Antrean Solar Masih Terjadi di Sejumlah SPBU 

Tim Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 09:39 WIB
Kendaraan yang akan melakukan pengisian bahan bakar minyak bersubsidi antre di SPBU Jalan Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, Kamis (3/9/2026). (MHD AKHWAN/RIAUPOS)
Kendaraan yang akan melakukan pengisian bahan bakar minyak bersubsidi antre di SPBU Jalan Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, Kamis (3/9/2026). (MHD AKHWAN/RIAUPOS)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Antrean panjang kendaraan yang hendak mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar masih terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Riau, Kamis (3/9). Di Pekanbaru, antrean terlihat di SPBU Jalan HR Soebrantas. 

Seorang pengendara bernama Yadi, mengatakan, antrean solar memang sudah biasa terjadi dan dirinya memilih bersabar menunggu hingga pengisian solar dibuka.

“Memang antre terus seperti ini kita, sabar saja. Nanti kalau dibuka baru gerak ke pengisiannya,” sebutnya saat ditemui, kemarin.

Baca Juga: Melonjak, 205 Titik Panas Tersebar di Riau

Antrean serupa juga terlihat di SPBU Jalan Kaharuddin Nasution Ujung. Kendaraan tampak memadati area antrean untuk mendapatkan solar.

Arian, seorang pengendara yang ikut mengantre menyebutkan, kondisi tersebut bukan hal baru. “Biasa saja, antre terus untuk dapatkan solar,” ujarnya.

Sementara itu, petugas SPBU Kaharuddin Nasution bernama Fardi mengatakan, memastikan ketersediaan solar masih ada. Namun, dalam beberapa hari terakhir jumlah kendaraan yang mengantre untuk mendapatkan solar terlihat lebih banyak dibandingkan biasanya. “Solar ada, cuma yang antre beberapa hari terakhir ini lebih banyak,” jelas Fardi.

Baca Juga: Sumatera Membara dengan 2.671 Hotspot, Provinsi Riau Sumbang 234 Titik Panas

Pantauan di lapangan, antrean didominasi kendaraan yang menggunakan BBM jenis solar. Para pengendara terlihat menunggu secara bergantian hingga proses pengisian di dispenser solar kembali dibuka.

Kondisi antrean tersebut membuat pengendara harus meluangkan waktu lebih lama sebelum dapat melanjutkan perjalanan. Meski demikian, pengendara tetap memilih bertahan di antrean untuk mendapatkan solar.

Truk berat antre solar juga masih berjejer di sejumlah SPBU perbatasan Kota Pekanbaru-Kampar. Pantuaan Riau Pos, antrean truk-truk itu sudah terlihat sejak pagi. Sekitar pukul 06.40 WIB, beberapa truk sudah berbaris di dua sisi Jalan Pasir Putih, Pandau Jaya, Siak Hulu. 

Baca Juga: DPP Tunjuk Parisman Ikhwan Ketua Harian DPD Golkar Riau

Truk ini sudah antre bahkan saat petugas belum buka layanan pengisian minyak di SPBU Simpang Pandau tersebut. Pedagang kue di persimpangan Pandau mengatakan, tiga truk malah sudah lebih dulu antre di pinggir jalan tersebut sebelum ia menggelar dagangan. ‘’Mungkin sopirnya tidur di sini sambil nunggu,’’ ungkapnya sambil melayani pembeli.

Saat hampiri wartawan, dua di antara truk itu dalam keadaan mati. Tidak pula terlihat ada sopir di truk-truk dengan belasan roda tersebut. Sementara itu, sekitar 1 km dari SPBU Pandau, puluhan truk sudah berbaris di pinggir jalan. Jejeran antrean itu berada di lajur sisi barat Jalan Kaharuddin Nasution dekat SPBU Pandau Jaya.

Pantauan Riau Pos sekitar pukul 07.30 WIB di SPBU ini, truk berbaris panjang menutupi pagar SMK Pertanian Terpadu Riau. Antrean kali ini lebih panjang dari antrean sehari sebelumnya. Bahkan antrean truk ini sudah terlihat beberapa puluh meter dari Simpang Kaharuddin Nasution-Soekarno-Hatta mengarah ke pusat kota. Antrean ini masih terpantau hingga tengah hari.

