PASIRPENGARAIAN (RIAUPOS.CO) -- Upaya menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular maupun penyakit tidak menular di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kerja sama seluruh pihak.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohul mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi lintas sektor serta menghilangkan ego sektoral. Ini sebagai kunci utama meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Negeri Seribu Suluk.
Penegasan tersebut disampaikan Bupati Rohul Anton yang diwakili Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) dr Bambang Triono MM menjawab Riaupos.co, Selasa (21/7/2026), usai membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tingkat Kabupaten Rohul di Sapadia Hotel Pasirpengaraian.
Baca Juga: Lagi, Polda Riau Bongkar Praktik Penyelewengan BBM Bersubsidi
Rakor tersebut dihadiri perwakilan Forkopimda, kepala OPD, camat, pengurus TP PKK Kabupaten dan Ketua TP PKK Kecamatan se-Rohul, para kepala puskesmas beserta penanggung jawab Klaster 2 dan Klaster 4, Kepala UPT Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda), Kepala UPT Instalasi Farmasi Kesehatan serta para kepala bidang, kepala seksi dan jajaran Dinas Kesehatan Rohul.
"Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit. Sinergi seluruh elemen menjadi kunci untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular maupun penyakit tidak menular di Kabupaten Rohul," ujar Bambang.
Menurut Bambang, tantangan di sektor kesehatan saat ini semakin kompleks. Pencegahan dan pengendalian penyakit tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi membutuhkan sinergi lintas sektor dan lintas program.
Baca Juga: Piala Soeratin U-13 Mulai Babak 8 Besar, Berikut Tim yang Bersaing
Ia menjelaskan, selain masih tingginya ancaman penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC), HIV, demam berdarah dengue (DBD), malaria serta penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi, pemerintah juga dihadapkan pada meningkatnya kasus penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke hingga kanker yang menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian masyarakat.
Di sisi lain, kata mantan Kadis Dalduk KB Rohul itu, terjadinya peningkatan mobilitas penduduk, perubahan iklim, serta potensi munculnya penyakit baru maupun penyakit yang kembali muncul (re-emerging diseases) menuntut seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.
Bambang meminta seluruh jajaran Diskes Rohul memperkuat sistem surveilans epidemiologi, mempercepat deteksi dini, meningkatkan investigasi kasus, memperkuat respons terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) serta meningkatkan kesiapsiagaan di semua sektor.
Ia menekankan pentingnya peran TP PKK Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan dan Desa se-Rohul dalam menggerakkan keluarga menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), meningkatkan cakupan imunisasi, memperbaiki gizi keluarga, memberantas sarang nyamuk, menjaga kesehatan lingkungan, serta mendorong deteksi dini penyakit tidak menular melalui Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM).
Selain itu harapnya, para Camat se-Rohul mampu mengintegrasikan program kesehatan dengan pembangunan di tingkat kecamatan sekaligus menggerakkan seluruh potensi masyarakat. Perangkat daerah juga diminta memberikan kontribusi sesuai tugas dan fungsinya karena pembangunan kesehatan merupakan tanggung jawab bersama.
Kepada seluruh kepala puskesmas se-Rohul, Bambang meminta agar terus memperkuat pelayanan promotif dan preventif, meningkatkan kualitas surveilans epidemiologi, memperkuat investigasi kasus, mempercepat respons terhadap potensi KLB, meningkatkan pelayanan imunisasi, pengendalian penyakit menular maupun penyakit tidak menular, serta mengoptimalkan implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP), khususnya pada Klaster 2 dan Klaster 4.
Baca Juga: BPBD Kampar Imbau Warga Tetap Waspada Potensi Cuaca Ekstrem
Melalui rakor tersebut, tegas Bambang, Dinas Kesehatan Rohul menargetkan terbangunnya kesamaan persepsi mengenai arah kebijakan pencegahan dan pengendalian penyakit Tahun 2026.
Selain itu, forum tersebut menjadi wadah untuk mengevaluasi capaian program, mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan, menyusun langkah strategis yang terintegrasi, serta memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kewaspadaan dini dan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. "Mari kita perkuat koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi. Hilangkan ego sektoral, saling mendukung, berbagi informasi dan bekerja secara terpadu demi tercapainya tujuan pembangunan kesehatan di Kabupaten Rohul," tegasnya.
Ia berharap melalui kerja sama yang solid antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, TP PKK, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat, angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular maupun penyakit tidak menular dapat terus ditekan, sehingga terwujud Kabupaten Rohul yang semakin sehat, tangguh dan masyarakat sejahtera.
Editor : Rinaldi