Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Korban Meninggal Capai 303 Jiwa Banjir Surut, Jalur Transportasi Lumpuh

Redaksi • Minggu, 30 November 2025 | 13:17 WIB
Petugas gabungan melakukan pencarian korban galodo di Jembatan Kembar Silaing Bawah, Padang Panjang, Sumatera Barat, Sabtu (29/11/2025).
Petugas gabungan melakukan pencarian korban galodo di Jembatan Kembar Silaing Bawah, Padang Panjang, Sumatera Barat, Sabtu (29/11/2025).

SUMATERA (RIAUPOS.CO) - Banjir bandang dan longsor akibat hujan ekstrem telah melumpuhkan sebagian besar wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total korban meninggal dunia imbas banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 303 orang sampai Sabtu (29/11) sore. Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, korban meninggal paling banyak berasal dari Sumatra Utara (Sumut) dengan 166 korban jiwa, disusul Sumbar 90 jiwa dan Aceh 47 jiwa.

“Saya akan uraikan dari Sumut, korban jiwa yang kemarin 116 korban jiwa, sekarang menjadi 166 jiwa meninggal dunia. Kemudian 143 jiwa yang masih hilang,” ucap Suharyanto.

Suharyanto kemudian mengungkap jumlah korban meninggal bencana di wilayah Aceh, yang mencapai 47 korban jiwa. Disebutkannya, Aceh kondisinya ada penambahan korban. Untuk pertama korban jiwa ada 47 jiwa, 51 masih hilang, dan delapan luka-luka. Data ini masih akan berkembang terus, karena ada beberapa pencarian pertolongan dari satgas gabungan ini menemukan korban.

Dia menyebutkan, korban meninggal dunia Sumbar meningkat setelah ada tambahan korban dari Kabupaten Agam yang mencapai 74 orang meninggal dunia. “Untuk jumlah korban, untuk Padang (Sumbar) ini meningkat. Jadi sekarang nomor dua setelah Sumut, ini korban jiwa ada 90 yang meninggal dunia, 85 hilang, 10 luka-luka,” kata Suharyanto.

Dengan demikian, total korban jiwa bencana Sumatra hingga Sabtu sore ini adalah 303 korban jiwa dengan rincian: 166 di Sumut, 90 di Sumbar, dan 47 di Aceh. Banjir bandang merendam puluhan kabupaten dan kota di tiga provinsi di Pulau Sumatra, yakni Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir.

Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan keprihatinan atas musibah bencana alam tersebut. Ia mendoakan agar para korban terdampak banjir diringankan duka dan penderitaannya.

“Pada saat sekarang kita merasakan bahwa ada saudara-saudara kita yang mengalami duka, musibah, akibat bencana alam yang terjadi di beberapa tempat di Nusantara kita ini, yang terakhir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tentunya kita berdoa agar mereka senantiasa dilindungi oleh Yang Maha Kuasa, diringankan duka dan penderitaan mereka,” kata Prabowo dalam pidatonya di Hari Guru Nasional, Jakarta, Jumat (28/11).

Prabowo menegaskan pemerintah tak tinggal diam dan bergerak cepat sejak hari pertama kejadian. Ia mengatakan pemerintah menyalurkan bantuan lewat jalur darat maupun udara. Ia mengatakan hal itu guna memastikan bantuan segera sampai ke warga terdampak bencana.

“Tetapi memang kondisinya sangat berat. Banyak yang terputus, cuaca juga masih tidak memungkinkan. Kadang-kadang helikopter dan pesawat kita sulit untuk mendarat,” ucap dia.

