Melonjak, 205 Titik Panas Tersebar di Riau

Tim Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 09:18 WIB
Lahan yang terbakar di kilometer 75, Dusun II Tanjung Potai, Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis terlihat masih berasap, Kamis (3/9/2026). Lahan seluas 270 hektare di kawasan Suaka Margasatwa Cagar Biosfer Giam Siak Kecil ini akan dijadikan kebun kelapa sawit oleh pria lanjut usia berinisial JP yang kini jadi tersangka. (Humas Polres Bengkalis untuk Riau Pos)
Lahan yang terbakar di kilometer 75, Dusun II Tanjung Potai, Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis terlihat masih berasap, Kamis (3/9/2026). Lahan seluas 270 hektare di kawasan Suaka Margasatwa Cagar Biosfer Giam Siak Kecil ini akan dijadikan kebun kelapa sawit oleh pria lanjut usia berinisial JP yang kini jadi tersangka. (Humas Polres Bengkalis untuk Riau Pos)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Hotspots atau titik panas di wilayah Riau dan Pulau Sumatera kembali melonjak, Kamis (3/9). Radar citra satelit Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mendeteksi 2.340 titik panas di Pulau Sumatera, pukul 16.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 205 terpantau di Riau.

Menurut Prakirawan BMKG Pekanbaru Deby C menjelaskan titik panas di Riau tersebar di 10 daerah dan terbanyak di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), yakni 69. Disusul Indragiri Hulu (Inhu) 41, Bengkalis 32, Kepulauan Meranti 24, Pelalawan 19, Siak 9, Kuantan Singingi (Kuansing) 6, Rokan Hulu 3, Kampar 1, dan Pekanbaru 1.

Untuk titik panas di Pulau Sumatera, selain di Riau juga terdeteksi di Provinsi Sumatera Selatan 1.391, Bangka Belitung dengan 299, Jambi 266 titik, Lampung 104, Bengkulu 29, Kepulauan Riau 27, Sumatera Barat 13, Sumatera Utara 6. Sehari sebelumnya, Rabu (2/9), titik panas di berkisar 1.553 dan di Riau hanya 64.

Baca Juga: Sumatera Membara dengan 2.671 Hotspot, Provinsi Riau Sumbang 234 Titik Panas

Meningkatnya jumlah titik panas ini turut membuat kualitas udara di Provinsi Riau, khususnya di Kota Pekanbaru kembali mengalami penurunan. Pantauan BMKG menunjukkan kualitas udara Pekanbaru berada pada kondisi yang perlu diwaspadai. Pada pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat 59,3 µg/m³ dengan kategori Tidak Sehat. 

Grafik pemantauan BMKG memperlihatkan konsentrasi PM2.5 berada di atas 50 µg/m³ pada sejumlah waktu pemantauan. Setelah sempat berada di kisaran 36 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB, konsentrasi kembali meningkat hingga mencapai sekitar 63 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB dan masih berada di kisaran 59 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB.

Kualitas udara di Pekanbaru terus mengalami penurunan dengan konsentrasi partikulat (PM2.5) di pukul, 13.00 WIB berkisar 115.5 µg/m3. Yang masuk dalam kategori Tidak Sehat. Kondisi ini masih bertahan pada pukul 17.00 WIB, di mana konsentrasi partikulat (PM2.5) berkisar 89.3 µg/m3. Yang masuk dalam Kategori Tidak Sehat.

Baca Juga: DPP Tunjuk Parisman Ikhwan Ketua Harian DPD Golkar Riau

“Karena masih diselimuti kabut asap kiriman dari daerah lain. Pasalnya, arah angin berhembus ke arah selatan Pekanbaru. Kondisi ini juga membuat jarak pandang di sejumlah wilayah Riau masih tergolong cukup baik. Pada pukul 16.00 WIB, jarak pandang di Pekanbaru tercatat 5 kilometer dan masih diselimuti kabut tipis, Rengat 8 kilometer, Pelalawan 7 kilometer, dan Tambang 5 kilometer dengan masih diselimuti kabut asap tipis” tegasnya.

Kualitas udara di Kabupaten Bengkalis juga menurun dan masuk kategori tak sehat. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di angka 132. Sedangkan data pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup melalui stasiun pemantauan Kabupaten Bengkalis, di Desa Sanggoro, menunjukkan parameter kritis berada pada PM2.5 dengan nilai 132.

Sementara itu, parameter lainnya tercatat PM10 sebesar 105, SO2 sebesar 63, CO sebesar 4, O3 sebesar 40 dan NO2 sebesar 80. Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara yang dapat memberikan dampak merugikan bagi manusia, hewan dan tumbuhan.