Baca Juga: Penampakan Karhutla Riau dari Kokpit F-16, Asap Membumbung

Di Kuantan Singingi (Kuansing) juga demikian. Antrean kendaraan di SPBU Sungai Jering masih terjadi. Baik kendaraan yang mengisi bahan bakar solar maupun pertalite. Termasuk pengendara roda dua. Menurut Yuli, seorang ASN yang tinggal di Kelurahan Sungai Jering, dirinya tidak punya pilihan. Sebab, kondisi ini juga terjadi di SPBU Kebun Nenas maupun SPBU Sitorajo Kecamatan Kuansing. 

Sedangkan jarak kedua SPBU itu lebih jauh dari tempat tinggalnya. Perlu waktu 15 menit untuk ke SPBU Kebun Nenas maupun Sitorajo Kari. Sementara ke SPBU Sungai Jering hanya berjarak lima menit dari tempat tinggalnya.  “Kalau antre lama dan sama panjang antreannya, tentu lebih baik kami antre di SPBU Sungai Jering,” ujarnya.

Untuk mendapatkan giliran pengisian pertalite, dia harus bersabar menunggu 40 menit. Kondisi ini masih terbilang wajar. “Tadi (kemarin, red) antre sekitar 40 menit. Yang parah itu di bulan lalu sampai antre satu jaman,” ujarnya.

Baca Juga: Hotspot Kembali Tinggi, Riau Sumbang 205 Titik Panas 

Begitu juga Tamborin, warga Kari yang memilih antre di SPBU Sitorajo. Karena jaraknya lebih dekat dengan rumahnya. Hanya saja untuk solar, sedikit lebih lama. Banyak kendaraan berbahan bakar yang juga ikut antre. “Sekitar satu jaman lah baru dapat giliran,” ujarnya. 

Sebagai warga, Tamborin tak mengerti mengapa di wilayah Kabupaten Kuansing antrean kendaraan sering terjadi. Sedangkan di wilayah Sumatera Barat yang bukan daerah penghasil BBM, justru lancar-lancar saja. 

Selain  itu, melihat semakin padatnya pengguna kendaraan, ada baiknya dilakukan penambahan SPBU di wilayah Telukkuantan sehingga bisa ikut mengurai kepadatan antrean kendaraan di SPBU Sungai Jering maupun Sitorajo. 

Petugas SPBU Sungai Jering Masran menjelaskan, kondisi ini mulai terjadi usai pacu jalur. Bisa saja aktivitas masyarakat kembali bergeliat. Mereka sendiri tetap melakukan pengisian BBM sesuai mekanisme. Menggunakan barcode pertamina dan pencocokan BM kendaraan. “Tanpa barcode, tidak bisa mengisi,” ujarnya.

Baca Juga: Tingkatkan Kompetensi Pembentukan Regulasi, Kemenkum Riau Ikuti Pelatihan Teknis PPU

Demikian juga di Rokan Hulu (Rohul). Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan solar di SPBUdikeluhkan masyarakat. Antrean kendaraan yang mengular hingga memakan badan jalan dinilai mengganggu kelancaran arus lalu lintas sekitar sebulan terakhir di Pasirpengaraian dan sekitarnya.

Kondisi tersebut hampir setiap hari terlihat di sejumlah SPBU, di antaranya SPBU di Jalan Tuanku Tambusai, Jalan Lingkar Pasirpengaraian, Dusun Lintam serta kawasan Ujungbatu Timur. Panjangnya antrean membuat kendaraan yang melintas harus memperlambat laju, bahkan berpotensi menimbulkan kemacetan apabila antrean semakin memanjang.

Sejumlah warga menduga panjangnya antrean tidak terlepas dari adanya kendaraan tertentu yang melakukan pengisian solar subsidi secara berulang. Praktik tersebut dicurigai berkaitan dengan aktivitas melangsir BBM subsidi untuk kemudian dijual kembali kepada pihak lain.

Baca Juga: Antrean Mengisi Solar  Menumpuk di SPBU

Warga Desa Pematang Berangan, Andi Syaputra, mengatakan persoalan antrean pengisian solar tersebut sudah cukup lama menjadi keluhan masyarakat di Rohul, khususnya Pasirpengaraian. Selain mengganggu pengguna jalan, dugaan praktik melangsir juga berpotensi menyebabkan BBM subsidi tak tepat sasaran.

“Yang kita soroti, banyak truk dan colt diesel yang antre berjam-jam untuk mendapatkan solar di dua SPBU Pasirpengaraian, Kecamatan Rambah. Kami menduga ada oknum yang melakukan pengisian berulang untuk melangsir, dengan menggunakan dua barcode, mengganti plat kendaraan,” ujarnya usai antre berjam-jam demi mendapatkan solar di SPBU Jalan Tuanku Tambusai Pasirpengaraian.

