RENGAT (RIAUPOS.CO) - Kendaraan berbahan bakar jenis solar khususnya truk masih antre pada sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) di Riau. Salah satu penyebabnya, masih terbatasnya ketersediaan BBM bersubsidi tersebut. Bahkan, di Indragiri Hulu (Inhu), sopir truk harus antre 6 jam untuk mendapatkan solar.
“Kondisi mobil truk antre untuk mengisi BBM jenis solar tidak saja terjadi di Provinsi Riau tetapi juga di sejumlah provinsi tetangga,” ujar Manajer SPBU di Kelurahan Pangkalan Kasai, Kecamatan Seberida bernama Oxy Maryuand, Kamis (17/9).
Dijelaskannya, truk tetap antre ketika persediaan BBM habis. Antre itu terjadi pada pagi menjelang siang dan malam hingga pagi. Karena biasanya, BBM jenis solar ketika masuk pada pagi, sudah habis pada siang hari.
Baca Juga: Mentan Bersama Plt Gubri Serahkan Bantuan Pangan
‘’Truk yang belum mendapatkan solar harus antre menunggu hingga siang. Kadang antrean terjadi paling lama sekitar empat hingga enam “ Karena, ketika BBM sudah datang, semua truk yang antre bergerak masuk ke SPBU,” sebutnya.
Antrean akibat terbatasnya solar juga terjadi di SPBU Bagansiapiapi, Rokan Hilir (Rohil). Pelayanan kepada masyarakat tidak selalu dapat dilakukan sekaligus, terutama ketika stok yang tersedia habis sebelum pasokan berikutnya tiba.
Pengaturan antrean juga harus menyesuaikan dengan jadwal pengiriman dari Pertamina Patra Niaga melalui wilayah Dumai. “Kita tidak bisa memaksakan kalau pasokan belum masuk. Ada waktunya, sehingga terjadi antrean,” kata Direktur Pengembangan BUMD PT SPRH (Perseroda), Yusuf Mudji Sutrisno, Kamis (17/9).
Baca Juga: Sehari, 1.128 Warga Riau Terserang ISPA, Masyarakat Diimbau Gunakan Masker dan Kurangi Aktivitas
Kebutuhan solar di Rohil terangnya dinilai cukup besar karena BBM jenis tersebut tidak hanya digunakan untuk satu sektor. Selain kendaraan angkutan barang dan transportasi, solar juga dibutuhkan nelayan serta masyarakat yang bekerja di sektor pertanian, khususnya ketika memasuki masa tanam.
Dengan kebutuhan yang cukup tinggi tersebut, kuota BBM bersubsidi yang tersedia harus dibagi agar pelayanan tetap berjalan hingga akhir periode kuota. Pihak SPBU mengaku telah berupaya mengatur stok agar tidak seluruh kuota habis dalam satu waktu. Ketika pasokan tersedia, BBM disalurkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kondisi stok untuk hari berikutnya.
“Upaya kita semaksimal mungkin memberikan pelayanan. Kalau stok solar subsidi datang, tidak semuanya kita habiskan. Kita sisakan untuk besok pagi supaya pelayanan tetap ada sambil menunggu pasokan berikutnya masuk, apakah siang atau sore,” jelas Yusuf.
Baca Juga: Potensi Hujan Masih Ada, 71 Hotspot Terdeteksi Ada di Provinsi Riau
Menurutnya pengaturan tersebut penting karena proses pemesanan dan pengiriman BBM membutuhkan waktu. Karena itu, stok yang ada harus dikelola agar tidak terjadi kekosongan terlalu lama. Terkait kebutuhan nelayan, pihak SPBU juga menyebut adanya alokasi khusus yang harus diperhatikan.
Dalam sehari, kebutuhan nelayan dapat cukup tinggi, sementara kemampuan pelayanan berada pada kisaran 8 hingga 16 KL per hari, bergantung pada ketersediaan stok dan pasokan. Di sisi lain, pihak SPBU berharap pengguna BBM bersubsidi benar-benar merupakan masyarakat yang berhak menerima subsidi.
Pengawasan terhadap penyaluran juga perlu diperkuat guna mengantisipasi penyalahgunaan BBM bersubsidi. “Kami harapkan pengguna orang yang tepat. Untuk nelayan juga perlu dilakukan pendataan ulang agar BBM subsidi tidak digunakan oleh pihak yang bukan nelayan,” katanya.
Baca Juga: 64 Tahun Berkarya, Unri Terus Menguat dan Memperluas Dampak
Selain melakukan pengaturan stok, pihak SPBU berharap adanya penambahan kuota BBM bersubsidi untuk mengimbangi tingginya kebutuhan masyarakat. Usulan penambahan kuota disebut telah menjadi bagian dari upaya yang dilakukan, meskipun prosesnya harus melalui mekanisme dan perhitungan berdasarkan data kebutuhan.
Keluhan mengenai sulitnya memperoleh solar bahkan datang dari kendaraan angkutan yang membawa barang dari arah Medan. Kondisi tersebut dikhawatirkan menghambat distribusi berbagai kebutuhan, termasuk material bangunan, apabila kendaraan pengangkut mengalami kesulitan mendapatkan BBM.