Baca Juga: Penampakan Karhutla Riau dari Kokpit F-16, Asap Membumbung

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bengkalis Agus melalui Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Sri Hartati ST mengatakan, kondisi kualitas udara saat ini masih belum stabil dan terus mengalami perubahan dari pagi hingga siang hari.

“Data kualitas udara saat ini memang terpantau dalam kondisi tidak sehat. Dari pantauan pagi hingga siang hari, angkanya masih terus berubah dan berada di atas 132,” jelas Sri Hartati, Kamis (3/9). ‘’Sebelumnya sempat berada dalam kategori sedang,’’ tambahnya.

Sekretaris DLH Bengkalis, Marngatin mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan indeks kualitas udara. “Indeks kualitas udara saat ini memang belum stabil. Kami terus melakukan pemantauan dan apabila kualitas udara masuk kategori tidak sehat maupun kembali membaik, hasilnya akan kami laporkan kepada Dinas Pendidikan,” jelasnya.

Baca Juga: Hotspot Kembali Tinggi, Riau Sumbang 205 Titik Panas 

Di Kuansing, kualitas udara juga berada di kategori Tidak Sehat, kemarin. Plt Kepala DLH Kuansing, Dody Fitrawan menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi kiriman asap daerah kabupaten tetangga yang kembali banyak. Namun secara keseluruhan, kualitas udara di Kuansing berangsur-angsur semakin membaik. 

Begitu juga dengan kasus ISPA di Kabupaten Kuansing dalam tiga hari ini juga menunjukkan penurunan.  Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kuansing, Helma Muliani menjelaskan, kasus ISPA yang terjadi masih dalam tahap gejala dan ringan. 

‘’Tidak ada yang dirawat secara intensif di puskesmas maupun di rumah sakit. Kondisi ini dipengaruhi semakin membaiknya kualitas udara di Kuansing. Meski begitu, Dinas Kesehatan tetap menghimbau masyarakat agar menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah,’’ ujarnya.

Baca Juga: Tingkatkan Kompetensi Pembentukan Regulasi, Kemenkum Riau Ikuti Pelatihan Teknis PPU

Tim Gunakan Helikopter 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali muncul di sejumlah wilayah Riau. Beberapa titik yang sebelumnya sempat berhasil dipadamkan kini kembali terbakar dan membutuhkan penanganan melalui udara. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, M Edy Afrizal mengatakan, helikopter water bombing difokuskan untuk melakukan pemadaman.

Menurutnya, karhutla di Sungai Guntung Hilir sebelumnya sempat dinyatakan padam. Namun, api kembali muncul dan membakar lahan di kawasan tersebut. “Untuk helikopter water bombing kita fokuskan melakukan pemadaman di Rantau Mempesai dan Sungai Guntung Hilir, Indragiri Hulu. Di Sungai Guntung Hilir sebelumnya sempat padam, tetapi kembali menyala,” kata Edy.

Selain Inhu, helikopter water bombing juga dikerahkan untuk membantu pemadaman di wilayah Bengkalis, yakni di Pinggir dan Pematang Pudu. Kondisi serupa terjadi di Pematang Pudu. Karhutla di kawasan tersebut sebelumnya sempat padam dan hanya menyisakan asap tipis di bekas areal terbakar. 

Baca Juga: Antrean Mengisi Solar  Menumpuk di SPBU

Namun, api kembali berkobar sehingga pemadaman kembali dilakukan. “Di Pematang Pudu juga sebelumnya sempat padam, tinggal asap tipis di bekas areal terbakar. Tapi juga kembali berkobar,” ujarnya. Sementara itu, titik api baru juga terdeteksi di Kepulauan Meranti, tepatnya di Desa Gemala Sari. Tim pemadam kini melakukan penanganan terhadap titik api tersebut agar tidak meluas.

Edy menjelaskan, operasi pemadaman melalui udara dilakukan untuk memperkuat upaya tim darat yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Manggala Agni hingga BPBD. “Pemadaman melalui udara ini untuk mendukung tim darat dari berbagai unsur, baik TNI, Polri, Manggala Agni maupun BPBD,” jelasnya.

Menurut Edy, penggunaan helikopter water bombing menjadi penting terutama untuk menjangkau lokasi yang sulit didatangi petugas melalui jalur darat. Helikopter juga diarahkan ke area kebakaran yang berada jauh dari sumber air. “Helikopter water bombing kita fokuskan di titik-titik yang aksesnya sulit dijangkau tim darat, termasuk area yang jauh dari sumber air,” ujarnya.

Baca Juga: Lemonia Bagikan Produk kepada Peserta Gowes Merdeka 2026

Sementara itu, Bupati Inhu Ade Agus Hartanto bersama Kapolres AKBP Eka Ariandy Putra turun bersama ke lokasi karhutla di Desa Kuantan Babu Kecamatan Rengat, Kamis (3/9). “Turun lapangan kali ini dalam rangka mengecek kondisi lapangan serta personel yang ada,” ujar Bupati Inhu, Ade Agus Hartanto, kemarin.

