PADANG (RIAUPOS.CO) – Viral di media sosial. Sungai Ombilin di Kota Sawahlunto menjadi perhatian publik. Pasalnya ada perubahan drastis pada air sungai yang sontak dibandingkan dengan keindahan ikonik Sungai Aare atau Aar di Swiss, memicu decak kagum netizen atau warganet.
Fenomena tak biasa ini terjadi setelah aliran air dari Danau Singkarak, Sumatera Barat, tampak berubah menjadi sangat jernih dengan nuansa biru kehijauan.
Sungai Ombilin, yang berfungsi sebagai saluran pelepasan air dari Danau Singkarak, dikenal memiliki warna keruh. Namun, warga di sekitar aliran sungai dibuat terheran-heran ketika air mendadak menampilkan kejernihan memukau layaknya destinasi wisata luar negeri.
Baca Juga: 60 Pasutri Ikuti Sidang Isbat Nikah Terpadu, Begini Kata Wako Agung Nugroho
Rekaman video yang memperlihatkan kejernihan Batang Ombilin ini menyebar luas di berbagai platform, termasuk Instagram dan TikTok. Salah satu akun Tiktok, @Yancesco, turut mengunggah fenomena tersebut dengan narasi, "Sungai Ombilin yang merupakan air pelepasan dari Danau Singkarak sekarang seperti sungai Aare di Swiss yang biru air nya," sebagaimana dikutip, Jumat (5/12/2025).
Warganet lain menanggapi dengan pandangan filosofis, "Di balik musibah pasti ada hikmahnya kalau kita sabar ikhlas menerima ketetapan yang dari Allah."
Kejadian langka ini ternyata merupakan dampak langsung dari upaya mitigasi bencana yang dilakukan oleh otoritas terkait.
Peningkatan debit air Danau Singkarak akibat cuaca ekstrem belakangan ini telah memaksa dilakukannya pelepasan air.
Wali Nagari Batu Taba, Kecamatan Batipuh Selatan, Tanahdatar, Destriyanto, membenarkan bahwa pelepasan air ini dilakukan karena volume air Danau Singkarak telah melebihi debit normal.
"Pintu air di Sungai Ombilin harus dibuka lantaran debit air yang tinggi di Danau Singkarak. Banjir telah membuat daerah sekitar sungai Ombilin dan Salingka Danau Singkarak terdampak," jelas Destriyanto, Rabu sore.
Ia menambahkan, pembukaan pintu air tersebut telah dilakukan sejak tiga hari lalu untuk mencegah naiknya air ke rumah-rumah penduduk.
Mengenai perubahan warna, Destriyanto memberikan pandangan ilmiah dan teknis. Menurutnya, air yang dilepaskan ke Batang Ombilin adalah lapisan air bagian atas yang cenderung lebih jernih.
"Air yang keluar itu air yang jernihnya, yang tidak jernih tinggal di dalam," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa mekanisme pelepasan air diatur sedemikian rupa. Pintu air yang dibuka hanya bagian atas, dan di depannya terdapat tembok beton sebelum air dilepaskan ke Batang Ombilin.
Ia juga mengakui bahwa hingga saat ini, di wilayahnya, air Sungai Ombilin yang keluar masih didominasi warna kehijauan, namun ia sendiri tidak dapat memastikan unsur apa yang menyebabkan air tersebut berwarna demikian.
Menanggapi kehebohan warganet atas fenomena alam tersebut, Ahli Geologi dan Vulkanologi dari Sumatera Barat, Ade Edward, memberikan penjelasan ilmiah terkait penyebab perubahan warna air tersebut.
Ia menegaskan bahwa kejernihan dan warna biru kehijauan itu berkaitan erat dengan karakteristik geologi batuan di sekitar Danau Singkarak.
Ade Edward menjelaskan bahwa perubahan warna air ini dipicu oleh keberadaan batu gamping atau batu kapur di kawasan tersebut. Batu gamping ini umum ditemukan di sekitar Danau Singkarak dan merupakan bagian dari Formasi Silungkang dan Formasi Kuantan.
"Batuan ini sebagian besar terbentuk dari proses pengendapan sisa-sisa organisme laut di lingkungan laut purba," ujar Ade Edward, Jumat malam.
Baca Juga: Unri Siapkan Tim Bantuan Bencana untuk Sumatera Barat
Kawasan perbukitan kapur atau gamping yang terkenal di sisi barat daya danau adalah Karst Junjung Sirih. Area ini diketahui sebagai anggota dari Batu Gamping Formasi Kuantan dan Formasi Silungkang. Kedua formasi tersebut menjadi batuan tertua di terrane Sumatera Barat.
Menurut Ade Edward, kunci dari fenomena penjernihan air ini terletak pada sifat kimia dari batu kapur. Kapur, yang secara kimiawi adalah kalsium hidroksida (Ca(OH)2), memiliki sifat sebagai koagulan.
"Koagulan adalah zat yang berfungsi untuk menghilangkan partikel-partikel yang tersuspensi dalam air. Ini dilakukan dengan cara menggumpalkan partikel-partikel kecil menjadi flok-flok yang lebih besar dan lebih berat," jelasnya.
Dalam konteks Sungai Ombilin, kapur bereaksi dengan partikel-partikel yang terkandung dalam air, seperti lumpur, tanah, dan mineral lain.
Reaksi ini kemudian membentuk flok-flok besar yang lebih mudah mengendap dan tersaring, sehingga menghasilkan air yang tampak sangat jernih dan menampilkan warna biru kehijauan yang memukau.
Pembentukan batu gamping di wilayah ini terjadi di lingkungan laut dangkal yang jernih, kondisi ideal bagi organisme pembentuk cangkang kalsium karbonat seperti koral, kerang, dan foraminifera yang fosilnya sering ditemukan dalam batuan tersebut.
Daerah Danau Singkarak sendiri terletak dalam Median Graben (celah turun) di lajur Sesar Besar Sumatera yang masih aktif. Struktur geologi yang mengontrol kawasan, termasuk Sesar Muara Pingai dan Sesar Paninggahan, turut memengaruhi posisi singkapan batuan gamping ini di permukaan.
Ade Edward menambahkan, batu gamping di wilayah Solok dan sekitar Danau Singkarak memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri, seperti bahan baku semen, karena ketersediaannya yang melimpah.
Dengan demikian, fenomena viral air Sungai Ombilin yang biru kehijauan bukanlah kebetulan biasa, melainkan manifestasi alami dari interaksi air dengan komposisi geologi purba di sekitar Danau Singkarak.***
Editor : Edwar Yaman