Begitu juga rawan dengan mengakibatkan lonjakan harga-harga yang disebabkan terganggunya distribusi angkutan. “Sementara Untuk BBM nonsubsidi, penggunaannya tidak mengalami persoalan antrean seperti yang terjadi pada solar bersubsidi. Antrean panjang lebih banyak terjadi pada BBM bersubsidi jenis biosolar yang memang memiliki kuota terbatas,” katanya.
Pasokan Tersedia, Antrean Masih Terjadi
Di Kuantan Singingi (Kuansing), antrean juga masih terjadi. Di SPBU Sungai Jaring, antrean paling banyak didominasi oleh kendaraan berbahan bakar solar hingga ke Jalan Halim. Pemandangan yang sama juga terlihat di SPBU Kebun Nenas. “Iya. Agak panjang antrean hari ini. Tapi pasokan kita,” kata Mega Wahyuna bagian administrasi SPBU Sungai Jering.
Baca Juga: Sudah 61 Orang Ditetapkan Tersangka Karhutla, Polda Riau Minta Stop Bakar Lahan
Kepala Dinas Kopdagrin Kuansing Drs Masnur MM melalui Pejabat Fungsional Pengawasan Perdagangan, Herlinawati menyebutkan, mereka rutin melakukan pemantauan pasokan BBM di semua SPBU di Kabupaten Kuansing. “Kalau pantauan pasokan BBM rutin kita lakukan. Hasil pantauan BBM tersedia di semua SPBU yang ada sesuai kuotanya,” kata Herlinawati. “Untuk pasokan BBM tersedia di semua SPBU,” tambahnya.
Polisi Diminta Tindak Pelangsir
Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar dikeluhkan masyarakat Rokan Hulu, terutama pengguna mobil pribadi karena harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengisi BBM.
Selain mengganggu aktivitas masyarakat, panjangnya antrean kendaraan, terutama truk, juga dinilai mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Masyarakat meminta aparat kepolisian turun tangan mengawasi pengisian BBM solar subsidi di setiap SPBU yang beroperasi, guna mencegah praktik pelangsiran yang diduga menjadi salah satu penyebab panjangnya antrean.
Baca Juga: Realisasi PSR di Riau Lampaui Target, Sudah Capai 7.244 Hektare
Keluhan tersebut disampaikan sejumlah pengguna kendaraan yang ditemui Riau Pos, Kamis (17/9).
Pantauan Riau Pos di lapangan, Kamis siang, antrean kendaraan masih terlihat di SPBU Jalan Tuanku Tambusai dan SPBU Jalan Lingkar Km 4 Pasirpengaraian, Kecamatan Rambah. Kondisi serupa, dikeluhkan telah lama oleh masyarakat di sejumlah SPBU lainnya, di antaranya SPBU yang beroperasi di Dusun Lintam, Ujung Batu Timur Kecamatan Ujung Batu dan Tandun.
Rian, seorang pengguna mobil pribadi saat mengisi solar di SPBU Jalan Tuanku Tambusai Pasirpengaraian mengaku harus antre cukup lama untuk mendapatkan solar. ‘’Kami mau mengisi solar untuk keperluan sendiri saja harus antre berjam-jam. Yang banyak terlihat justru truk-truk yang antre,’’ keluhnya.
Baca Juga: Menteri Pertanian Amran Sulaiman Serahkan Langsung Bantuan Pangan bagi Masyarakat Riau
Ia mengatakan, kondisi itu membuat masyarakat mencurigai adanya kendaraan tertentu yang berulang kali mengisi solar. Mereka menduga kendaraan tersebut melakukan pelangsiran BBM subsidi sehingga ikut memperpanjang antrean.
Namun, dugaan tersebut diharapkan dapat dibuktikan melalui pengawasan dan pemeriksaan aparat berwenang. ‘’Kalau memang ada truk dan mobil pribadi yang bolak-balik mengisi dan melangsir BBM Solar dengan menukar nopol dan dua barcode seharusnya ditindak tegas oleh polisi,’’ katanya.
Selain persoalan antrean, keberadaan truk yang mengantre hingga menggunakan badan jalan juga menjadi persoalan tersendiri. Di sejumlah titik, kendaraan yang menunggu giliran mengisi BBM dinilai mengganggu arus lalu lintas, khususnya di kawasan jalan utama Pasirpengaraian.
Baca Juga: Meroket, 125 Hotspot Terdeteksi di Riau
Katanya, masyarakat berharap pengelola SPBU dapat menata antrean agar kendaraan tidak memakan badan jalan. Pengawasan dari aparat juga dinilai penting untuk memastikan antrean berjalan tertib dan distribusi BBM subsidi tepat sasaran. ‘’Kami minta Polres Rohul menempatkan personel di SPBU yang rawan terjadi antrean panjang, terutama SPBU yang setiap hari dipadati kendaraan pengisi solar,’’ pintanya
Sementara itu, Nurdin, warga Desa Pematang Berangan Kecamatan Rambah mengatakan, kehadiran polisi di lapangan terutama mengawasi SPBU dapat mencegah atau mengurangi terjadinya antrean kendaraan mengisi BBM solar. ‘’Kalau ada polisi yang mengawasi, orang yang mau melangsir tentu akan berpikir lagi. Minimal ada pengawasan dan masyarakat juga merasa lebih tenang,’’ harapnya.(ksm/fad/dac/epp)
Editor : Arif Oktafian