Andi mengatakan dugaan penyalahgunaan tersebut semakin meresahkan, karena solar yang diperoleh dari SPBU diduga kembali dijual kepada pihak yang membutuhkan BBM dalam jumlah besar. Ia mencontohkan kendaraan maupun kegiatan usaha tertentu yang membutuhkan BBM dalam jumlah besar, termasuk kendaraan pengangkut CPO, kayu serta alat berat pada sejumlah kegiatan usaha. 

Baca Juga: Lemonia Bagikan Produk kepada Peserta Gowes Merdeka 2026

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian aparat karena kendaraan yang tidak semestinya menggunakan BBM subsidi diduga mendapatkan pasokan melalui jalur lain. “Kalau BBM nonsubsidi harganya lebih mahal, sementara solar subsidi jauh lebih murah. Ada selisih harga yang cukup besar. Ini yang diduga menjadi celah bagi pelangsir untuk mengambil keuntungan,” ujarnya.

Andi berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohul dan aparat penegak hukum tidak hanya melihat persoalan tersebut dari sisi panjangnya antrean. Tapi akar persoalan dugaan penyalahgunaan BBM subsidi perlu ditelusuri, termasuk kendaraan yang melakukan pengisian secara berulang dan pihak yang membeli kembali solar dari pelangsir.

“Kalau hanya antreannya yang ditertibkan, persoalannya tidak akan selesai. Harus dilihat siapa yang mengisi berulang kali, untuk apa BBM tersebut dan ke mana solar itu dibawa setelah keluar dari SPBU,” katanya.

Baca Juga: UPTJJ Wilayah II PUPR Riau Gesa Perbaikan Ruas Jalan di Rohil

Sementara itu, Pengelola SPBU di Jalan Jalur Dua Tuanku Tambusai Pasirpengaraian bernama Sony mengakui, antrean kendaraan yang mengisi solar masih terjadi meski kuota penyaluran telah ditambah. “Saya juga tidak tahu kenapa yang mengisi tidak habis-habis. Padahal kuota sudah ditambah dari 16 kiloliter menjadi 24 kiloliter,” ujarnya. 

Menurut Sony, persoalan antrean kendaraan yang mengisi solar tidak hanya terjadi di satu SPBU maupun di Rohul. Kondisi serupa, katanya, juga terjadi di sejumlah SPBU di wilayah Riau. Ia menyebut adanya perbedaan harga yang cukup jauh antara BBM subsidi dengan BBM nonsubsidi menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam persoalan tersebut. 

Selisih harga itu dinilai dapat menjadi daya tarik bagi pihak tertentu untuk mendapatkan Solar subsidi dan menjualnya kembali. Sony menambahkan, pihak SPBU telah berkoordinasi dengan aparat terkait mengenai kondisi tersebut, termasuk menyampaikan laporan terkait dugaan aktivitas pelangsiran yang dinilai meresahkan.

Baca Juga: Pasific Berikan Promo Spesial bagi Pecinta Olahraga Sepeda di Riau

“Kami sudah koordinasi dengan aparat dan melaporkan kondisi SPBU, mengenai para pelangsir yang meresahkan. Namun, sampai sekarang tidak ada berkurang, bahkan jumlahnya malah bertambah,” katanya. Kondisi tersebut, masyarakat meminta adanya pengawasan lebih ketat di SPBU, khususnya pada jam-jam antrean solar.

‘’Kami mendorong aparat kepolisian dari Polres Rohul menempatkan personel di SPBU di Rohul yang rawan terjadi antrean panjang untuk mengatur lalu lintas sekaligus mengawasi dugaan penyalahgunaan BBM subsidi jenis solar,’’ ungkap Hasbi, warga Kelurahan Pasirpengaraian, Kamis (3/9).

Pengawasan tersebut, dinilainya penting agar kendaraan yang mengantre tidak sampai menggunakan badan jalan dan mengganggu pengguna jalan lainnya. Di sisi lain, kehadiran aparat diharapkan dapat mencegah kendaraan yang diduga melakukan pengisian berulang untuk kepentingan melangsir. 

‘’Kami berharap pengawasan tidak hanya dilakukan ketika terjadi kemacetan atau keluhan masyarakat mencuat, tetapi dilakukan secara rutin dan terpadu bersama pengelola SPBU serta pihak kepolisian dan Pemkab Rohul (dinas terkait). (ilo/end/dac/epp)

 

Editor : Arif Oktafian
kuantan singingi riau pekanbaru rokan hulu