Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Guru dan Siswa Terkena Gas Air Mata di Rempang Sudah Dipulangkan dari RSUD

Administrator • Sabtu, 9 September 2023 | 10:10 WIB
Tangkapan layar video masyarakat tentang seorang siswa yang pingsan dan dibawa usai terkena dampak gas air mata dalam kericuhan di Jembatan 4, Rempang, Batam, Kepri, Kamis (7/8/2023).
Tangkapan layar video masyarakat tentang seorang siswa yang pingsan dan dibawa usai terkena dampak gas air mata dalam kericuhan di Jembatan 4, Rempang, Batam, Kepri, Kamis (7/8/2023).

BATAM (RIAUPOS.CO) - Melda, guru SMPN 23 Galang yang sempat kritis terkena tembakan gas air mata, saat kerusuhan terjadi antara aparat kepolisian dan masyarakat Galang yang melakukan pemblokiran jalan terkait konflik lahan pengembangan kawasan ekonomi baru di Rempang Cate dan Sembulang, Kamis (8/9) sudah kembali pulih.

Dia dan sepuluh siswanya hanya mendapat perawatan medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Embung Fatimah karena kondisi mereka semua kembali pulih setelah mendapat pemenangan medis.

“Tidak ada yang diinapkan. Ibu guru (Melda) juga sudah langsung pulang semalam (Jumat malam). Memang agak lemas tapi sudah membaik, ” ujar Humas RSUD Embung Fatimah Elin Sumarni, Jumat (8/9/2023).

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Batam, Rudi Panjaitan  sebelumnya menuturkan penanganan korban kerusuhan di Galang tidak dipungut biaya. Pemerintahan bertanggungjawab atas kejadian tersebut dan tidak ada korban yang mengalami luka ataupun penanganan medis yang serius.

“Hanya rawat jalan saja mereka, ” kata Rudi.

Sementara informasi yang berkembang di lapangan, paska kerusuhan tersebut, masyarakat di pulau Galang dan sekitarnya masih bersiaga satu di berbagai titik kampung tua. Mereka tetap menolak pengukuran lahan perkampungan mereka untuk rencana pengembangan kawasan ekonomi baru di pulau Galang.

“Masih jaga, tetap kami pantau. Kami tetap tak mau ada aktifitas apapun sebelum ada kepastian terkait nasib kampung kami. Pengukuran juga tak boleh, ” ujar Iwan, seorang warga.

Sementara itu, di sisi lain, masyarakat kampung tua di kelurahan Sembulang dan Rempang Cate tetap bersikeras agar kampung mereka tidak digusur untuk kepentingan pengembangan kawasan ekonomi baru yang dicanangkan pemerintah. Ada banyak alasan yang disampaikan. Selain soal tanah atau kampung yang sudah mereka tempati secara turun temurun, masyarakat di sana juga kuatir wilayah laut yang selama ini mereka mengais rejeki tak bisa digunakan lagi jika sudah dikembangkan oleh investor.

“Itu ibarat ladang kami. Kami ini nelayan. Nanti kalau sudah masuk investor kami dilarang masuk lagi ke lokasi yang sudah biasa kami cari ikan dengan berbagai alasan nantinya. Ini juga yang harus dipikirkan," ujar Ummar, warga Sembulang.

Alasan-alasan inilah yang menjadi dasar masyarakat di sana menolak relokasi serta rancangan dan fasilitas yang ditawarkan pemerintah tadi. Mereka bersisi kukuh agar pengembangan kawasan ekonomi baru ini tidak menggeser kampung mereka dan biarkan mereka berdampingan dengan kawasan yang dikembangkan tersebut.

Sumber: Batampos.jawapos.com

Editor: Eka G Putra

Editor : Administrator
#galang rempang batam #psn rempang #rempang #korban rempang #rusuh rempang