JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Banjir dan longsor menerjang Sumatera Utara (Sumut). Dilaporkan satu keluarga di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) meninggal dunia setelah tertimbun longsor di Dusun 1, Desa Mardame. Tim SAR menemukan korban dalam keadaan yang tak bernyawa, terdiri dari seorang ibu dan tiga anaknya.
Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, membenarkan kabar duka tersebut. Ia meminta agar kondisi di lapangan terus dimonitor secara ketat.
“Sudah dapat informasi dari Tapteng. Pak Bupati melapor ada korban jiwa, 4 orang. Saya minta agar kondisi di lapangan terus dimonitor,” ujar Bobby dalam keterangannya, dikutip dari Sumut Pos, Rabu (26/11/2025).
Baca Juga: Ranperda ABPD 2026 Inhil Diprediksi Terlambat
Empat korban itu adalah Dewi Hutabarat (33), bersama ketiga anaknya: Arta Rouli Lumbantobing (7), Vania Aurora Lumbantobing (4), dan Ilona Lumbantobing (3). Sementara sang suami, Poliman Lumbantobing, 37, diketahui sedang bekerja di luar kota sebagai sopir saat peristiwa terjadi.
Bobby menyampaikan belasungkawa dan meminta seluruh kepala daerah di Sumut yang tengah menghadapi bencana agar mengutamakan keselamatan warganya. Ia juga mengatakan akan turun langsung ke lokasi longsor tersebut.
Menurut Bobby, Pemprov Sumut dan BMKG telah melakukan rapat koordinasi soal potensi cuaca ekstrem beberapa bulan lalu. Peringatan intensitas hujan November–Desember sangat tinggi juga sudah disampaikan.
Baca Juga: DPRD Agam Kagum Program Pendidikan dan Keagamaan di Rohul
“Ini sudah kita sampaikan dari jauh hari. Yang menyampaikan bukan Gubernur, tapi BMKG. Karena itu saya ingatkan kepala daerah dan OPD agar mitigasi lebih serius dilakukan. Informasi potensi bencana harus disampaikan ke masyarakat,” tegasnya.
Bobby menekankan pentingnya kehadiran kepala daerah dalam koordinasi penanganan bencana. Dengan begitu, langkah pencegahan bisa cepat dan tepat sebelum ada korban jiwa.
Madina Terparah, Ribuan Rumah Terendam
Di Mandailing Natal, dampak banjir paling parah. Ribuan rumah di empat desa di Siulang Aling, Kecamatan Muara Batang Gadis, terendam air tinggi 1–2 meter. Sampai Selasa (25/11), air belum surut karena hujan deras tak berhenti.
“Rumah kami masih tergenang air. Saudara di Lubuk Kapundung I, II, dan Rantau Panjang mulai kembali untuk bersih-bersih. Tapi bantuan belum turun sama sekali. Kami sulit keluar karena satu-satunya jalur akses adalah transportasi udara,” ungkap Sadun Lubis, dikutip dari Sumut Pos (Jawa Pos Grup).
Baca Juga: Pastikan MBG dan TNTN Jadi Prioritas
Tapsel Lumpuh: Tiga Jalur Nasional Putus Total
Kerusakan parah terjadi di Tapanuli Selatan. Tiga jalan nasional—Lintas Barat, Lintas Tengah, dan Lintas Timur—putus total di lima titik sekaligus.
Lintas Barat Danau Siais–Pantai Barat Natal amblas di Kelurahan Rianiate, Kecamatan Angkola Sangkunur. Lintas Tengah tertutup longsor di Parsalakan, Tobotan, dan Aek Nabara. Di Aek Sijorni, Desa Silaiya, terendam banjir hingga 30 cm.
Lintas Timur terganggu karena longsor besar di Desa Pengkolan, Sipirok. Longsor menutupi hampir seluruh badan jalan di lokasi tersebut.
“Longsor di Tobotan dan Aek Nabara menyeret empat mobil ke jurang. Hingga kini belum bisa dievakuasi,” ujar Kabid Sarana dan Prasarana Dishub Tapsel, Mara Sutan Harahap.
Sibolga–Tapteng: Ribuan Warga Terdampak
Di Kota Sibolga, banjir melanda Kecamatan Sibolga Selatan. Di Tapanuli Tengah, sembilan kecamatan terendam dengan 1.092 keluarga terdampak.
Akses antarwilayah juga terputus akibat longsor di Jalan Nasional Tarutung–Sibolga. Longsor tepatnya di Parsikkaman, Kecamatan Sitahuis, membuat bantuan dan mobilitas warga tersendat.
Hingga laporan ini disusun, penanganan darurat masih berjalan. Cuaca ekstrem diperkirakan terus berlanjut dan berpotensi memperburuk situasi lapangan. Pemerintah daerah kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan warga terisolasi dan memulihkan akses vital di Pantai Barat Sumatera Utara.***
Editor : Edwar Yaman