Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Menyaksikan Dampak Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Aceh , Kawasan Pertokoan Hancur, Bangkai Mobil Berserakan

Redaksi • Minggu, 21 Desember 2025 | 10:26 WIB

Mobil berserakan sisa bencana banjir bandang di Kota Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang hingga kini masih dapat terlihat dampak dahsyatnya efek banjir
Mobil berserakan sisa bencana banjir bandang di Kota Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang hingga kini masih dapat terlihat dampak dahsyatnya efek banjir

Banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November lalu menorehkan duka mendalam. Tiga pekan berlalu, Aceh dan dua daerah itu masih porak-poranda. Berikut adalah laporan wartawan JPG, Muhammad Azami Ramadhan, yang turun langsung ke lokasi bencana.


ACEH (RIAUPOS.CO) - SAYA tiba di Aceh Tamiang pada Minggu, 14 Desember. Perjalanan ini tak pernah terbayangkan akan seberat ini. Bukan karena jaraknya, melainkan karena pemandangan yang perlahan mengiris hati, terutama sejak memasuki perbatasan Aceh.

​Tiga pekan pascabencana, saya memasuki wilayah Aceh Tamiang. Jalanan menuju ke sana sangat padat dan macet. Bukan karena arus mudik atau libur panjang,

melainkan karena jalanan dipenuhi oleh “niat baik”. Warga, kerabat, hingga kolega, semuanya bergerak ke arah yang sama untuk membawa bantuan. Truk-truk logistik hilir mudik, disusul kendaraan relawan dan alat berat yang melaju lambat, seolah ikut merasakan beban duka yang dipikul daerah ini.

​Di antara iring-iringan itu, terdapat pemandangan yang akan terus menjadi pengingat banjir bandang di Aceh Tamiang: truk tangki yang saling bertindih. Titik tersebut menjadi salah satu pusat perhatian warga. Jika truk itu bisa bicara, ia tentu akan menceritakan betapa dahsyatnya terjangan air saat itu. Belakangan saya ketahui bahwa truk tangki tersebut baru berhasil dievakuasi pada 18 Desember. Saat saya melintas, truk-truk itu masih di sana, di tengah ketidakpastian penyaluran bantuan.

​Memasuki kawasan perbatasan Sumatra Utara dan Aceh, tepatnya di Kecamatan Kejuruan Muda, luka akibat bencana kian menganga. Anak-anak hingga lansia mendirikan tenda darurat ala kadarnya di tepi jalan. Tenda-tenda itu berdiri tepat di depan puing rumah mereka yang hancur, seolah mereka enggan pergi jauh dari kenangan yang ikut runtuh bersama dinding dan atap rumah.

​Ada pula posko dadakan yang dibuat dari spanduk bekas. Tulisan tangan seadanya berbunyi “Posko Bantuan” terpampang di halaman rumah yang telah disapu banjir. Mereka berdiri di tepi jalur nasional, berharap belas kasih dari pengendara yang melintas menuju Aceh Tamiang. Harapan itu tipis, namun nyata. Bekas longsor pun tampak jelas di beberapa titik; tanah merah yang terbuka lebar menyerupai luka yang belum sempat dijahit.

​Bagaimana dengan listrik? Ternyata belum sepenuhnya pulih. Di sepanjang Kejuruan Muda, lampu di beberapa titik mulai menyala, namun sebagian besar wilayah lainnya masih gelap. Gelap yang terasa bukan sekadar soal ketiadaan cahaya, melainkan juga hilangnya rasa aman.

​Suasana berubah drastis saat memasuki Kecamatan Kota Kualasimpang. Saya tiba di sana tepat saat waktu Magrib tiba. Padatnya arus bantuan membuat kendaraan tertahan cukup lama, hingga senja pun habis di tengah kemacetan.

​Di sisi kanan dan kiri jalan, bangkai kendaraan roda dua dan roda empat terlihat jelas. Ada yang ringsek, terbalik, hingga yang masih terendam lumpur kering. Rumah-rumah yang hancur berdiri tanpa bentuk, menyerupai kerangka yang ditinggalkan pemiliknya tanpa sempat berpamitan.

​Rasa mencekam mencapai puncaknya saat melintasi kawasan pertokoan di Jalan Iskandar Muda. Benar kata banyak orang, tempat itu menyerupai “kota zombi” atau bekas medan perang. Deretan bangunan hancur, kaca-kaca pecah, pintu terlepas, dan sunyi yang terasa begitu menyesakkan. Listrik belum mengalir. Cahaya hanya berasal dari lampu kepala (headlamp) relawan, genset warga, dan petugas yang terus membersihkan puing hingga malam hari. Kegelapan menyelimuti kehancuran.

​Namun, tak jauh dari sana, pemandangan kontras terasa menyakitkan. Jembatan Baru Aceh Tamiang berdiri terang benderang. Lampu warna-warni menyala indah seakan tak tersentuh bencana. Di sisi baratnya, deretan posko utama dan lokasi pengungsian berdiri rapi, menempati titik tertinggi di Aceh Tamiang.

​Merasakan Suasana Tenda dan Kegelapan

Malam itu, perjalanan berlanjut ke Kecamatan Karang Baru. Lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) masih mati, namun tenda-tenda putih dan oranye sudah berdiri di beberapa titik. Sebagian tampak kosong tak berpenghuni. Kabarnya, tenda-tenda itu sudah dipasang beberapa hari sebelum kunjungan Presiden Prabowo. Entah kapan dan oleh siapa tenda itu akan diisi.


​Setibanya di rumah salah satu warga, saya sempat masuk ke sebuah tenda yang berdiri di atas puing fondasi rumah. Kerangka tenda antara satu sisi dan lainnya tampak tidak simetris. Bahkan, tidak ada alas terpal; hanya papan kayu berukuran 4 \times 5 meter yang diletakkan untuk menaruh barang-barang seadanya. Padahal, area di sekitar tenda masih tergenang air sisa banjir.

​Saat itu, sumber cahaya hanya berasal dari genset dan aliran listrik PLN yang mulai masuk ke beberapa rumah di tepi jalan serta posko relawan. Di sela cahaya tersebut, deretan mobil dan motor yang rusak tampak begitu jelas.

​Saya mengira kengerian itu sudah cukup. Namun saya keliru. Justru keesokan paginya, saat matahari terbit dan memperjelas segalanya, bencana itu tampak jauh lebih kejam. Lumpur yang mengering, puing yang belum sempat disingkirkan, dan kesunyian yang tertinggal, semuanya menunjukkan satu hal: Aceh Tamiang tidak sekadar dilanda banjir bandang, ia tengah berjuang untuk bertahan di atas luka yang masih basah.***

Editor : Bayu Saputra
#banda aceh #aceh tamiang #longsor aceh