SIAK (RIAUPOS.CO) - Jarak Ahmad Zulfikar atau Fikar (24) dengan harimau yang hendak menerkamnya sekitar 4 meter. Hanya terpisahkan parit dengan lebar 2 meter. Keduanya saling pandang. Hitungan detik, Fikar memacu motornya di jalan kebun kelapa sawit yang berbatu dan berlubang.
Fikar memang hobi betul memancing. Fikar tinggal bersama orangtuanya di Dusun IV, Kampung Teluk Masjid, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak.
Ketika temannya Imus (38) dan Rafi (32), berpapasan dengannya hendak memancing pada Kamis (8/1) sekitar pukul 06.00 WIB, Fikar yang diajak, langsung setuju dan begitu bersemangat.
“Dululah, aku cari cacing dulu, sekalian pamit sama orang tua,” kata Fikar kepada Imus dan Rafi.
Bersama keduanya ada juga ada Raihan (11), anaknya Imus. Fikar bergegas. Usai mencari cacing, dia mandi, lalu pamit pada ayahnya Ade Hidayat Nasution. Tapi ayah Fikar melarang.
Dikatakan ayah Fikar, tak usah pergi lagi, bahaya sekarang ini. Namun, Fikar tetap pergi.
Kebun koperasi, bersebelahan dengan kebun warga dan perkampungan. Fikar janji ketemuan di pondok kebun Imus. Memasuki perkebunan koperasi, sekitar 1 kilometer perjalanan, Fikar yang memakai senter di kepala dari kejauhan di sisi kanannya, melihat ada mata berwarna merah.
“Saya kira itu mata sapi,” kata Fikar.
Saat dia terus menjalankan motornya sekitar 30 meter dari lokasi dia melihat mata berwarna merah itu, ternyata itu adalah harimau. Posisi badan si Datuk Belang seperti kucing hendak menerkam mangsa.
“Kami saling pandang, dan dalam hitungan detik, saya merasa ngeri, menggigil, lemas, dan langsung memacu motor tanpa menoleh ke belakang,” ucap Fikar.
Jantung benar-benar serasa mau copot. Motor diarahkan Fikar ke komplek pekerja kebun koperasi. Setelah menggebuk pintu, kemudian dibukakan.
“Saya menghubungi Imus, mengatakan ada harimau, jangan keluar pondok,” sebutnya.
Lalu Fikar menghubungi ayahnya, mengatakan dia ketemu harimau. Bersama warga dua dusun, ayah Fikar datang menjemput Fikar, sekaligus menjemput Rafi, Imus dan anaknya.
Disebutkan ayah Fikar, Ade Hidayat Nasution yang akrab disapa Dayat, saat Fikar pamit, dia sempat melarang, namun saat dilihat lagi, Fikar ternyata tetap pergi memancing.
“Saya melarang Fikar, karena saya tahu di kebun itu memang ada harimaunya. Saya beberapa kali melihatnya,” sebutnya.
Dikatakan Dayat, harimau itu bersama anaknya. Selain itu ada harimau dewasa, jadi jumlahnya banyak, bukan hanya dua atau tiga. Dayat yang sehari hari memasang belat di kanal, sudah terbiasa melihat hewan buas itu, terutama jejak kakinya. Namun, dia tidak pernah diganggu.
“Saya berharap ada solusi atas situasi ini, jangan sampai ada korban dulu, atau masuk kampung dulu, baru ada tindakan,” katanya.
Sejatinya, ini sudah berada di sekitar kampung, makanya setiap keluarga diharapkan dapat terus waspada.
“Siapapun yang beraktivitas di kebun, pukul 17.00 WIB, wajib pulang, sebab magrib sampai malam saatnya harimau berkeliaran,” ucapnya.
Dayat sudah mengingatkan putranya Fikar agar tak lagi memancing senja atau malam hari di kawasan kebun koperasi.(mng)
Editor : Edwar Yaman