PASIRPENGARAIAN (RIAUPOS.CO) - Setelah tiga hari diselimuti kabut asap yang semakin pekat, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) mulai bernapas lega. Hujan yang mengguyur sejumlah kecamatan pada Selasa (25/8/2026) malam hingga Rabu (26/8/2026) membuat kabut asap semakin berkurang.
Itu terlihat, cuaca di sejumlah wilayah Rohul tampak lebih cerah dan jarak pandang mulai membaik di Kota Pasirpengaraian, Kecamatan Rambah dan sekitarnya, Kamis (27/8/2026) sejak pagi hingga petang.
Pantauan Riaupos.co di lapangan, kabut asap yang mulai menyelimuti Rohul sejak Senin (24/8/2026) dan semakin pekat pada Selasa hingga Rabu, terlihat berkurang pada Kamis.
Baca Juga: Dari Roadshow Bupati Inhu ke Kementerian, 22 KK Warga Talang Mamak Terima Bantuan Penerangan
Kondisi ini terlihat di sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman, khususnya di Pasirpengaraian, Kecamatan Rambah. Jika sebelumnya kabut asap cukup tebal, Kamis kondisi udara tampak lebih bersih meski aroma kabut asap masih tercium.
Hujan dengan intensitas cukup lebat yang mengguyur sejumlah kecamatan pada Selasa malam dan kembali turun pada Rabu turut membantu mengurangi kabut asap di Kabupaten Rohul
Cuaca yang terlihat cerah, membuat aktivitas masyarakat di luar ruangan mulai kembali normal. Namun, sebagian warga yang beraktivitas maupun berkendara di jalan raya tidak menggunakan masker, meski kondisi udara belum sepenuhnya bebas dari paparan asap yang masih terlihat di kaki bukit barisan yang da di Kecamatan Rambah.
Baca Juga: Bakar Ranting Pakai Mancis, Warga Tambang Jadi Tersangka Karhutla 15 Hektare
Sementara itu, dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat hingga Kamis (27/8/2026), berdasarkan data Dinas Kesehatan Rohul tercatat 133 warga Rohul dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Sebagai langkah antisipasi dampak penyakit saluran pernapasan itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohul sebelumnya menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa jenjang TK, SD hingga SMP negeri dan swasta se-Rohul mulai Rabu (26/8/2026) hingga Jumat (28/8/2026).
Meski belajar dari rumah, proses pembelajaran tetap berjalan secara daring. Kebijakan tersebut diambil untuk mengurangi aktivitas anak-anak di luar ruangan selama kondisi udara terdampak kabut asap.
Baca Juga: Kolaborasi Hadapi Karhutla, Personel dan Peralatan di Riau Dimaksimalkan
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Rohul H Zulhendri SSos MIP mengatakan, kabut asap di Kabupaten Rohul mulai berkurang sejak Rabu dan semakin menipis pada Kamis setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah kecamatan dua hari terakhir.
“Pantauan hotspot dari data yang dirilis BMKG maupun dari Sipongi Lancang Kuning dan BRIN untuk Kabupaten Rohul pada Kamis petang tidak ada hotspot atau nihil,” ujar H Zulhendri menjawab Riaupos.co, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, nihilnya hotspot menjadi perkembangan positif dalam pemantauan karhutla. Selain tidak ditemukan titik panas, kondisi cuaca yang lebih bersahabat turut membantu mengurangi kabut asap yang sebelumnya menyelimuti sejumlah wilayah Rohul.
Baca Juga: Unri dan Ruijie Dorong Transformasi Digital Menuju Ekosistem Smart Campus
Meski hotspot nihil, lanjutnya, BPBD bersama instansi terkait tetap melakukan pemantauan. Zulhendri menegaskan pemerintah tidak ingin lengah karena kondisi cuaca dan hotspot dapat berubah sewaktu-waktu.
Terkait status penanganan karhutla, Zulhendri mengatakan Pemkab Rohul hingga Kamis (27/8/2026) belum menetapkan status tanggap darurat karhutla. Keputusan tersebut mempertimbangkan perkembangan hotspot yang menurun hingga nihil serta kondisi cuaca dan kualitas udara yang mulai membaik.
“Untuk sementara Rohul belum menetapkan status tanggap darurat karhutla, karena hotspot berkurang dan hingga Kamis (27/8) petang nihil serta kondisi cuaca dan udara mulai normal,” kata mantan Kadiskop UKM Transnaker Rohul itu.
Baca Juga: Job Fair PCR Selama Dua Hari Diikuti 31 Perusahaan
Meski kabut asap mulai menipis, Zulhendri meminta masyarakat tetap waspada. Warga yang beraktivitas di luar ruangan diimbau menggunakan masker, terutama anak-anak, lansia dan masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
Zulhendri menambahkan, BPBD Rohul terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan hotspot dan kondisi udara. Jika kembali ditemukan titik api atau kualitas udara memburuk, langkah penanganan akan segera dilakukan. (epp)
Editor : M. Erizal