Udara Mulai Membaik Jarak Pandang Kembali Normal, Titik Panas Riau Tersisa 44

Tim Redaksi • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 13:37 WIB
Kondisi hujan yang mengguyur kota Pekanbaru di Jalan Delima, Ahad (30/8/2026) malam. (Prapti Dwi Lestari/Riaupos.co)
Kondisi hujan yang mengguyur kota Pekanbaru di Jalan Delima, Ahad (30/8/2026) malam. (Prapti Dwi Lestari/Riaupos.co)

 PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah Riau, Jumat (11/9). Kondisi ini membuat jumlah titik panas di Bumi Lancang Kuning mengalami penurunan yang cukup signifikan yakni tersisa 44 titik. Kualitas udara pun mulai membaik.

Sehari sebelumnya, Kamis (10/9), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mendeteksi 123 titik panas di Riau. Namun, kemarin tinggal 44 titik panas. Itu pun tersebar di tiga daerah yakni Kabupaten Indragiri Hulu 31 titik, Indragiri Hilir 12, dan Bengkalis 1.

Forecaster on Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Elisa JS Kedang menjelaskan, berdasarkan pemantauan terbaru pukul 16.00 WIB, tak hanya di Riau, jumlah titik panas di Pulau Sumatera juga mengalami penurunan.

Pulau Sumatera kini hanya terkepung oleh 645 titik panas, jauh menurun dibandingkan sehari sebelumnya sebanyak 1.179. Provinsi Sumatera Selatan masih menjadi ‘’penyumbang’’ terbesar yakni 440 titik. Disusul Bangka Belitung 95,  Lampung 39, Jambi 16, dan Kepulauan Riau 11 titik.

“Mulai membaik dan menurunnya titik panas di Provinsi Riau turut membuat kualitas udara dan jarak pandang di sejumlah daerah kembali normal. Untuk jarak pandang di Kota Pekanbaru terpantau sangat baik dengan 9 kilometer (km). Begitu juga dengan Rengat yang jarak pandangnya 7 kilometer, Pelalawan 8 kilometer, dan Tambang 9 kilometer,” tegasnya.

Baca Juga: Kualitas Udara Pekanbaru Membaik, Titik Api Nihil

Ya, tak hanya titik panas, titik api di Pekanbaru juga nihil akibat hujan. Kondisi tersebut turut mendorong membaiknya kualitas udara. “Alhamdulillah hujan mengguyur kota, kita bersyukur kualitas udara pun jadi membaik,” ujar Sekretaris Kota (Sekko) Pekanbaru Zulhelmi Arifin, kemarin.

Meski kualitas udara mulai membaik, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru tetap mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Layanan kesehatan bagi warga yang mengalami gangguan akibat paparan asap masih disiapkan di seluruh puskesmas.

Baca Juga: Satu Jam Padamkan Satu Titik Api, Tiga Jam Bolak-balik Ambil Air

Zulhelmi memastikan sebanyak 21 puskesmas di Kota Pekanbaru masih melayani masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). “Kita siapkan obat-obatan bagi pasien ISPA, di RSD Madani, ada juga nebu bagi pasien,” terangnya.

Menurutnya, kabut asap yang masih terpantau di sejumlah lokasi Pekanbaru bukan berasal dari kebakaran lahan di dalam kota. Asap tersebut merupakan kiriman dari daerah di sekitar Kota Pekanbaru. “Kalau untuk di Kota Pekanbaru, sekarang sudah zero titik api,” ujarnya.

Di sisi lain, Pemko Pekanbaru kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah sembarangan. Imbauan tersebut dinilai penting mengingat masih terdapat kawasan yang memiliki lahan gambut dan rentan terbakar.

Zulhelmi mengingatkan, kebiasaan membakar sampah di sekitar permukiman dapat menjadi pemicu kebakaran, terutama ketika kondisi cuaca kering. “Karena di beberapa tempat, yang lahannya gambut, awalnya mereka bakar sampah. Itu kita ingatkan,” ujarnya.

