnakan dengan pasal-pasal KUHP baru,” tegasnya.

Dituturkannya, pengawasan terhadap lahan yang pernah terbakar menjadi perhatian penting setelah api berhasil dipadamkan. SF Hariyanto tidak ingin lahan bekas kebakaran kembali dimanfaatkan untuk aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran baru.

Baca Juga: Perkuat Sinergi Pendidikan Hukum, Kemenkum Audiensi ke Disdik Riau

“Lahan bekas kebakaran diawasi total dan tidak boleh ada yang melakukan aktivitas penanaman. Jika ditemukan ada yang menanam di sana, maka dialah yang dianggap membakar atau membuka lahan tersebut dan sanksi tegas akan diberlakukan,” tegasnya.

Menyikapi penurunan jumlah titik panas di Provinsi Riau dan Kota Pekanbaru membuat Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru melalui Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho memastikan status tanggap darurat karhutla dicabut dan kini kini turun menjadi siaga darurat.

“Melihat kondisi kualitas udara dan cuaca di Pekanbaru yang mulai membaik, maka kami akhirnya menurunkan Status Tanggap Darurat Karhutla menjadi Siaga Darurat karena Kota Pekanbaru sudah zero titik api, tidak ada lagi asap, dan jarak pandang berangsur normal,” katanya.

Baca Juga: Perkuat Sinergi Pendidikan Hukum, Kemenkum Audiensi ke Disdik Riau

Agung Nugroho juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel gabungan yang selama ini berjibaku melakukan penanganan dan pemadaman karhutla. Ia berharap seluruh personel yang masih bertugas di lapangan selalu diberikan keselamatan dan tidak mengalami kendala selama menjalankan tugas.

Sementara itu, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekanbaru, Martin Manoluk, mengatakan meskipun titik api sudah dinyatakan nol dan kualitas udara membaik, namun penanganan karhutla tetap menjadi perhatian utama karena saat ini Riau, termasuk Kota Pekanbaru masih berada di musim kemarau kering.

Sehingga pemko bersama personel gabungan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api di sejumlah wilayah. “Kami tetap bersiap siaga dan terus mengimbau masyarakat untuk tidak lagi membuka lahan dengan cara dibakar karena akan berdampak pada lingkungan dan kesehatan,” tuturnya.

Baca Juga: Hadapi Tantangan, PCR Perkuat Sinergi dan Kolaborasi

Di Kuantan Babu Inhu Masih Menyala

Dari 8 titik panas yang terdeteksi, 5 di antaranya berada di Indragiri Hulu (Inhu). Ternyata, karhutla di daerah ini masih terjadi di Desa Kuantan Babu Kecamatan Rengat. Hingga hari ke empat, Senin (31/8) api belum bias dikendalikan karena sumber air untuk memadamkan titik api semakin sulit dan jauh. 

Karhutla ini merupakan lanjutan atau rembesan dari lokasi sebelumnya yakni dari Desa Sungai Guntung Hilir Kecamatan Rengat. “Luasan yang terbakar sudah mencapai 10 hektare (ha) dan kepala api belum terkendali,” ujar Kepala DOPS Manggala Agni Sumatera VII Rengat, Muhammad Ilham Sidik, Senin (31/8).

Tim gabungan yang terdiri Manggala Agni, TNI, Polri, BPBDPKP Inhu serta unsur lainnya masih terus berupaya melakukan penyekatan. Karena apabila tidak dilakukan penyekatan, Karhutla yang terjadi berpotensi semakin meluas di daerah itu. 

Baca Juga: Didakwa Korupsi, Mantan Ajudan Abdul Wahid Ajukan Perlawanan

Memang sebutnya, saat ini tim yang ada sudah ditambah satu regu Daops Manggala Agni Sumatera V Dumai. Namun api sudah memasuki kawasan hutan dan sulit dijangkau. “Areal yang terbakar merupakan tanah gambut. Selain dipermukaan, api juga berada dibagian dalam tanah,” ungkapnya.