Prabowo menyebut sejauh ini pemerintah telah mengirimkan bantuan melalui tiga pesawat Hercules C-130 dan satu pesawat A-400. Ia memastikan pengiriman bantuan akan dilakukan secara terus-menerus dengan menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

90 Korban Jiwa di Sumbar

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD kembali merilis pembaruan data korban bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah sejak 21 November 2025. Hingga Sabtu (29/11) pukul 14.00 WIB, tercatat 90 orang meninggal dunia dan 86 orang masih dinyatakan hilang.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, menyebut data tersebut dihimpun berdasarkan laporan resmi dari kabupaten dan kota terdampak. Penambahan jumlah korban kali ini dilaporkan oleh BPBD Kabupaten Tanah Datar. “Sebelumnya, laporan korban jiwa dan orang hilang dari Tanah Datar nihil. Berdasarkan laporan terbaru, sekarang ada dua orang meninggal dunia dan satu orang hilang,” ungkap Sekda Arry Yuswandi di Padang.

Arry menegaskan bahwa data ini bersifat dinamis dan akan terus diperbarui sesuai perkembangan di lapangan. “Kami terus berkoordinasi dengan seluruh BPBD kabupaten/kota untuk memastikan data korban, kerusakan, dan kebutuhan darurat tercatat secara akurat,” ujarnya.

Berdasarkan laporan terkini, dari 16 kabupaten dan kota terdampak, sembilan daerah tidak melaporkan adanya korban jiwa maupun orang hilang. Sementara tujuh daerah lainnya mengalami korban dengan jumlah bervariasi. Jumlah korban terbanyak tercatat di Kabupaten Agam, yang mengalami 74 orang meninggal dunia dan 78 orang masih hilang. Kota Padang Panjang melaporkan tujuh orang meninggal, Kota Padang lima orang meninggal, Kabupaten Tanah Datar dua orang meninggal dan satu hilang, Kabupaten Pasaman Barat satu meninggal dan enam hilang, Kota Solok satu meninggal, dan Kabupaten Padang Pariaman satu orang hilang.

Sembilan daerah lainnya, termasuk Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kabupaten Pasaman, Kota Payakumbuh, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Pesisir Selatan, dilaporkan nihil korban.

Arry menjelaskan, sebagian besar korban meninggal dunia disebabkan oleh banjir bandang, longsor, dan pohon tumbang akibat curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Infrastruktur dan rumah warga di beberapa wilayah juga mengalami kerusakan parah, terutama di kawasan perbukitan dan pinggiran sungai yang rawan banjir.

Selain korban jiwa, jumlah pengungsi juga terus bertambah. Beberapa lokasi pengungsian darurat dibuka di Kabupaten Agam, Padang Panjang, dan Padang, menampung ratusan warga yang kehilangan tempat tinggal atau rumahnya terendam banjir. Pemerintah daerah bersama aparat TNI-Polri dan relawan terus melakukan evakuasi, distribusi bantuan logistik, serta pelayanan kesehatan bagi korban terdampak.

Sekda Sumbar menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat, terutama di daerah rawan longsor dan banjir. “Kami mengimbau warga untuk selalu mengikuti informasi dari pemerintah dan BPBD, serta segera mengungsi jika terdapat peringatan dini bencana,” katanya.

Perkembangan data korban, kerusakan, dan kebutuhan penanganan darurat akan terus diperbarui secara berkala melalui Posko Terpadu Penanganan Bencana Provinsi Sumbar. Pemprov Sumbar juga memastikan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan bencana serta pemulihan pascabencana.

Galodo dan Longsor di Jembatan Kembar Padangpanjang, 16 Jenazah Teridentifikasi

Bencana banjir bandang atau yang dikenal sebagai galodo dan longsor yang melanda kawasan Jembatan Kembar Padangpanjang di jalur utama Jalan Raya Padang-Bukittinggi pada Kamis (27/11) telah memasuki hari kedua masa tanggap darurat pada Sabtu (29/11).

Data terkini menunjukkan, sebanyak 16 jenazah korban jiwa telah berhasil diidentifikasi. Kapolres Padangpanjang, AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro, menyampaikan perkembangan data tersebut saat meninjau langsung Posko Disaster Victim Identification (DVI) Penanganan Bencana Banjir Bandang Kota Padangpanjang. Bencana pada Kamis lalu itu diketahui menimpa para pelintas dan warga sekitar yang berada di Jembatan Kembar Padangpanjang.