Di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), hujan selama tiga hari terakhir membuat kabut asap tebal yang sempat menyelimuti sejumlah wilayah sejak Ahad (6/9), kini terlihat mulai menipis. Pantauan Riau Pos, Jumat (11/9) petang, kondisi udara di sejumlah kawasan Pasirpengaraian dan sekitarnya terlihat lebih cerah dibanding beberapa hari sebelumnya. 

Bahkan sejumlah kecamatan se Rohul langit terlihat mendung. Jarak pandang juga mulai membaik. Meski demikian, kabut tipis masih terlihat dari kejauhan, terutama di kawasan kaki Bukit Barisan yang berada di Kecamatan Rambah, Rambah Samo dan Bangun Purba.

Berkurangnya kabut asap juga terlihat dari kembali normalnya aktivitas masyarakat. Pelajar di Rohul, Jumat (11/9) sudah kembali mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Seorang warga Kelurahan Pasirpengaraian Dedi mengaku bersyukur.

“Alhamdulillah sudah turun hujan dalam tiga hari terakhir. Kabut asap juga mulai hilang dan udara terasa lebih nyaman. Mudah-mudahan hujan terus turun sehingga asap benar-benar hilang di Kabupaten Rohul,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rohul Zulhendri melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Soeprapno membenarkan kondisi kabut asap di wilayah Rohul mulai berkurang. “Hari ini (kemarin, red) juga tidak ada terpantau titik panas,” katanya.

“Dengan kondisi cuaca yang masih ekstrem dan cepat berubah, masyarakat Rohul tetap waspada potensi terjadinya Karhutla. Jika ditemukan adanya titik api atau lahan yang terbakar di sekitar lingkungan, segera laporkan kepada kepala desa setempat atau BPBD Rohul sehingga segera ditindaklanjuti,’’ tambahnya.

Kualitas udara di Siak juga membaik. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU, Jumat (11/9) pukul 15.00 WIB mencatat kondisi udara  masuk kategori Sedang di 11 kecamatan dan tiga kecamatan tidak sehat bagi kelompok sensitif. 

Adapun 11 kecamatan tersebut adalah, Siak, Mempura, Dayun, Minas, Tualang, Lubuk Dalam, Koto Gasib, Sabak Auh, Sungai Apit, Pusako, dan Sungai Mandau. Sedangkan tiga kecamatan yang tidak sehat bagi kelompok sensitif, Kecamatan Bungaraya, Kandis, dan Kerinci Kanan.

‘’Kepada kelompok rentan diharapkan dapat membatasi aktivitas di luar rumah sehingga kondisi kesehatan dapat tetap terjaga dengan sangat baik. Jika kondisi udara semakin membaik, aktivitas akan kembali normal. Untuk ASN, tentu apel dan senam kembali dilaksanakan. Demikian juga untuk anak sekolah, tentu kami berlakukan pembelajaran tatap muka,” ujar Pelaksana Harian (Plh) Sekda Siak Fauzi Asni.

Berbeda dengan di Kampar dan Indragiri Hilir. Meski hujan, udara di dua daerah ini masih masuk kategori Tidak Sehat. Data pemantauan pukul 13.00 WIB, menunjukkan nilai ISPU mencapai 153, dengan PM10 menjadi parameter kritis. Sementara itu, indeks parameter pencemar lainnya tercatat PM2.5 sebesar 118, SO₂ sebesar 4, CO sebesar 10, O₃ sebesar 9, NO₂ sebesar 62, dan HC sebesar 0.

Nilai tersebut menempatkan kualitas udara pada kategori Tidak Sehat yang dapat memberikan dampak merugikan bagi kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif terhadap pencemaran udara. “Karena itu, kami terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kualitas udara di wilayah Kabupaten Kampar,” ujar Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kampar melalui Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Idrus.