Lebih jauh disampaikannya, lahan yang terbakar merupakan tanah gambut yang butuh waktu lama untuk memadamkannya. Bahkan, saat di lokasi, Bupati juga melihat sumber api baru yang muncul dari lokasi yang sudah terbakar dan dipadamkan sebelumnya.

Upaya pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau dilakukan dari berbagai penjuru. Tidak hanya melalui patroli darat dan pemantauan satelit, pengawasan juga dilakukan dari udara menggunakan pesawat tempur F-16 milik Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

Patroli udara tersebut dilaksanakan Kamis (3/9). Pesawat F-16 Skadron Udara 16 menyisir sejumlah wilayah yang dinilai memiliki potensi munculnya titik api. Dari ketinggian, personel memantau kondisi kawasan yang dilintasi untuk mendeteksi indikasi kebakaran maupun situasi lain yang membutuhkan perhatian.

Baca Juga: UPTJJ Wilayah II PUPR Riau Gesa Perbaikan Ruas Jalan di Rohil

Dalam pemantauan tersebut, salah satu penampakan yang berhasil diabadikan dari udara menunjukkan kepulan asap cukup tebal membubung ke angkasa. Temuan tersebut menjadi bagian dari informasi yang selanjutnya dikoordinasikan dengan unsur terkait untuk menentukan langkah penanganan.

Penerbangan pemantauan ini dilakukan bersamaan dengan agenda latihan penerbangan rutin Skadron Udara 16. Meski demikian, kegiatan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla di Riau.

Sejumlah wilayah menjadi sasaran pemantauan. Rute penerbangan mencakup Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti hingga Siak. Di Kabupaten Pelalawan, pesawat menyisir kawasan Rantau Baru, Mak Teduh, Kerumutan hingga kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan. Pemantauan kemudian dilanjutkan menuju sejumlah wilayah di Indragiri Hulu.

Baca Juga: Pasific Berikan Promo Spesial bagi Pecinta Olahraga Sepeda di Riau

Dari Indragiri Hulu, penerbangan berlanjut ke wilayah Indragiri Hilir, antara lain Sungai Guntung Hilir, Rantau Mapesai, Alim, Sungai Akar dan Kotabaru Reteh. Sejumlah kawasan lainnya seperti Harapan Jaya, Tempuling, Sungai Beringin, Pungkat, Belantaraya, Tegal Rejo Jaya dan Bantayan juga masuk dalam rute patroli.

Pesawat kemudian melintas di kawasan Pulau Muda, Pelalawan, Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, serta Dayun, Siak. Setelah menyelesaikan pemantauan, pesawat kembali ke pangkalan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

“Informasi dari hasil pemantauan udara akan diteruskan untuk dikoordinasikan dengan unsur terkait sebagai bahan penanganan lebih lanjut,” ujar Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru Marsma TNI Abdul Haris, Kamis (3/9).

Menurut Marsma TNI Abdul Haris, pemantauan dari udara memiliki peran penting dalam memberikan gambaran kondisi wilayah yang sulit dijangkau melalui pemantauan darat. Dengan pemantauan dari udara, indikasi kebakaran di sejumlah kawasan dapat diketahui lebih awal dan selanjutnya dikoordinasikan untuk mendapat penanganan di lapangan.

Baca Juga: EMP Korinci Baru Tanam Pohon Produktif di Bambu Kuning 

Lansia Diamankan Bersama Dua Alat Berat 

Kasus karhutla di kilometer 75, Dusun II Tanjung Potai, Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis, berbuntut panjang. Bahkan kasus ini menguak dugaan kerusakan hutan alam yang sangat besar.

Dalam pengembangan perkara yang ditangani Tim Penyidik Satreskrim Polres Bengkalis mengungkap dugaan penguasaan lahan seluas 270 hektare (ha) di kawasan Suaka Margasatwa Cagar Biosfer Giam Siak Kecil (SM-CBGSK) yang dijadikan kebun kelapa sawit oleh seorang pria lanjut usia (lansia) berinisial JP (76). 

“Setelah kami melakukan gelar perkara, Rabu (2/9) langsung menahan tersangka bersama dua unit alat berat yang digunakan untuk menggarap lahan, yang awalnya terlibat kebakaran kawasan tersebut,” ujar Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar, Kamis (3/9).

Kepada petugas, tersangka mengaku membeli lahan seluas 270 hektare berdasarkan surat hibah ninik mamak pada tahun 2024 seharga Rp2,7 miliar dengan surat tanah berbentuk SKGR (Surat Keterangan Ganti Rugi).(ayi/sol/ksm/dac/kas/dof/das)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
kebakaran hutan dan lahan titik panas karhutla riau