BAGANSIAPIAPI (RIAUPOS.CO) – Festival Bakar Tongkang kembali digelar di Bagansiapiapi, Rokan Hilir (Rohil), Rabu (1/7). Namun, antusias untuk menyaksikan kegiatan ini berkurang. Tingkat kunjungan menurun ditandai dengan tidak adanya kepadatan dibandingkan pada tahun 2025.
Hal itu dibenarkan Sekdakab Rohil H Fauzi Efrizal usai pelaksanaan Bakar Tongkang 2026. “Kalau animo masyarakat sepertinya berkurang. Kalau tahun lalu luar biasa padatnya lautan manusia, tapi kali ini tidak, kita jalan pun santai (tidak berdesakan, red),” ujarnya, kemarin.
Ia mengharapkan kegiatan yang menjadi ciri khas daerah Rohil itu dapat kembali dikunjungi lebih banyak oleh masyarakat, wisatawan dan berbagai komunitas yang ada. “Kami harap bisa lebih semarak lagi,” katanya.
Baca Juga: Arah Jatuhnya Tongkang 2026 ke Barat atau ke Arah Laut, Kunjungan Tahun Ini Menurun
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada panitia yang telah terlibat menyukseskan acara tersebut. Menurutnya, Bakar Tongkang memiliki dampak terhadap aktivitas perekonomian masyarakat.
Pelaku UMKM, yang bergerak di sektor jasa, angkutan, akomodasi penginapan/hotel mendapatkan pesanan yang lebih dibandingkan biasanya. “Ini tidak terlepas bahwa event ini juga merupakan kalender nasional,” katanya.
Puncak Bakar Tongkang berupa arak-arakan replika kapal tongkang menempuh ruas jalan yang menjadi rute dari prosesi yang mengandung ritual khas masyarakat Tionghoa tersebut.
Baca Juga: Sembilan Peserta Kaligrafi Kafilah Rohil Berhasil Masuk Final MTQ Riau Ke-44, Ini Nama-namanya
Diawali dengan proses pembuatan replika kapal tongkang, yang letaknya berada di ruko belah kiri dari Klenteng Ing Hok King di Bagansiapiapi. Setelah replika siap, dibawa ke arah klenteng kemudian diarak untuk rute yang pendek.
Mengikuti ruas jalan yang berdekatan dengan areal klenteng. Setelah beberapa waktu baru replika tongkang tersebut diarak menempuh rute yang lebih jauh yakni mulai dari areal Klenteng Ing Hok King menempuh jalan Perniagaan dengan jarak tempuh lebih dari dua kilometer.
Di sebelah kanan dari jalan Perniagaan tersebut terdapat areal lapangan yang menjadi tempat pembakaran tongkang setiap tahunnya. Suasana yang khas nampak dimana ribuan peserta dengan memakai kaos berwarna tertentu memadati setiap ruas jalan.
Begitu replika Tongkang sampai di tempat, kemudian diletakkan dengan diperkuat beberapa pancang melalui badan tongkang. Ini sebagai penyangga agar tongkang tak goyah baik pada saat dinaiki sebelum pembakarannya maupun sampai seluruh bagian dari tongkang terbakar.
Beberapa orang dengan cekatan naik ke dalam tongkang tersebut memasang peralatan-peralatan yang diperlukan. Tampak ada dua tiang yang terpancang di badan tongkang namun lebih dekat ke bagian depan.
Begitu dipastikan kondisi tongkang sudah kokoh, beberapa orang baik dari kalangan pejabat, tokoh masyarakat Tionghoa, berdatangan menaiki replika Tongkang yang tinggal menunggu waktu untuk segera dibakar.
Baca Juga: Perusahaan Didorong Bentuk Forum TJSL
Begitu mulai dibakar, api dengan cepat melahap setiap bagian dari tongkang yang terbuat dari paduan papan, kayu, hingga lapisan kertas. Begitu juga tumpukan keras di bagian bawah tongkang turut terbakar.
Kemudian momentum yang paling ditunggu terjadi, di mana tiang tongkang baik yang kecil dan tiang utama mulai goyah, sampai akhirnya tumbang. Arah jatuhnya ke arah barat, yang identik diartikan mengarah ke laut karena di sebelah barat mengarah ke perairan Bagansiapiapi.
“Hokinya lebih banyak ke laut,” kata salah seorang warga, Sadirman atau Sin Teng. Menurutnya hal itu dapat dimaknai usaha yang berkaitan dengan kelautan akan memberikan lebih banyak untung. “Misalnya berkaitan dengan usaha jual beli peralatan perikanan, dan sebagainya,” katanya.(fad)
Editor : Arif Oktafian