PIDIE JAYA (RIAUPOS.CO) - Kayu-kayu besar yang dibawa air bah paska bencana banjir bandang sumatera, menjadi trauma mendalam bagi warga, khususnya di wilayah Aceh, Sumut dan Sumbar. Bahkan, di wilayah Aceh, tepatnya di Pidie Jaya, kayu besar masih menutup daerah aliran sungai (DAS) Krueng Meureudu.
Kondisi DAS Krueng Meureudu, paska bencana banjir bandang yang menghantam Pidie Jaya 26 November 2025 lalu tertutup akibat dipenuhi tumpukan material kayu dan lumpur yang dibawa arus banjir dari hilir.
Tumpukan material kayu dan lumpur membuat air membuka aliran baru ke perkampungan warga.
Kondisi aliran DAS Krueng Meureudu yang membuka aliran baru ke perkampungam warga, membuat warga desa/gampong di sepanjang DAS tersebut, seperti Desa Dayah Husen, Dayah Kruet, Meunsah Blang, Panter Beuruene, Meunasah Lhok, Beurawang, Meunasah Mancang, Blang Cut, Meunsah Raya, Meunasah Bie, was-was dilanda banjir susulan.
Lebih memprihatinkan lagi, kondisi perkampungan warga sekitaran gampong Dayah Kruet, Dayah Husen, serta Meunasah Lhok. Pemukiman warga di gampong yang berbatasan langsung dengan DAS Krueng itu telah menjadi aliran sungai baru akibat DAS telah dipenuhi material kayu dan lumpur.
Masyarakat di sepanjang DAS Krueng Meureudu tersebut, terutama masyarakat yang pemukimannya telah menjadi aliran sungai Krueng Meureudu, meminta Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya untuk bertindak cepat membersihkan tumpukan kaya yang menumpuk tersebut.
Permintaan itu disampaikan karena, sedikit saja hujan mengguyur Pidie Jaya sepeti yang terjadi pada Rabu pekan lalu dan Sabtu (6/12) malam kemarin, gampong-gampong/ desa tersebut kembali dilanda banjir susulan dengan ketinggian air hingga satu meter.
"Yang perlu segera dilakukan pemerintah adalah mengankat tumpukan kayu di badan DAS Krueng Meureudu ini. Jika itu tidak segera dilakukan, maka setiap ada hujan sedikit, air selalu menggani perkampungan warga. Sehingga warga selalu was-was. Pemerintah jangan hanya jadi pengumpul bantuan, tapi harus ada kebijakan yang lebih kongkrit dalam menangani bencana ini," kata salah satu Warga Dayah Kruet, Taufik Hidayat kepada Rakyat Aceh (RPG), Ahad (7/12/2025).
Bukan hanya warga yang mendesak untuk segara membersihkan tumpukan material kayu dan lumpul di badan DAS Kreung Meureudu itu.
Ketua DPRK Pidie Jaya, A Kadir Jailani yang telah turun langsung melihat lansung kondisi perkampungan warga di sepenjang DAS dan perkampungan yang telah menjadi aliran sungai baru juga menyampaikan hal serupa.
Menurut A Kadir, Pemkab Pidie Jaya setelah 11 hari Pidie Jaya dihantam banjir bandang paling parah sepanjang sejarah Pidie Jaya belum bergerak sama sekali untuk membersihkan tumpukan kayu di badan DAS Krueng tersebut.
Akibatnya kata dia, harta benda dan rumah-rumah masyarakat tidak pernah aman dari ancaman air sungai yang kini sudah membelah perkampungan warga.
Bahkan sebut Pang Kade, begitu biasa dia disapa sudah menyampaikan dalam rapat Forkompimda beberapa waktu lalu untuk melakukan pembersihan tersebut.
"Tapi sampai saat ini belum ada gerak sama sekali untuk melakukan pembersihan itu," ungkapnya.
Tak dapat menunggu lebih lama lagi supaya tumpukan material kayu di badan DAS itu segera dibersihkan, Pang Kade, pada Ahad (7/12) kemudian berkoordinasi dengan Polres Pidie Jaya untuk penanganan tersebut.
Apalagi pada Sabtu malam kemarin, air kembali naik ke perkampungan warga karena hujan.
Menurutnya, dia sudah sering menyampaikan ke Pemkab dalam penanganan darurat ini, selain bantuan logistik, penanganan akses jalan dan pembersihan DAS yang tersebut tersebut adalah prioritas.
"Soal berapa meter jalan rusak, berapa hektar sawah tertimbun dan lain sebagainya bisa dilakukan setelah masyarakat merasa aman dan tidak trauma lagi," tegasnya.
Ditengah kondisi darurat saat ini, memberi rasa aman dan menghilangkan trauma masyarakat adalah salah satu hal terpenting untuk dilakukan disamping menjamin ketersedian logistik yang cukup bagi korban.
Pemkab Pidie Jaya diharapkan Ketua DPRK Pidie Jaya ini, jangan bertindak seperti relawan yang hanya mengumpulkan bantuan dari donatur kemudian mendistribusikan.
Tetapi tanggung jawab pemerintah dalam penanganan bencana lebih dari sekedar itu.(san/rpg)
Sumber: Harianrakyataceh.com
Editor : Eka G Putra