Di Tembilahan, Indragiri Hilir, berdasarkan pemantauan ISPU, angka kualitas udara tercatat 139. Kondisi tersebut menunjukkan hujan yang turun belum mampu membuat kualitas udara kembali ke kategori Sehat. Polutan yang masih berada di udara menjadi perhatian, terutama di tengah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih ada.

Kalaksa BPBD Inhil R Arliansyah mengatakan, hujan yang turun cukup membantu dalam upaya penanganan dan pencegahan meluasnya karhutla. “Dengan adanya hujan tentu sangat membantu, terutama untuk mengurangi potensi meluasnya kebakaran. Tetapi kondisi di lapangan tetap kita pantau,” ujarnya.

Di Indragiri Hulu (Inhu), Kepala Stasiun BMKG Japura Inhu, Nancy Luciana Damanik mengatakan, berdasarkan hasil pantauan yang dilakukan 02.00 WIB terdapat 31 titik panas yang tersebar di Kecamatan Kuala Cenaku sebanyak 30 dan di Kecamatan Peranap 1. ‘’Hingga sore tidak ada titik panas baru,” ujarnya.

Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Pemadaman Kebakaran dan Penyelamatan (BPBDPKP) Inhu, Mulyadi mengatakan, sejak Jumat (11/9) dini hari, sejumlah wilayah di daerah itu mulai diguyur hujan. Bahkan, hingga siang, di beberapa daerah dalam masih terjadi hujan ringan. 

Sejumlah titik karhutla di daerah itu pun mulai padam. “Walaupun sudah turun hujan, tim gabungan masih diturunkan ke sejumlah titik yang masih terjadi karhutla,” ujarnya. ‘’Hingga sore tim belum memberikan laporan. Semoga jumlah titik karhutla yang berhasil dipadamkan bertambah,” bebernya.

Salat Istiska Dialihkan Jadi Tausiah dan Doa Bersama

Hujan lebat mengguyur Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) sejak Jumat (11/9) subuh. Di Telukkuantan dan sekitarnya, di Kelurahan Sungai Jering, Kari Kecamatan Kuantan Tengah diguyur hujan. “Alhamdulillah hujan lebat di Kari,” kata Wirman, salah seorang warga Kari. 

Hujan membuat rencana pelaksanaan Salat Istiska yang sebelumnya dijadwalkan digelar pagi ini dialihkan menjadi tausiah dan doa bersama. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB di Masjid Raya Teluk Kuantan.

“Alhamdulillah hujan sudah turun di Telukkuantan dan sekitarnya. Setelah dilakukan koordinasi dengan Kakan Kemenag dan MUI, rencana penyelenggaraan Salat Istiska dialihkan menjadi tausiah serta doa bersama,” ujar Kabag Protokol Setda Kuansing, Zainal Abidin.

Namun asap masih terlihat menyelimuti Kuansing. Dari pemantauan ISPU oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kualitas udara di Kabupaten Kuansing masih berstatus Tidak Sehat.  Plt Kadis DLH Kuansing, Dody Fitrawan menjelaskan kualitas udara di wilayah Telukkuantan Kecamatan Kuantan Tengah, di angka 153-164. “Iya. Masih di level Tidak Sehat. Kabut asap ini kiriman daerah tetangga yang masih ada titik api,” kata Dody Fitrawan.

Kalaksa BPBD Kuansing H Yulizar yang dikonfirmasi melalui Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Koko Mahyudi menyebutkan, tidak titik api yang terpantau di wilayah Kuansing. ‘’Hujan hampir merata di semua kecamatan. Kita berharap asap segera hilang dan aktivitas masyarakat kembali normal,’’ ujarnya.(ayi/ilo/epp/mng/kom/*2/kas/dac/das)

Editor : Bayu Saputra
ispu tiitk api Kualitas Udara