Wilayah yang terbakar sambungnya, juga tidak bisa dilakukan pola pemadaman berupa OMCatau yang sering dikenal sebagai hujan buatan. Karena, arah awan saat ini lebih ke wilayah Indragiri Hilir (Inhil). “Angin yang bertiup kencang juga mengakibatkan lahan yang terbakar semakin meluas,” terangnya.

Kuansing Sekolah Daring

Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing)  masih meliburkan sekolah untuk semua jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta, Senin (31/8). 

Ini disebabkan kualitas udara yang masih berstatus tidak sehat. Kebijakan meliburkan sekolah dan belajar daring masih terus dievaluasi. 

Belajar tatap muka, masih menunggu hingga kualitas udara membaik. “Iya, sampai hari ini (kemarin, red) kita masih meliburkan sekolah. Ini tergantung hasil evaluasi. Kalau udara sudah dinyatakan sehat oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga, belajar tatap muka akan di mulai,” ungkap Plt Bupati Kuansing Muklisin, Senin (31/8).

Muklisin berharap udara kembali membaik, sehingga aktivitas pendidikan bisa kembali berjalan normal. Selain itu, ia mengingatkan masyarakat agar menghindari aktivitas membuka lahan dengan cara dibakar yang bisa menimbulkan karhutla. 

Memang dari data indeks kualitas udara yang dipantau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing per 31 Agustus 2026, kualitas udara wilayah Kuansing masih tidak sehat. “Berdasarkan angka ini, sampai hari ini kualitas udara kita masih tidak sehat,” ujar Plt Kadis DLH Kuansing, Dody Fitrawan.

Pemkab Inhil Gelar Salat Istiska

Kemarau panjang yang melanda Inhil mulai berdampak terhadap kondisi lingkungan. Kabut asap kembali terasa di sejumlah wilayah, sementara titik api masih ditemukan. Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Inhil mengajak masyarakat memanjatkan doa melalui Salat Istiska di Halaman Kantor Bupati Inhil, Jalan Akasia Nomor 1 Tembilahan, , Selasa (1/9) hari ini.

“Kondisi kemarau yang cukup panjang, masih adanya titik-titik api, serta kabut asap yang semakin terasa tentu menjadi perhatian kita bersama. Selain upaya penanganan yang terus dilakukan di lapangan, kita juga berikhtiar melalui doa dengan melaksanakan Salat Istiska,” ujar Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Muammar Gaddafi, kemarin.

“Ini adalah ikhtiar kita bersama. Pemerintah terus melakukan langkah-langkah penanganan sesuai kewenangan, dan melalui Salat Istiska ini kita bersama-sama mengetuk pintu langit, memohon agar Kabupaten Indragiri Hilir segera diberikan hujan dan kondisi kembali membaik,” tambahnya.

RSUD Meranti Siapkan Dokter Paru dan Ruang Rawat

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Kepulauan Meranti mencapai 7.075 kasus sepanjang Januari hingga Juli 2026. Di tengah kondisi kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kepulauan Meranti memastikan kesiapan menghadapi kemungkinan meningkatnya pasien dengan gangguan pernapasan.

“Kasus ISPA masih ditemukan pada semua kelompok usia,’’ ujar

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Widya Nengsih. Di tengah tingginya kasus tersebut, RSUD Kepulauan Meranti memastikan fasilitas rujukan siap apabila terjadi peningkatan pasien, terlebih jika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan. 

Direktur RSUD Kepulauan Meranti, Romy Haris Nanda mengatakan hingga saat ini belum ada pasien yang datang ke RSUD dengan keluhan ISPA. “Alhamdulillah sampai sekarang belum ada pasien dengan keluhan ISPA. Mudah-mudahan jangan sampai ada,” ujar Romy. “Kami sudah siap untuk menangani kasus ISPA. Dokter paru kami ada, obat juga ada, dan ruang rawat inap paru juga kita ada,” jelasnya.(ayi/sol/ilo/dac/*2/dass)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
kebakaran hutan dan lahan karhutla riau hotspot riau