“Hari ini, Sabtu (29/11), adalah hari kedua penetapan masa tanggap darurat di wilayah Kota Padangpanjang pasca-terjadinya galodo dan longsor yang memakan korban jiwa,” ujar AKBP Kartyana di lokasi Posko DVI.

Berdasarkan pemutakhiran data jenazah korban bencana banjir dan longsor di Jembatan Kembar Padangpanjang yang teridentifikasi per Sabtu (29/11) pukul 12.00 WIB, total 16 korban telah berhasil dicocokkan identitasnya. Sebanyak 13 jenazah di antaranya berada di Rumah Sakit Bhayangkara Padang, dan tiga jenazah lainnya berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padangpanjang.

Pencarian Berlanjut dan Imbauan untuk Masyarakat

Saat ini, Tim SAR Gabungan terus melanjutkan upaya pencarian terhadap korban-korban yang diduga masih tertimbun material longsoran ataupun terseret arus di sepanjang sungai yang berada di kawasan Lembah Anai. Kapolres Padangpanjang mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga yang kemungkinan besar terdampak bencana galodo dan longsor di area Jembatan Kembar, namun hingga kini belum ditemukan, untuk segera mencari informasi lebih lanjut.

“Masyarakat diimbau untuk mendatangi ruang jenazah RSUD Padangpanjang guna mendapatkan keterangan dan memastikan status anggota keluarganya,” tutup AKBP Kartyana.

19 Kecamatan di Medan Masih Terendam

Banjir besar yang melanda Kota Medan Kamis (27/11) lalu mulai surut di sebagian besar wilayah. Sebanyak 19 kecamatan di antara 21 kecamatan terendam. Hanya Kecamatan Medan Perjuangan dan Medan Area yang aman dari banjir.

’’Tetapi, alhamdulillah, saat ini banjir tersisa di wilayah Medan Utara saja,’’ kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan Yunita Sari kepada JPG, Sabtu (29/11).

Wilayah di Medan Utara yang masih terendam itu meliputi Medan Marelan, Medan Labuhan, Medan Belawan, dan Medan Deli. Yunita menyampaikan, pihaknya baru saja selesai memutakhirkan data dampak banjir karena tim BPBD sebelumnya memprioritaskan evakuasi atau pertolongan kepada warga.

’’Di 19 kecamatan itu, total 7.402 rumah rusak dan 29.364 jiwa atau 9.225 kepala keluarga (KK) terdampak. Data tersebut baru bisa kami update kemarin (Jumat, 28/11) petang. Sebab, seluruh petugas kami berjibaku di lapangan untuk evakuasi,’’ ujarnya.

Dia melanjutkan, total 645 warga telah dievakuasi dari rumah mereka yang terendam cukup dalam. Evakuasi berlangsung terus-menerus sejak Kamis (27/11) hingga Jumat (28/11) malam. ’’Data itu akan terus kami update sampai banjir benar-benar selesai,’’ tegasnya.

Yunita menjelaskan, tidak semua warga yang terjebak banjir bisa segera dievakuasi. Pasalnya, permintaan evakuasi terbilang sangat tinggi. Sementara jumlah anggota tim dan peralatan cukup terbatas.

’’Medannya juga tidak semua bisa dijangkau dengan cepat. Kami bersama Basarnas, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta rekan-rekan TNI-Polri terus melakukan evakuasi 24 jam sehari. Tidak berhenti. Banyak personel yang kelelahan. Tetapi, mereka terus bekerja,’’ ungkapnya.

Dia mengungkapkan, total ada 1.839 jiwa yang mengungsi saat banjir. Namun, saat ini sebagian besar di antara mereka sudah kembali ke rumah masing-masing. (map/cc1/arm/ra/rif/dri/jpg/rpg/muh)

Editor : Bayu Saputra
#bencana alam #bmkg #sumut #banjir sumut #banjir sumatera #sumbar #banjir aceh #bencana Sumatera #Hidrometeorologi #banjir sumbar #Longsor Sumatera Barat #aceh #bpbd