Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Cerita Warga saat Banjir Bandang Palembayan, Tinggi Air di Atas Pohon Kelapa, Hantam Permukiman Warga Hingga Rata

Afiat Ananda • Selasa, 2 Desember 2025 | 14:47 WIB
Warga Desa Selaras Air Kecamatan Palembayan Ilham menunjukan lokasi pemukiman yang sudah rata dengan tanah, Selasa (2/12/2025).
Warga Desa Selaras Air Kecamatan Palembayan Ilham menunjukan lokasi pemukiman yang sudah rata dengan tanah, Selasa (2/12/2025).

AGAM (RIAUPOS.CO) - Alat berat milik sejumlah instansi, hilir mudik di Desa, Selaras Air, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Selasa (2/12/2025). Sirene ambulans meraung-raung, membawa jenazah yang berhasil dievakuasi ke RSUD Lubuk Basung.

Jalanan berlumpur. Beberapa permukiman warga sudah rata dengan tanah kuning. Empat hari pascamusibah, sudah hingga saat ini 102 jenazah korban yang berhasil dievakuasi.

Jumlah ini merupakan warga di tiga desa di Kecamatan Palembayan. Yakni Desa Kampung Pilih, Kampung Jambak dan Sawah Laweh.

"Dari 102 jenazah yang di evakuasi, sebanyak 97 jenazah berhasil diidentifikasi. Sedangkan 5 jenazah lainnya, masih belum teridentifikasi," ungkap Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Anom Karibianto yang berada di lokasi untuk melaksanakan tugas Bawah Kendali Operasi (BKO).

Warga Desa Selaras bernama Izul menceritakan, peristiwa mencekam ini terjadi pada Kamis (27/11/2025) petang sekitar pukul 17.30 WIB. Saat itu hunan deras tidak berhenti sejak hampir dua pekan lamanya.

"Yang terlama itu dua hari terakhir sebelum banjir. Itu cuman reda beberapa menit, lalu kembali deras," sebut Izul.

Petang itu, lanjut dia bercerita, warga meneriakkan bahwa ada air bah dari hulu dekat Koto Alam. Namun sejumlah warga banyak yang tidak percaya. Namun beberapa menit kemudian, suara gemuruh menyerupai helikopter terdengar dari arah sungai.

"Suaranya seperti helikopter. Kemudian air bah menghempas permukiman. Bunyinya seperti bom meledak," ungkap Izul.

Sontak suasana langsung berubah mencekam. Ia berupaya menyelematkan beberapa keluarganya. Seperti istri, mertua, dan beberapa saudara iparnya. Sedangkan bibi dari keluarga istrinya, tidak berhasil selamat.

"Banyak warga yang terjepit dalam rumah yang roboh. Makanya tidak bisa keluar. Kondisinya saat itu kami hanya bisa menyelamatkan diri masing-masing dan orang-orang terdekat," sambungnya.

Dari yang ia lihat, air bah menghempas rumah warga dan melambung melebihi tinggi pohon kelapa. Banyak permukiman yang rata dan terseret arus air bah. Bahkan hingga kini, masih banyak kampung-kampung yang terkubur.

"Masih banyak yang belum ditemukan. Saudara dari istri saya saja ada yang punah saru keturunan. Sangat berat memang," tuturnya.

Hingga berita ini dimuat, BNPB Provinsi Sumatera Barat bersama TNI-Polri, hingga Polda Riau, masih berjibaku di lokasi 3 desa untuk melakukan evakuasi terhadap rumah dan korban jiwa.(end)

 

Editor : Edwar Yaman
#banjir bandang Palembayan #Desa terkubur banjir longsor sumbar #Desa tertimbun galodo sumbar #permukiman warga #bencana Sumatera #Kombes Pol Anom Karibianto #Banjir bandang longsor sumbar #polda riau